Sunday, November 21, 2010

Language and Intergroup Communication


Language and Intergroup Communication
Riset mengidentifikasikan bahwa anggota dari suatu etnis tertentu akan lebih mudah membagi bahasa yang dmereka gunakan daripada membagi latar belakang budaya mereka kepada orang lain. (Giles, Taylor, and Bourhis)
Bahasa adalah abstract system yang terdiri dari aturan-aturan (The abstract rules) yakni :
1.      Fonologi adalah bidang dalam linguistik yg menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
2.      Sintaksis adalah (1) pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar; (2) cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat; (3) sub-sistem bahasa yg mencakup hal tersebut.
3.      Semantik ilmu tentang makna kata dan kalimat; pengetahuan mengenai seluk-beluk dan pergeseran arti kata; (2) bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan atau struktur makna suatu wicara.
4.      Pragmatis adalah (1) bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dengan nilai-nilai praktis; (2) mengenai atau bersangkutan dengan pragmatisme.
      (KBBI Online)

The abstract rules diimplementasikan dalam cara bicara, tulisan, dan simbol-simbol yang digunakan dalam bahasa saat pembuatan pesan. Dalam bahasa, ’kata’ yang diucapkan menjadi media dan cara bicara (aksen, logat, nada suara) ikut menjadi simbol-simbol dalam menginterpretasikan suatu pesan.
Dalam intergroup, masing-masing memiliki ethnic speech style.  Contoh sederhana di Indonesia, ketika kelompok dari orang-orang yang berasal dari Bandung, aksen bicaranya akan dipengaruhi oleh budaya dari dalam kelompok tersebut. Contoh di luar negeri adalah, aksen bahasa inggris yang digunakan oleh orang kulit hitam dan orang Prancis dibandingkan dengan orang yang berasal dari Inggris.



A.     Social Psychological Factors
a. Etnolinguistik Identity
Etnolinguistik adalah cabang linguistik yg menyelidiki hubungan antara bahasa dan masyarakat pedesaan / masyarakat yg belum mempunyai tulisan. (KBBI Online)
Individuals perceive themselves as belonging to social groups and recognition of the membership in these groups carries with it a knowledge of the values, positive and negative attached to this group
Giles & Johnson berpendapat bahwa orang, sebelum berkomunikasi biasanya:
1.      Identify with an ingroup that considers language is important
2.      Make insecure comparisons with other ethnic groups
3.      Perceive their group’s ethnolinguistic vitality to be high
4.      Perceive boundaries between their group and other groups to be closed & hard
5.      Do not identify strongly with other social categories
6.      Perceive little categories membership overlaps with the person with whom they are interacting
7.      Do not derive a strong social identity from other social category memberships
8.      Perceive their status to be higher in their ethnic group than in other social category memberships.

