Monday, June 14, 2010

Take Home Test UAS PR Case Semester 6

44       I.            Environmental Issues in Public Relations

A Matter of Credibility

Sinar Mas VS Green Peace

  Latar Belakang

Dalam pembahasan Paper ini, saya mengambil contoh kasus yang ada di Indonesia yakni Sinar Mas dan Green Peace untuk melihat aplikasinya jika dianalisis menurut tujuh taktik menghadapi environmental issues, mengingat contoh dalam paper kurang lebih yang terjadi di Amerika.

 Isu penghancuran hutan yang dilakukan oleh  suplier minyak kelapa sawit PT Sinar Mas menimbulkan polemik yang di kalangan masyarakat,khususnya bagi para aktivis lingkungan. Mengamati pemberitaan di media elektronik dan blog, kebanyakan menulis tentang pelanggaran lingkungan yang dilakukan oleh suplier minyak kelapa sawit PT Sinar Mas. Pemberitaan ini menimbulkan munculnya gerakan pemboikotan produk-produk dari perusahaan yang menjalin kerjasama dengan suplier minyak kelapa sawit PT Sinar Mas, salah satunya Nestle.

Dari pemberitaan isu penghancuran oleh suplier minyak kelapa sawit PT Sinar Mas sebenarnya telah dimulai sejak tanggal 20 Maret, namun saya mencoba mengamati sejak tanggal 25maret hingga 28 maret 2010. Pemberitaan pada tanggal 25 Maret hingga 28 Maret yang ditulis di beberapa media elektronik dan blog kesemuanya memberikan nilai negatif bagi suplier minyak kelapa sawit PT Sinar Mas. Inti dari pemberitaan tersebut adalah agar masyarakat tidak menggunakan produk Nestle, yang notabene bekerja sama dengan PT Sinar Mas. Meskipun sebenarnya kontrak kerjasama antara Nestle dan PT Sinar Mas telah diputus secara sepihak dan tidak diperpanjang. Namun begitu, hal ini tidak menyurutkan keinginan para aktivis Green Peace untuk mendorong masyarakat agar tidak menggunakan produk Nestle.

Jika dilihat lagi, tindakan Green Peace ini tidak hanya berkibat pada citra PT Sinar Mas, namun juga perusahaan yang bekerja sama dengan suplier minyak kelapa sawit tersebut. Imbasnya, masyarakat dan beberapa blogger menganggap bahwa isu penghancuran hutan yang dilakukan oleh PT Sinar Mas didukung juga oleh perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak perusahaan memutuskan kontrak dengan PT Sinar Mas, salah satunya perusahaan multinasional Unilever. Meski demikian, Sinar Mas sepertinya sudah sadar mengenai kemungkinan isu lingkungan terkait emisi gas kaca dapat memengaruhi core bisnisnya dan gangguan dari LSM lingkungan Green Peace. Dengan sigap Sinar Mas kembali membuat kampanye Earth Hour guna menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan.

Dari analisis yang saya coba lakukan, ada tujuh taktik menghadapi isu lingkungan, satu diantaranya uakni Crisis Plan, menurut pendapat saya, agak telat dilakukan Sinar Mas, meksipun pada akhirnya Sinar Mas mendapat dukungan dari Media dan Elit. Karena walau bagaimana pun tindakan Green Peace yang menggemborkan tentang pengerusakan lingkungan hanya dilakukan di Negara berkembang yang memiliki potensi sebagai paru-paru dunia. Kasarnya, sebut saja negara Amerika kok yang pertama menghasilkan emisi besar saat terjadi revolusi industry, sedangkan Indonesia baru beberapa tahun ini, mengapa Negara kami yang bertanggung jawab untuk sesuatu yang tidak kami lakukan? Toh, selama ini industry kami memiliki tingkat keamanan yang memang sudah sesuai standard dan prosedur. Kutip saya, dari salah satu perkataan dosen ilmu komunikasi yang kebetulan pernah berhubungan dengan Sinar Mas.

