Saturday, June 20, 2009

UAS Semester 4

1.    Anda diminta untuk mengamati dan mengobservasi pola-pola komunikasi antar pribadi (sesama-karyawan, sesama mahasiswa, dosen-mahasiswa, pimpinan karyawan) di UMN. Kemudian anda analisis bagaimana pola-pola komunikasi yang terjadi di UMN dan kaitkan dengan budaya.

Mahasiswa-mahasiswa UMN berasal dari berbagai daerah di seluruh Infonesia dan memiliki latar budaya yang berbeda, masing-masing dari individu membawa budaya mereka saat mereka memasuki kampus baru UMN. Mereka kembali belajar beradaptasi dengan lingkungan fisik serta budaya yang ada di UMN. Dalam masa adapatasi tersebut masing-masing individu akan mulai saling berinteraksi dan menunjukkan eksistensi dirinya. Saling bertukar nama dan nomor telepon untuk menjalin pertemanan.

 

Umumnya yang terjadi adalah, masing-masing mahaiswa ahanya tertarik pada sesama mahasiswa yang memilki budaya yang sama dengan dia atau paling tidak mirip dengan budayanya. Hal ini dikarenakan perbedaan cara bicara, sikap, budaya, motivasi dan beberapa hal lain yang menghambat adanya komunikasi.

 

Masing-masing individu enggan membuka diri dengan orang yang menurut persepsinya bukanlah orang yang menyenangkan. Sebutlah, mahasiswa yang berasal dari jawa akan berteman dengan yang berasal dari jawa pula, lalu mahasiswa yang berketurunan china akan berteman dengan yang china saja. hal ini dipengaruhi budaya dan kebiasaan beriteraksi dengan orang yang memiliki bduaya sama dengan mereka, sehingga untuk menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengan orang yang budayanya berbeda dengannya agak sulit.

 

Pola komunikasi yang saya amati dari mahasiswa-mahasiswi Umn yaitu bersifat transaksional.Dalam konteks ini komunikasi adalah suatu proses personal karena makna atau pemahaman yang kita peroleh pada dasarnya bersifat pribadi. Kelebihan koseptualisasi komunikasi sebagai transaksi adalah bahwa komunikasi tersebut tidak membatasi kita pada komunikasi tersebut tidak membatasi kita pada komunikasi yang disengaja atau respons yang dapat diamati. Artinya komunikasi terjadi apakah para pelakunya menyengajanya atau tidak, dan bahkan meskipun menghasilkan respons yang tidak dapat diamati.


Komunikasi sebagai transaksi 
Ketika anda mendengarkan seseorang yang berbicara, sebenarnya pada saat itu bisa saja anda pun mengirimkan pesan secara nonver¬bal (isyarat tangan, ekspresi wajah, nada suara, dan sebagainya) kepada pembicara tadi. Anda menafsirkan bukan hanya kata-kata pembicara tadi, juga perilaku nonverbalnya. Dua orang atau bebe¬rapa orang yang berkomunikasi, saling bertanya, berkomentar, me¬nyela, mengangguk, menggeleng, mendehem, mengangkat bahu, memberi isyarat dengan tangan, tersenyum, tertawa, menatap, dan sebagainya, sehingga proses penyandian (encoding) dan penyandian-balik (decoding) bersifat spontan dan simultan di antara orang¬ orang yang terlibat dalam komunikasi. Semakin banyak orang yang berkomunikasi, semakin rumit transaksi komunikasi yang terjadi. Bila empat orang peserta terlibat dalam komunikasi, akan terdapat lebih banyak peran, hubungan yang lebih rumit, dan lebih banyak pesan verbal dan nonverbal. 


Dalam konteks ini komunikasi adalah suatu proses personal karena makna atau pemahaman yang kita peroleh pada dasarnya bersifat pribadi. Penafsiran anda atas perilaku verbal dan nonverbal orang lain yang anda kemukakan kepadanya juga mengubah penaf¬siran orang lain tersebut atas pesan-pesan anda, dan pada giliran¬nya, mengubah penafsiran anda atas pesan-pesannya, begitu sete¬rusnya. Menggunakan pandangan ini, tampak bahwa komunikasi bersifat dinamis. Pandangan inilah yang disebut komunikasi sebagai transaksi, yang lebih sesuai untuk komunikasi tatap muka yang mungkinkan pesan atau respons verbal dan nonverbal bisa di¬ketahui secara langsung. 