b. Stereotype
Stereotypes is a certain generalization reached by individuals. The main function of the process is to simplyfy or systematize, for purposes of cognitive and behavioral adaptation, the abundance and complexity of the information received from its environment by the human organism. Four generalizations that point out that stereotypes provide the context of social categories :
·  stereotypes is the result of cognitive biases stemming from illusory correlations between group membership and psychological attributes
·  stereotypes influence the way information is processed
·  stereotypes create expectancies about others
stereotypes constrain other’s patterns of communication and engender ST-confirming communication
c. Language Attitudes
Penelitian secara luas telah dilakukan mengenai perilaku berbahasa. Penelitian dari Inggris dan Kanada menyebutkan bahwa pemakaian bahasa yang tidak sesuai standar menerima evaluasi lebih rendah pada faktor-faktor seperti kecerdasan dan kepercayaan diri. Lebih dari itu penelitian mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan aksen yang dibuat berdasarkan derajat. Dan perilaku berbahasa juga dipengaruhi oleh stereotipe etnik, kelas sosial, dan situasi di mana bahasa tersebut dipergunakan.
Standarisasi bahasa dan vitalitas bahasa adalah dua faktor besar yang menentukan perilaku berbahasa. Namun kedua hal tersebut tidak cukup untuk menjelaskan proses komunikasinya. Sesuai dengan teori identitas ethnolinguistik, Giles dan Ryan menjelaskan perilaku berbahasa dari anggota grup sebagai fungsi dari situasi di mana suatu bahasa dipergunakan. Dua dimensi yang spesifik (status/solidarity stressing dan person/group centered) digunakan untuk mengevaluasi situasi dan pemilihan bahasa.
Dalam situasi di mana terdapat penekanan solidaritas dan pemusatan terhadap grup lebih dominan, setiap individunya berbeda secara bahasa dari anggota outgrup. Ketika dimensi penekanan status dan pemusatan terhadap seorang lebih menonjol, individual cenderung untuk berkumpul secara linguistik dengan anggota dari outgrup.
Penelitian dari Ryan, Hewstone, dan Giles tahun 1984 meneruskan penelitian pada tahun 1982, untuk mengambil bagian dari dinamika dalam suatu grup yaitu proses sosial atribut, dan representatif kognitif dari kekuatan operasi dalam perkumpulan sosial. Mereka berpendapat bahwa evaluasi dari komunikator adalah sebuah fungsi dari keadaan sosiostruktural, situasi sosial yang terdekat, si pemicara itu sendiri, orang-orang yang melakukan penilaian, dan proses-proses kognitif.
Model perilaku berbahasa dari sebuah grup terbagi dalam 4 pola atau acuan bahasa:
  1. Profil A melibatkan preferensi dalam kedua kelompok untuk kelompok-kelompok dominan. Profil ini dibagi ke dalam (1a) kelompok bawahan untuk kelompok dominan adalah karena "benci diri" dan (1b) kelompok bawahan menghubungkan status mereka untuk “nilai negatif” mereka dalam  keanggotaan kelompok
  2. Profil B melibatkan preferensi untuk kelompok dominan dalam hal status, dan preferensi untuk ingrup dalam hal solidaritas.
  3. Profil C melibatkan situasi dimana terdapat status yang sama antara kelompok dengan preferensi ingroup.
  4. Profil D melibatkan preferensi untuk kelompok dominan dalam hal status, tapi preferensi solidaritas untuk kelompok bawahan.
Masing-masing pola ini mengarah ke sikap bahasa yang berbeda dan terjadi di bawah kondisi yang berbeda.