Belum lagi masalah Carbon Trading, dunia internasinal mewanti agar Indonesia merawat hutan dengan baik, namun begitu biaya trading yang diberikan ke Indonesia dan Brazil berbeda jauh. Harga karbon di Indonesia yang ditawar negara-negara maju saat ini adalah 3 dollar per Hektar/ton/tahun, sedangkan hutan di Brazil dihargai 12 dollar.

 

    II.            Landasan Teori

A.     The Development of Environmental Public Relations

Environmental Issues dapat memberikan dampak bagi korporasi atau perusahaan. Permasalahan Public Relations (PR) mengenai lingkungan baik yang telah terjadi atau terandam terjadi menimpa perusahaan akan memakan biaya yang sangat besar.

Dalam kemajuan teknologi sekarang ini, managing environmental profiles and relationship telah menjadi bagian dari tindakan-tindakan corporate communication.

Environmental Public Relations (EPR) meruapakan tindakan management atau lebih tepatnya dalam beberapa tahun ini, setelah muncul permasalahan yang berkaitan dengan isu lingkungan yang berpotensi mengancam reputasi perusahaan serta dampak biaya yang mungkin keluar. Itulah mengapa mengatur tindakan EPR sebagai fungsi manajemen merupakan hal yang sangat penting.

Di Amerika, hamper sekitar 80% orang menempatkan diri mereka sebagai environmentalist. Ada sekitar 150 LSM lingkungan dengan 12000 grassroots groups, sekitar 14 juta warga Amerika telah menjadi anggotanya pada tahun 1993.

 

B.     A Strategic Approach to Environmental Public Relations

Ketika kemungkinan akan munculnya isu lingkungan yang dapat mengnacam perusahaan, pendekatan strategis PR sangat dibutuhkan guna mencegah hal-hal yang mengancam reputasi perusahaan. PR juga perlu melakukan Riset serta analisis terhadap suatu isu sehingga didapatkan data dan informasi guna memutuskan tindakan komunikasi apa yang akan diambil oleh perusahaan.

 

 III.            Bahasan Kasus Sinar Mas VS Green Peace

A.     A Tactical Approach to Environmental Public Relations

Seperti bidang PR pada umumnya, lingkungan juga berhubungan dengan upaya menjalin relasi. Menjalin hubungan dengan konsumen, dengan karyawan, dan juga komunitas sekitar perushaan, merupakan salah satu upaya untuk menjalin hubungan dengan lingkungan juga. Upaya membangun EPR merupakan kegiatan yang juga berhubungan dengan bagaimana menjalin hubungan dengan publik lokal, pemerintah, LSM lingkungan, dan Media.

Dalam Menjalin kesepakatan dengan environmental issues, pendekatan PR tradisional yakni one way communications tidak selalu berhasil, diakibatkan sikap publik yang kini cenderung dapat merespon sebuah informasi secara cepat, terlebih akses terhadap informasi tersebut tidak selalu berasal dari perusahaan.

Sebuah kegiatan EPR yang baik yakni adalah sebuah kegaiatan PR yang juga berhubungan dengan manajemen perusahaan secara keseluruhan guna menghadapi krisis yang mungkin menimpa perusahaan. Krisis yang ditangani oleh EPR tentu saja krisis yang erat hubungannya dengan isu-isu lingkungan yang mungkin terjadi, oleh sebab itu, sudah sepantasnya EPR bertugas sebagai ‘warning’ bagi perusahaan dan manajemen khususnya mengenai isu longkungan yang mungkin dapat menimpa perusahaan.

Berikut adalah EPR program :

a.       Issue Scanning and Analysis

Kebanyakan Isu lingkungan yang dapat menimpa perusahaan sebebanrnya dapat diminimalisir dampaknya, sayang tidak banayk perusahaan yang mampu membaca isu lingkungan yang muncul sebagai ancaman bagi perusahaan.