Kelebihan konseptualisasi komunikasi sebagai transaksi adalah bahwa komunikasi tersebut tidak membatasi kita pada komunikasi yang disengaja atau respons yang dapat diamati. Artinya, komunikasi terjadi apakah para pelakunya menyengajanya atau tidak, dan bahkan meskipun menghasilkan respons yang tidak dapat diamati. Berdiam diri, mengabaikan orang lain di sekitar, bahkan meninggalkan ruangan, semuanya bentuk-bentuk komunikasi, semuanya mengi¬rimkan sejenis pesan. Gaya pakaian dan rambut anda, ekspresi wajah anda, jarak fisik antara anda dengan orang lain, nada suara anda, kata-kata yang anda gunakan, semua itu mengkomunikasikan sikap, kebutuhan, perasaan dan penilaian anda.Dalam komunikasi transaksional, komunikasi dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal maupun perilaku nonverbalnya. Beberapa definisi yang sesuai dengan pemahaman ini adalah, antara lain: 
John. R. Wenburg dan William W. Wilmot: 
“Komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh makna” 
Donald Byker dan Loren J Andersou: 
"Komunikasi (manusia) adalah berbagi informasi antara dua orang atau lebih." 
William l. Gorden: 
"Komunikasi secara ringkas dapat didefinisikan sebagai suatu transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan." 
Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson: 
“Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna." 
Stervart L. Tubbs dan Sylvia Moss: 
“Komunikasi adalah proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih." 
Klasifikasi Komunikasi 

 

1.    Menurut anda apakah ada faktor-faktor penghambat dalam komunikasi antar pribadi (diantara sesama-karyawan, sesama mahasiswa, dosen-mahasiswa, pimpinan karyawan). Sebutkan faktor-faktor tersebut dan berikan penjelasannya.

Faktor penghambat dalam komunikasi antar pribadi dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya serta pengalaman masing-masing individu. Tidak mudah bagi seseorang untuk membuka dirinya kepada orag lain, mengenai apa yang dia rasakan, hal ini dipengaruhi oleh keadaan fisik. Waktu juga menentukan bagaimana seseorang dapat bertindak sesuai dengan apa yang dipersepsikannya. Beberapa individu ada yang memiliki kecenderungan untuk tidka bisa mengungkapkan diri mereka karena butuh waktu yang lama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau lawan bicaranya.

 

Selain itu, adanya pengalaman masa lalu dari maisng-masing individu sehingga membuat stereotype pada orang yang memiki budaya tertentu. Misalnya saja, kita pernah bertemu dengan seorang kyai yang memiliki kebiasaan menikah dengan lebih sari satu istri. Kemudian kita menyaksikan acara yang berisi tentang hal yang sama. Mau tidak mau, kita akan memiliki persepsi bahwa kyai itu memang memiliki istri yang banyak. Sama halnya dengan para mahasiswa UMN yang ternyata melabeli individu lain yang berbeda budaya dengannya, hal ini dikarenakan adanya stereotype. Saya sendiri, pernah ditanyai apakah benar orang muslim tidak boleh berteman dengan orang non muslim dan kenapa orang musim membenci orang yang non muslim. Lalu saya bertanya, siapa yang bilang begitu? Dan ternyata hal itu, mereka persepsi dari siaran media yang memunculkan berbagai pertentangan dari kaum muslim yang bergaris keras. Saya sendiri tidak membatasi diri saya untuk berteman dan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Mungkin pada awalnya sebagai kaum minoritas UMN saya dianggap agak berbeda karena keyakinan saya, namun itu semua diakibatkan oleh stereotype, jika saya membuka diri individu lain disekitar saya pun akan menerima saya. Tidak berbeda jauh dengan pengalaman saya sendiri, saya melihat bahwa mahasiswa UMN terlanjur melabeli orang lain sesuai dengan budaya yang dianutnya sehingga membuatnya sulit menerima perbedaan.