d. Communication Accomodation
Ada kecenderungan untuk anggota ingroup untuk bereaksi baik terhadap anggota outgroup, yang dalam segi bahasa menyatu ke arah mereka. Namun ini tidak selalu terjadi. Giles dan Byrne menunjukkan bahwa sebagai anggota sebuah outgroup, kita mulai belajar gaya bicara ingroup tersebut. Anggota ingroup akan berbeda dalam beberapa cara, sehingga dapat menjaga kekhasan linguistik mereka. Reaksi terhadap konvergensi pembicaraan anggota outgroup tergantung pada maksud, dan dihubungkan dengan si pembicara itu sendiri. SimakPembicaraan untuk divergensi dan / atau pemeliharaan, dapat digunakan untuk menyatakan identitas positif suatu kelompok.
Nilai-nilai budaya / etnis mempengaruhi sifat akomodasi yang terjadi. Penelitian Bond dan Yang, misalnya, mengungkapkan bahwa di Hongkong terdapat nilai dan budaya Cina yang berlaku. Semakin mereka mempertunjukkan penegasan etnis, maka mereka kurang menampilkan akomodasi antaretnis. Konteks juga mempengaruhi akomodasi. Penelitian di Taiwan menunjukkan bahwa penjual mengakomodasi dengan menggunakan bahasa pelanggan, sedangkan pelanggan di bank mengakomodasi penggunaan bahasa petugas bank. Dengan kata lain, bahasa yang dipakai itu sendiri juga mempengaruhi akomodasi.
Penelitian Genesee dan Bourhis (1982) mempelajari pengaruh norma situasional, status sosiokultural, ingroup favoritisme, dan akomodasi interpersonal dalam evaluasi pertukaran kode. Temuan mereka menunjukkan bahwa kategori sosial dan norma-norma situasional berinteraksi untuk mempengaruhi evaluasi pemilihan bahasa, dan bahwa interaksi ini juga mempengaruhi peran favoritisme ingroup. Mereka berpendapat bahwa evaluasi pertukaran kode salah satu kelompok oleh anggota lain, bahasa yang dipilih pada awalnya didasarkan pada norma dan situasi yang berlaku, dan juga didasarkan pada akomodasi bahasa interpersonal, kemudian menyatu dalam percakapan. Satu penjelasan yang masuk akal adalah bahwa individu mulai kurang melihat orang lain, dalam hal menjadi anggota sebuah kategori sosial, dan lebih sebagai individu yang berbeda.
Bourhis pada tahun 1985 meneruskan penelitiannya, (dahulu bersama Genesee pada tahun 1982) menganalisis dalam upaya untuk mengintegrasikan pendekatan akomodasi sosiolinguistik dan pidato untuk pertukaran kode. Dia memeriksa komunikasi pelanggan-petugas antara Anglophones Quebec dan Francophoes. Penelitiannya mengungkapkan bahwa evaluasi pendengar terhadap dialog tergantung pada interaksi dinamis dari faktor termasuk norma situasional, status bahasa, akomodasi interpersonal dan ingroup favoritisme.
Data-data Bourhis mengindikasikan bahwa situasi berikut adalah strategi paling aman di awal pertemuan negara, antarkelompok bermusuhan. Tetapi strategi normatif yang diterapkan dalam tahap awal, kemudian tergantung pada tujuan komunikator itu sendiri. Keinginan untuk menegaskan identitas kelompok, dan tanggapan afektif mereka satu sama lain. Namun pilihan awal mempengaruhi pilihan dalam percakapan yang berlangsung. Bourhis menguraikan penelitian untuk memperluas baris ini, yaitu pekerjaan yang harus menggunakan bahasa atasan-bawahan dalam pemerintah Kanada.
Pernyataan Giles, Mulac, Bradac, dan Johnson (1986) menerapkan teori akomodasi, diperluas untuk komunikasi yang lebih umum. Giles dan rekan-rekannya (1986) berpendapat bahwa konvergensi komunikasi adalah fungsi dari keinginan pembicara untuk persetujuan sosial, untuk efisiensi komunikasi yang tinggi, untuk presentasi diri atau kelompok bersama, dan untuk definisi identitas yang sesuai. Prasyarat untuk konvergensi komunikasi juga memerlukan persaingan antara tampilan komunikator, gaya pidato komunikan, dan pidato aktual yang digunakan, pidato yang dihargai dalam situasi tersebut, dan bahwa gaya bicara tertentu yang digunakan harus sesuai bagi kedua pembicara. Sebaliknya, keinginan komunikator berfungsi untuk menggambarkan "kontrastif" diri, yaitu untuk memisahkan diri dari komunikan, untuk mengubah perilaku pidato komunikan, dan untuk menentukan pertemuan dalam hal antargolongan. Penyimpangan lebih lanjut terjadi ketika komunikan menggunakan gaya pidato yang menyimpang dari norma yang dihargai dan konsisten dengan harapan komunikator mengenai kinerja komunikan.