Perusahaan yang memiliki kesadaran akan pentingnya isu lingkungan diharuskan memiliki akses untuk menguptodate setiap informasi yang mungkin berkaitan sengan isu lingkungan, Global Warming Warning misalnya. Perusahaan harus mmeiliki issue scaning mengenai isu-isu apa saja yang mungkin berkaitan baik dengan perusahaan maupun kepentingan stakeholder perusahaan.

The Swot Analysis

 

Strengthts

Weaknesses

·         Produk ramah lingkungan

 

·         Rawan kebakaran hutan

Opportunities

Threats

·         Hubungan baik dengan masyarakat sekitar

·         Global Warming

 

Analisis SWOT sangat penting untuk mengetahui informasi mengenai isu yang mungkin menimpa perusahaan. Dengan adanya informasi ini, perusahaan dapat memperhitungkan dan memperisapkan tindakan apa yang akan diambil jika memang terancam krisis.

Beberapa penelitian mengenai isu lingkungan yang mungkin menimpa perusahaan dapat diketahui lebih awal, caranya dengan me-survei karyawan, customer, dan supplier groups.

EPR harus membuat outlines long term strategic yang akan dilakukan guna memiliki standar dalam menghadapi isu lingkungan yang mungkin muncul. Di Indonesia, isu lingkungan yang sering kali muncul adalah berkaitan dengan polusi udara dari limbah pabrik, kebakaran hutan akibat penebangan hutan, pencemaran air sungai oleh limbah pabrik.

Salah satunya yang menimpa Sinar Mas merupakan bentuk dari environmental isu yang tidak ditangani secara tepat, mengingat core bisnis dari Sinar Mas sendiri memang berkaitan dengan lingkungan.

 

b.       Creating the Plan

EPR plan harus dipersiapkan sebelum isu muncul, caranya dengan isu scanning dan proses analisis tentang bagiaman isu ini nantinya akan bisa berhubungan dengan masa depan perusahaan. Analisis SWOT  akan melihat pengaruh dan bagimana sebuah isu dapat memengaruhi perusahaan.

Untuk membuat analisis SWOT ini, setiap orang dalam perusahaan ini harus dilibatkan, seperti pegawai, human resource, manufacturing jobs, dan terutama PR officer.

Dalam kasus Sinar Mas yang dituduh melakukan pencemaran hutan oleh Green Peace tentu saja memancing banyak pertanyaan dan juga mengundang banyak protes dari aktivis lingkungan. Analisis SWOT yang dibuat harus berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpa Sinar Mas saat merebak isu lingkungan yang merugikan reputasinya.

 

c.       Ongoing Community/Employee/Government/Media Relations Plans

Setelah satu isu diindetifikasi dan SWOT analisis telah terpenuhi PR harus membuat rencana untuk mengidentifikasi public, menetapkan skala prioritas dalam menghadapi krisis. Perusahaan harus hati-hati untuk menyiapkan perencanaan komunikasi dan program yang akan dijalankan guna menghadapi krisis. Crisis Planning adalah bagian yang menyatu dengan EPR.

Berikut adalah key publics dalam menghadapi environmental Issue :

·         Customers, perusahaan harus membuat data statistic mengenai konsumen perusahaan untuk mengetahui keputusan membeli apakah berdasarkan tindakan environmental perusahaan yang kredibel atau tidak.

·         Employees, dalam beberapa kasus, pegawai perusahaan akan menjadi exposure, oleh karena itu pegawai perusahaan harus memiliki pengertian mengenai hal-hal apa saja yang menimpa perusahaan secara keseluruhan saat terjadi krisis sehingga dapat turut bertanggung jawab dan memberikan respon seperti yang telah direncanakan oleh PR.