 

Selanjutnya adalah bahasa, berbedanya budaya antar mahasiswa membuat masing-masing individu tentu memilki bahasa dan aksen bicara yang berbeda pula. Terkadang perbedaan budaya ini menjadi sulit dipahami karena kurangnya penguasaan antara budaya individu satu dan lainnya. Saya pernah melihat mahasiswa yang merasa diejek karena adanyakurang pemahaman akan bahasa. A adalah seorang mahasiswa berketurunan jawa, sehingga terkadang menggunakan bahasa jawa, lalu B juga merupakan keturunan jawa pula hanya terlalu lama tinggal di Jakarta dan tidak mengerti bahasa jawa. Saya petik beberapa percakapan mereka.

B     : A, tolong tuangin air ke gelas gue dong.

A    : Apa? Disori?

B     : Kok lo nggak mau sih? Malah nyolot.

A hanya terbengong tidak mengerti kenapa B menjadi merasa A meledeknya, padahal A hanya bertanya untuk memastikan. Setelah A bertanya ke B ternyata B mendengar ‘disori(tuang)’ seperti mendengar ‘Dih Sorry’ jadi B merasa diejek. Hal-hal sederhana seperti ini secara tidak sadar dapat menimbulkan kekesalan dan menjadi hambatan dalam berkomunikasi.

 

2.    Jelaskan mana faktor-faktor penghambat dalam komunikasi yang dapat menimbulkan potensial konflik? Mengapa?

Hambatan-hambatan tersebut adalah (Chaney & Martin, 2004, p. 11 – 12):
1. Fisik (Physical)
Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik. Setiap orang memiliki latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda. Tumbuh besar dalam lingkungan yang berbeda-beda, seorang anak perempuan dalam keluarga yang dan memiliki kakak laki-laki pasti akan berbeda dengan anak perempuan yang memiliki adik. Anak perempuan pertama pasti akan lebih manja dan anak perempuan yang kedua memiliki sikap yang lebih dewasa larena dia terbiasa hidup dengan seorang yang harus diurusnya.
2. Budaya (Cultural)
Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya. Masing-masing individu berasal dari budaya yang berbeda-beda, umumnya mereka yang berasal dari budaya yang sam akan lebih mudah menjalin hubungan dan memahami satu sama lain. Namun akan lebih sulit berkomunikasi dengan orang dengan latar budaya yang berbeda karen muncul hambatan-hambatan berupa bahasa, persepsi dan juga kebiasaan yang sama sekali berbeda.
3. Persepsi (Perceptual)
Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. Kita menginterpretasikan sesuatu masalah sesuai dengan apa yang kita lihat dan kita ketahui. Memiliki persepsi yang berbeda dapat menimbulkan konflik karena perbedaan budaya membuat kita berfikir tentang apa yang baik dan tidak baik menurut kita. Contohnya seperti, konflik  suku madura. Kebiasaan membawa parang merupakan hal yang biasa dan dianggap kebanggaan, namun sebagian budaya menganggap hal itu merupakan hal yang tidak sopan dna melanggar budaya lain. Hal tersebut menimbulkan persepsi yang memancing konflik.
4. Motivasi (Motivational)
Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.
5. Pengalaman (Experiantial)
Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu. Individu akan menstereotypekan seseorang karena pengalamannya  tentang budaya orang tadi berasala lalu mengeneralisasikannya. Seperti orang jawa yang bertemu dengan orang batak, lalu mempersepsikan bahwa orang batak itu galak dan keras. Kesempatan berikutnya dia bertemu dengan orang  yang memiliki budaya batak, dia akan mulai melabeli bahwa setiap orang adalah galak dan keras sifatnya.
6. Emosi (Emotional)
Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
7. Bahasa (Linguistic)
Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.
8. Nonverbal
Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan (receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan.
9. Kompetisi (Competition)
Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua) kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal.

 

3.    Carilah sebiah konflik khususnya dalam konteks hubungan antar pribadi (boleh pengalaman pribadi). Uraikan dan analisis konflik tersebut, berikan solusi dalam mengatasi konflik berdasarkan management konflik yang sudah anda pelajari dan kaitkan dengan konteks budaya.