B. Sosiolinguistic Factors
Menurut kamus besar bahasa Indonesia Sosiolinguistik adalah :
(1)         ilmu tata bahasa yg digunakan di dl interaksi sosial
(2)         cabang linguistik mengenai hubungan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial.
Faktor sosialinguistik memberikan pengaruh kepada grup-grup tertentu dalam menggunakan identitasnya yakni bahasa. Bahasa dijadikan alat untuk berkomunikasi dan mempertahankan identitas suatu grup tertentu.
Berikut pembahasan sosiolinguistic factors :
  1. Group Vitality
Ada dua tipe Group Vitality yakni objektif dan subjektif. Objektif  bagaimana anggota grup melihat posisi grup mereka sendiri, sedangkan subjektif adalah bagaimana posisi grup tersebut berdasarkan keikutsertaan dalam kegiatan yang dilakukan. Contoh, PBB sebagai lembaga perserikatan bangsa-bangsa.
Misalnya dalam Universal Declaration of Human Right (UDHR) dalam sosialisasinya keikutsertaan masyarakat dunia, hasil dari deklarasi tersebut diterjemahkan ke dalam 375 bahasa.
The UDHR and its core values, inherent human dignity, non-discrimination, equality, fairness and universality, apply to everyone, everywhere and always
Tiga hal yang memengaruhi ethnolinguistic vitality yakni : status, demographic, institutional support.
Status dalam hal ini merupakan prestige dari bahasa yang digunakan oleh kelompok tersebut, misalnya dalam penggunakan bahasa Jawa untuk kata ’siapa’ yakni sinten dan sopo memiliki makna yang sama tapi menunjukkan perbedaan dalam hal tingkatan kesopanan berbicara. Demografi menyangkut negara dari kelompok tersebut dan institutional support menyangkut penggunaan bahasa.
b.      Speech Norms
Menurut McKirnan and Hamayan (1984) proposed a general social psychological model of social norms. ”The factors in their model include the ’content’ of the speech norm, the ’clarity’ of the expectancies associated with it, and ’evaluate’ (positive or negative) strength of the norm.”
Kelompok etnosentris (anggapan bahwa kelompok atau negaranya paling unggul) memiliki kecenderungan berkomunikasi dengan orang dari luar grup sedikit dibandingan dengan orang non etnosentris.  Meski begitu, salah satu cara untuk mendekatkan atau membuat komunikasi lancar adalah dengan speech norm tersebut.
Contoh : etnosentris masyarakat golongan tua di Jepang yang masih trauma dengan perang dunia II, enggan menggunakan produk luar negeri terutama dari Amerika dan Jerman.
Contoh lain dalam sidang tahunan Majelis Umum PBB pidato Presiden Iran Ahmadinejad.
Dalam pidatonya, Ahmadinejad juga mengusulkan agar PBB melakukan penyelidikan independen atas serangan teroris 11 September 2001. Sehingga di masa mendatang, sah-sah saja untuk mengungkapkan pandangan mengenai peristiwa itu. Ahmadinejad mencetuskan ada sejumlah juga teori mengenai apa yang terjadi pada 11 September 2001. Salah satu teori, menurut Ahmadinejad, adalah sebuah kelompok teroris melakukan serangan itu dan pemerintah AS memanfaatkannya untuk melancarkan perang di Timur Tengah. Teori lainnya, pemerintah AS mendalangi serangan itu untuk menyelamatkan rezim Zionis.
Ironisnya, sebelum pidato Ahmadinejad, Presiden AS Barack Obama menyampaikan pidato yang bernada konsiliasi terhadap Iran. Dalam pidatonya di sidang tahunan PBB itu, Obama mengatakan, negara-negara besar tetap menginginkan dialog dengan Teheran soal program nuklirnya. Namun hanya beberapa jam kemudian, Ahmadinejad justru membalas pidato Obama itu dengan kata-kata yang menimbulkan kekesalan AS. (detikcom/f)

c.       Second - Language Competence
Bahasa yang menjadi identitas suatu grup tertentu menjadi bahasa utama sedangkan bahasa kedua merupakan bahasa di luar grup yang bukan merupakan bahasa ibu yang diajarkan sejak kecil.
Second Language dapat menjadi simbol kekuasaan dari otoritas tertentu, baik secara ekonomi, kebebasan bernegara, maupun kehidupan sosial.
Contoh : Aljazair – Perancis, Brazil & Filipina – Portugis
d.      Code Switching
Etnolinguistik menjadi identitas dari suatu grup atau kelompok, dalam suatu penelitian yang dilakukan San Antonio (1987) tentang identitas etnolinguistik dalam intergrup communication dalam perusahaan Amerika yang dididrikan di Jepang. Berbicara menggunakan bahasa Jepang sangat erat dengan identitas etnolinguistik. Meskipun aturan penggunaan bahasa inggris sangat ketat, namun penggunaan bahasa jepang merupakan identitas tersendiri dari kelompok tersebut.

C.     Conclusion
Bahasa menjadi bahasan dalam intercultural communications. Hal-hal yang dibahas mengenai etnolinguistik dan sosiolinguistik sangat berkaitan dan berguna dalam riset intercultural communication. Kenapa demikian? Karena masing-masing kelompok memiliki bahasa dan aturan tersendiri yang dikomunikasikan baik di dalam kelompok maupun ke luar kelompok tersebut.
Dalam intercultiral communication, penggunaan bahasa sangat mendukung dan penting guna mendalami dan memahami ’kepentingan-kepentingan’ yang ingin dicapai. Dalam komunikasi internasioanal, penggunaan bahasa sangat penting untuk menyampaikan maksud dan tujuan agar dapat mencapai kesepakatan. Contoh adalah penggunaan bahasa inggris sebagai bahasa internasional.




No comments:

Post a Comment