·         Neighbors, saat terjadi adanya isu lingkungan yang menimpa perusahaan, masyarakat di sekitar perusahaan harus diberi informasi seperti halnya pegawai perusahaan. Hal ini berguna untuk mengurangi ketidakpastian informasi yang mungkin di dapat dari media maupun dari berkembangnya isu tersebut secara simpang siur, sehingga harus dipahami benar bahwa isu lingkungan yang menimpa perusahaan sehingga dapat menimbulkan krisis yang merugikan reputasi perusahaan, tidak berbahaya. Seperti misalnya yang menimpa perkebunan kelapa sawit Sinar Mas, meskipun dasar hubungan Sinar Mas dengan masyarakat sekitar cukup baik, sehingga masyarakat tidak begitu khawatir akan isu pengerusakan hutan yang dituduhkan oleh Green Peace, namun sayangnya Sinar Mas tidak mengantisipasi kampanye online Green Peace yang menjatuhkan nama Sinar Mas sebagai perusahaan yang merusak hutan Indonesia.

·         Shareholders, perusahaan mengkomunikasikan kepada pemegang saham mengenai isu lingkungan yang mungkin muncul dan menimpa perusahaan. Sehingga saat terjadi krisis, paling tidak shareholder dapet menjadi duta perusahaan kepada media, sehingga cost yang mereka save di perusahaan bukanlah merupakan kerugian.

·         The General Public, isu lingkungan yang sekarang ini berkembang di dunia menyita perhatian masyarakat dunia karena menyangkut kepentingan bersama. Sebagai perusahaan yang rentan terhadap isu lingkungan sudah sepantasnya mengatahui opinion leader dalam suatu kalangan masyarakat tertentu, hal ini terkait dengan kemungkinan krisis yang menimpa perusahaan sehingga masyarakat aware dan tidak salah paham terhadap krisis yang menimpa perusahaan.

·         Government, merupakan salah satu key public yang juga turut memberikan dukungan terhadap perusahaan saat terjadi krisis.

Tactics For Environmental Public Relations :

Tactic 1 : Educate the Media, but Look for Other Communications Routes

Pada dasarnya saat sebuah isu lingkungan muncul, media yang menjadi stakmeholder perusahaan memiliki kemampuan untuk bias, atau bisa saja bias dalam tindakan komunikasi yang dijalankan. Hal ini berkaitan dengan ‘siapa’ yang berbicara dan pada ‘waktu’ apa. Berhubunngan dengan akses yang mungkin di dapat oleh media itu sendiri. Organisasi lingkungan akan lebih mudah berbicara kepada pers mengenai hal-hal apa sayja yang mungkin melibatkan perusahaan, namun bagi orang dalam perusahaan sendiri, memberikan informasi kepada media akan menjadi tantangan sendiri karena berkaitan dengan tindakan komunikasi apa yang diambil.

Perusahaan harus dapat memahami arah komunikasi yang mungkin terbentuk saat terjadi krisis. Apakah media akan menghubungi perusahaan, rival perusahaan, ataukah stakeholder perusahaan.

 

Tactic 2 : Build a Relationship with Partinent Envirenmantal Groups

Setelah memetakkan publik dan setiap kepentingannya, perusahaan harus dapat merangkul LSM lingkungan, dalam hal ini kecuali Green Peace yang menolak bergabung dengan institusi manapun guna menadapatkan dukungan serta menguatkan image yang terancam akibat environmental issues yang mungkin menyerang perusahaan.

 

Tactic 3 : Plan for a Crisis

Rencana jangka panjang mengenai kemungkinan isu lingkungan yang menyerang perusahaan, alangkah baiknya jika perusahaan juga membuat crisis plan guna menghadapi kemungkinan terburuk yang dapat menimpa perusahaan.

Tactic 4 : Sensitize Marketing People

Di dalam perusahaan sendiri, sebisa mungkin agar marketing focus pada brand competitions, bukan pada corporate communication. Artinya, bagaimana marketing menyampaikan kepada publik mengenai produk yang ‘green’ aman menjadi konsumsi publik dan ramah lingkungan.

Tactic 5 : Increase Visibility in Washington and Key State Capitals

Dalam hal ini di Indonesia adalah pejabat pemerintahan yang memiliki otoritas terhadap permasalahan lingkungan. Perusahaan menjalin hubungan baik dan berpartisipasi pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan untuk menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.