Konflik telah didefinisikan sejauh ini dengan berbagai cara. Kadang-kadang digambarkan sebagai perilaku kompetitif (bersaing) atau agresif. Konflik sering dikatakan melibatkan persepsi interpersonal dan perasaan permusuhan. Menurut Deutsch (1971;1980), konflik adalah mekanisme psikologis dasar yang  berpusat disekitar tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Konflik hadir kapan saja ketika satu perangkat tujuan, kebutuhan, atau minat tidak sesuai dengan perangkat yang lain. Dengan definisi ini, kita terhindar dari masalah konflik yang membingungkan dengan metode pemecahannya, dan kita mengakui bahwa outcome yang dihasilkannya dapat negatif maupun positif.Meskipun pandangan para pemikir pada awalnya adalah bahwa konflik merupakan hal yang tidak diinginkan, kehidupan kita sekarang ini menunjukkan bahwa kita justru secara aktif mencari konflik. Apakah ini tidak berarti kita adalah seorang yang Masochistik? Boleh jadi ini berarti bahwa konflik tidak selalu bersifat destruktif (merusak) dan tidak nyaman.

 

Kebanyakan orang diantara kita menghargai aktifitas yang melibatkan konflik, dari permainan-permainan kompetitif sampai debat dan diskusi yang bersifat intelektual. Kita telah melembagakan konflik dalam bisnis, politik, dan olah raga. Konflik adalah merangsang, membangkitkan, dan menggairahkan; dan ia memiliki outcome yang positif.

 

Konflik dapat digunakan untuk memberi kekuatan tindakan fisik pada kerja. Ia memberikan suatu saluran untuk pemecahan masalah dan membentuk dasar dari perubahan sosial. Konflik juga memiliki outcome negatif. Tujuan yang tidak dicapai, komunikasi tertutup, dan sikap-sikap permusuhan dapat dihasilkan. Konflik dalam suatu kelompok kerja dapat mengganggu atau bahkan membantu kelompok itu sendiri, tergantung pada sifat dari pekerjaan. Ketika kelompok mengerjakan tugas-tugas yang rutin, konflik yang berhubungan dengan tugas mungkin berpengaruh bagi para anggota kelompok untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ketika kelompok mengerjakan suatu tugas yang lebih sulit, seperti membuat keputusan, konflik tentang tugas tersebut dapat benar-benar menolong kelompok itu untuk berhasil (Jehn, 1995).Konflik dapat muncul dalam berbagai tingkatan di dalam organisasi. Bisa saja bersifat intrapersonal atau muncul dalam diri individu, seperti misalnya seseorang yang harus memilih satu di antara dua pilihan, yang sama-sama besar pengaruhnya bagi dirinya. Pada level lainnya, konflik dapat bersifat interpersonal atau antar individu. Jika konflik interpersonal ini terjadi di dalam kelompok, maka konflik ini dapat juga disebut konflikintragrup. Ketika satu kelompok tidak bersepakat dengan kelompok lainnya, konflik intergroup atau intraorganizational  dihasilkan. Tentu saja, organisasi sering berada dalam situasi konflik dengan organisasi lainnya, maka terbentuklah konflik interorganizational.

Solusi untuk memecahkan konflik adalah :

q  Menghindar

Menghindari konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan ditimbulkannya. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri. Manajer perawat yang terlibat didalam konflik dapat menepiskan isu dengan mengatakan “Biarlah kedua pihak mengambil waktu untuk memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk melakukan diskusi”

q  Mengakomodasi

Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya  apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan  pada mereka untuk  membuat keputusan. Perawat yang menjadi bagian dalam konflik dapat mengakomodasikan pihak lain dengan menempatkan kebutuhan pihak lain di tempat yang pertama.

q  Kompetisi

Gunakan metode ini jika anda percaya bahwa anda memiliki lebih banyak informasi dan keahlian yang lebih dibanding yang lainnya atau ketika anda tidak ingin mengkompromikan nilai-nilai anda. Metode ini mungkin bisa memicu konflik tetapi bisa jadi merupakan metode yang penting untuk alasan-alasan keamanan.

q  Kompromi atau Negosiasi

Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan  kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.

q  Memecahkan Masalah atau Kolaborasi  

-        Pemecahan sama-sama   menang  dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama.

-        Perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan  saling memperhatikan satu sama lainnya.