Tactic 6 : Make Sure You Do the Little Things Right

Jika benar ingin menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap perusahaan, maka tidak hanya menuliskannya pada newsletter atau majalah. Perusahaan harus menunjukkan lewat annual report.

Tactic 7 : Learn About and Practice Risk Communication

Environmental Communicators harus mengerti betul tentang risk communications. Tentang bagaimana pandangan publik kepada perusahaan saat potensi kriris bisa terjadi. Inti dari risk communications adalah honest, dimana perusahaan harus dapat menyampaikan maksud yang jelas mengenai tujuan perusahaan sehingga dapat mmeberikan informasi yang tepat dan diterima oleh masyarakat.

B.     Measurement

Environmental communication yang sukses adalah ketika program perusahaan juga sukses. Pengukuran keberhasilan program PR tersebut dapat dilakukan dengan analisis yang banyak dilakukan oleh lembaga/firm PR yang menyeleksi sikap public terhadap environmental issues.

 

C.      The Future of Environmental Public Relations

Corporate Public Relations saat ini memiliki tugas yang sangat banyak. CEO sendiri sadar akan pentingnya menjalin hubungan dengan stakeholdernya, namun begitu baik CEO dan PR terkadang terlalu fokus pada hal-hal umum yang memang menjadi job desk mereka masing-masing. Satu hal yang terlupakan adalah monitoring issues yang mungkin terjadi sehingga lambat mendapat penanganan.

Pada kemajuannya di masa depan, environmental issues haruslah menjadi salah satu bagian dari corporate communication yang diperhitungkan terutama bagi perusahaan yang bergerak dan berhubungan langsung dengan lingkungan.

 

  IV.            Sinar Mas

Sebagai perusahaan yang bergerak di industry kelapa sawit dan kertas, Sinar Mas akan rentan terhadap isu lingkungan yakni pengerusakan hutan. Salah satu artikel di internet mengenai Sinar Mas.

 

Aktivis Greenpeace Datangi Wisma Nestle

25/03/2010 00:56

Liputan6.com, Jakarta: Kelompok pencinta lingkungan Greenpeace berunjuk rasa di Kantor Nestle Indonesia di Wisma Nestle, Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (24/3) siang. Dengan mengenakan atribut baju orangutan dan kemasan cokelat merek Kitkat, pengunjuk rasa sempat cekcok dengan petugas keamanan setempat karena aksi ini menghalangi pintu masuk Wisma Nestle.

Dalam orasinya demonstran mendesak Nestle memutus kontrak dengan suplier minyak kelapa sawit PT Sinar Mas dan menghentikan pembelian produk Sinar Mas dari pihak ketiga seperti Cargill dan IOI. Semua perusahaan penyuplai itu dinilai memiliki perkebunan sawit yang merusak kelestarian hutan dan habitat orangutan.

Menanggapi tuntutan Greenpeace, Nestle akan mempelajari tuntutan tersebut. Namun, pihaknya mengaku saat ini sudah memutus kontrak dengan PT Sinar Mas sebagai penyuplai kelapa sawit untuk kebutuhan bahan baku produksi.(ADO)

 

Sinar Mas dinilai telah mengganggu habitat orang utan karena kegiatan perkebunannya yang juga dinilai merugikan mengganggu ekologi hutan. Ini bukan kali pertama, Green Peace mengajukan tuntutan kepada Sinar Mas untuk menghentikan kegiatan perkebunan kelapa sawitnya.

 

Greenpeace Desak Nestle Akhiri Semua Kontrak Terkait Sinar Mas
TEMPO Interaktif, Jakarta - Lembaga Swadaya Masyarakat Greenpeace meminta Nestle untuk memutuskan semua hubungan dengan perusahaan Sinar Mas Group, trermasuk pembelian dari pihak ketiga yang juga masih menggunakan produk Sinar Mas.

"Pembatalan kontrak langsung dengan Sinar Mas oleh Nestle belum cukup. Mereka harus menghentikan pembelian produk Sinar Mas dari pihak ketiga seperti Cargill dan IOI," tutur Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar dalam rilis yang diterima Tempo, Rabu (25/3).