Ada banyak cara mengelola keragaman.  Di tingkat personal, hal ini antara lain dapat dilakukan dengan:

ü  mendekonstruksi stereotip dan prasangka terhadap identitas lain

ü  mengenal dan berteman dengan sebanyak mungkin orang dengan identitas yang berbeda – bukan sebatas kenal nama dan wajah, tetapi mengenali latar belakang, karakter, ekspektasi, dll, makan bersama, saling berkunjung, dll

ü  mengembangkan ikatan-ikatan (pertemanan, bisnis, organisasi, asosiasi, dll) yang bersifat inklusif dan lintas identitas, bukan yang bersifat eksklusif

ü  mempelajari ritual dan falsafah identitas lain

ü  mengembangkan empati terhadap identitas yang berbeda

ü  menolak berpartisipasi dalam prilaku-prilaku yang diskriminatif

 

4.    Anda tentunya pernah menjalin hubungan antarpribadi dengan teman, pacar ataupun orangtua. Cobalah anda analisis kembali proses pengembangan hubungan yang terjadi dan kaitkan dengan salah satu teori pengembangan hubungan yang anda ketahui dan sesuai dengan pola pengembangan hubungan yang anda alami.

Hubungan antarpribadi memainkan peranan penting dalam membentuk kehidupan kita. Kita tergantung kepada orang lain dalam perasaan, pemahaman informasi, dukungan dan berbagai bentuk komunikasi yang mempengaruhi citra diri kita dan membantu kita mengenali harapan-harapan orang lain. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa hubungan antar pribadi membuat kehidupan menjadi lebih berarti. Sebaliknya hubungan yang buruk bahkan dapat membawa efek negatif bagi kesehatan. Seperti yang ditemukan oleh Patel (Reardon; 1987; 159) bahwa hubungan antar pribadi dalam keluarga dan tempat kerja yang penuh stress dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk hipertensi. Sebaliknya pasangan suami istri yang saling mencintai dan mereka yang memiliki jaringan teman yang menyenangkan cenderung terhindar dari hipertensi.

 

Beberapa penelitian menyatakan bahwa semakin bertambahnya usia seseorang, semakin lama juga mobilitas serta berkurangnya interaksi dengan sekitarnya dikarenakan menurunnya tingkat kesehatan. Selain itu, waita juga saat menjalin hubungan antarpribadi mereka tidak hanya berbicara namun ‘bicara’ yang lebih personal dan memiliki kecnderungan membuka diri dengan orang lain. Kita tidak akan heran bila kita mendengar teman wanita mengajak kita yang sesama wanita untuk prgi ke toilet, namun kita akan merasa heran apabila ada teman laki-laki kita yang mengajak pergi ke toilet bersama dengan teman laki-laki lainnya. Wanita lebih mudah mengungkapkan self disclosurenya dibanding dengan laki-laki.

 

Salah satu karakteristik penting dalam hubungan antarpribadi adalah bahwa hubungan tersebut banyak yang tidak diciptakan atau diakhiri berdasarkan kemauan/kesadaran kita. Kita tidka bisa keluar dari sutu hubungan yang kita jalin tanpa mengorbankan sesuatu yang kita kerjakan, yang kita inginkan, misalnya A terpaksa memutuskan hubungan B karena A akan melanjutkan sekolah ke luar negeri. A merasa hubungan long distance akan jauh lebih sulit daripada terus bersama tanpa bisa saling dekat satu sama lain.

 

Memiliki kepribadian yang ambivert membuat saya sulit membuka diri saya kepada orang lain meskipun kami sudah lama saling mengenal. Saya mengenali bagaimana konsep diri saya sendiri apakah saya seorang yang pendiam ataukah saya adalah orang yang sangat cerewet. Saya berada dikeduanya. Self disclosure kepada orang lain bukanlah hal yang mudah bagi saya namun juga tidak sulit. Saya akan mengungkapkan hal-hal yang menurut saya memang boleh diungkapakan namun juga saya dapat memilha mana yang akan saya simpan sendiri.

 

Pengungkapan diri ini hanya saya lakukan kepada orang-orang terdekat saya yang memang telah mengenal diri saya, pengungkapan anatar saya dan sahabat saya cukup terbuka dan hubungan antar pribadi kami cukup baik, kami telah menjalin hubungan sejak SMP dan sampai saat ini saya masih memeilki beberapa hal yang tidak saya ungkapkan. Menurut self disclosure, apabila dalam komunikasi antarpribadi masing-masing tidak membuka diri maka hubungan itu tidka ideal. Namun bagi saya, tidak selalu begitu, bukankah dalam diri seseorang memiliki empat sisi yang mungkin saja tidak bisa diungkap kepada orang lain, seperti JoHari Window.

 

Self disclosure. Self disclosure atau proses pengungkapan diri yang telah lama menjadi focus penelitian dan teori komunikasi mengenai hubungan, merupakan proses mengungkapkan informasi pribadi kita kepada orang lain dan sebaliknya. Sidney Jourard (1971) menandai sehat atau tidaknya komunikasi antar pribadi dengan melihat keterbukaan yang terjadi dalam komunikasi. Mengungkapkan yang sebenarnya mengenai diri kita kepada orang lain yang juga bersedia mengungkapkan yang sebenarnya tentang dirinya, dipandang sebagai ukuran dari hubungan yang ideal.

 

Ahli lain Joseph Luft (Reardon; 1987;163) mengemukakan teori self disclosure yang didasarkan pada model interaksi manusia, yang disebut Johari Window. Menurut Luft, orang memiliki atribut yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri, hanya diketahui oleh orang lain, diketahui oleh dirinya sendiri dan orang lain dan tidak diketahu oleh siapapun. Jenis-jenis pengetahuan ini menunjuk pada keempat kuadran dari Johari Window. Idealnya, kuadran satu yang mencerminkan keterbukaan akan semakin membesar/meningkat.Jika komunikasi antara dua orang berlangsung dengan baik, maka akan terjadi disclosure yang mendorong informasi mengenai diri masing-masing kedalam kuadran “terbuka”. Kuadaran 4 sulit untuk diketahui, tetapi mungkin dapat dicapai melalui kegiatan seperti refleksi diri dan mimpi. Meskipun self-disclosure mendorong adanya keterbukaan, namun keterbukaan sendiri ada batasnya. Artinya perlu kita pertimbangkan kembali apakah menceritakan segala sesuatu tentang diri kita kepada orang lain akan menghasilkan efek positif bagi diri kita dengan orang tersebut. Beberapa penelitian menunjukan bahwa keterbukaan yang ekstrim akan memberikan efek negatif bagi hubungan.

 

Membuka diri dalam suatu hubungan bukan berarti membuka secara terang-terangan dan mengumbar informasi tentang diri kita kepada orang lain. Dengan komunikasi kita belajar untuk memahami konsep diri orang lain dan bukan mengungkapkan tentang diri kita secara terang-terangan untuk mendapat perhatian.

 

Teori pengembangan hubungan yang saya gunakan adalah Attraction Theory. Kita membangun hubungan dengan orang lain dikarenakan orang tersebut secara fisik dekat dengan kita dan secara konsep dirinya merupakan pribadi yang cocok dengan kita. Biasanya memiliki level pendidikan dan socioeconomic yang sama dengan kita.

 

Saya mengembangkan hubungan persahabatan saya karena saya merasa teman saya memiliki kepribadian yang baik dan kami sama-sama menjalani pendidikan yang hampir mirip satu sama lain. Kami memiliki kedekatan karena kami berasal dari budaya yang sama, yaitu budaya jawa. Kami sama-sama dibesarkan dengan budaya jawa dan juga menguasai bahasanya dengan baik. Mudah bagi kami untuk emnjadi dekat kami memiliki katar belakang lingkungan keluarga yang hampir sama.


 

Daftar Pustaka

 

Handout Interpersonal Communication

http://www.um-pwr.ac.id/web/artikel/317-manajemen-konflik-sebagai-upaya-meningkatkan-kinerja.html

http://oktifauzi.multiply.com/reviews/item/2

http://apadefinisinya.blogspot.com/2007/12/komunikasi.html

Komunikasi Suatu Pengantar, Deddy Mulyana.

Handout Psikologi Komunikasi

 

 

No comments:

Post a Comment