Pekan lalu, Nestle memutus kontrak langsung pembelian minyak kelapa sawit dengan Sinar Mas Group. Pemutusan kontrak merupakan respon atas peluncuran laporan Greenpeae "caught Red-Handed (Tertangkap Basah)" Menurut laporan ini, Nestle telah menggunakan minyak kelapa sawit dari Sinar Mas yang terus melakukan perusakan hutan gambut kaya karbon dan hutan alam yang merupakan habitat orangutan.

Greenpeace menyatakan tidak anti terhadap industri kelapa sawit yang menjadi komoditas unggulan Indonesia selama ini. "Greenpeace tidak anti industri kelapa sawit, kampanye kami bertujuan untuk menghentikan Sinar Mas merusak hutan alam Indonesia yang masih tersisa," tambah Bustar.

Karena itu, Greenpeace meminta Presiden Yudhoyono untuk menerapkan segera moratorium (penghentian sementara) perusakan hutan sebagai implementasi program jangka panjang perlindungan hutan yang didukung dana internasional. Saat ini, Indonesia merupakan negara dengan laju deforestasi tercepat dibanding negara-negara pemilik hutan di dunia. Perusakan hutan juga menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga penghasil gas emisi rumah kaca terbesar di dunia, setelah Cina dan Amerika Serikat. Lebih dari setengah abad 74 juta hektar hutan alam Indonesia telah hancur atau terbakar.

Beberapa hari lalu, pihak Cargill mengancam turut memutus kontrak dengan Sinar Mas. Menurut rilisnya, Cargill masih menunggu respon Sinar Mas Group terkait laporan Greenpeace hingga April 2010. "Bila memang terbukti Sinar Mas bersalah tetapi tidak ada tindakan koreksi, maka kami akan memutus kontrak dengan mereka," ujar mereka dalam rilis di situsnya.

Oleh : ARYANI KRISTANTI

 

Dari beberapa artikel yang bermunculan di internet terkait perselisihan Sinar Mas dan Green Peace, dapat ditarik kesimpulan bahwa Sinar Mas sendiri telah menjalankan 7 taktik dalam menghadapi environmental issues. Mengapa demikian?

1.      Media di Indonesia, baik cetak maupun online, mengangkat kasus ini secara netral dan tidak memojokkan Sinar Mas. Dari salah satu pembicaraan dengan kepala redaksi Bisnis Indonesia di salah satu seminar, Arif Susilo kurang lebih menyatakan bahwa tindakan green peace yang menentang Sinar Mas kemungkinan memiliki kepentingan sendiri, mengingta pusat Green Peace sendiri bukanlah merupakan LSM asli dari Indonesia. Kemungkinan indikasi untuk menekan emisi gas kaca di Indonesia karena saat ini Indonesia merupakan Negara berkembang yang jika industrinya dibatasi tentu akan susah berkembang dan bersaing di dunia internasional.

2.      Sinar Mas yang menjadi pelopor kampanye Earth Hour menjalin kerjasama dengan LSM lain selain Green Peace untuk menujukkan kepada dunia bahwa Sinar Mas juga perduli terhadap lingkungan.

3.      Sinar Mas memiliki rencana krisis tersendiri, meskipun secara online, Sinar Mas kurang memonitor blog dan informasi yang tercecer di Internet yang merusak reputasinya. Crisis Plan yang dilakukan Sinar Mas dilakukan dengan mengcover media dan stakeholder tapi tidak mempush informasi yang tersebar di internet. Jika dilihat secara garis besar, saat konflik ini terjadi, informasi yang ada di internet kebanyakan berisi komentar negative.

4.      Saat Green Peace mengajukan tuntutan kepada Sinar Mas, kegiatan marketing Sinar Mas tetap berjalan baik, meskipun secara citra dan reputasi menjadi menurun, menyusul putusnya kontrak sepihak yang dilakukan Unilever dan Nestle. Dapat dilihat pula bahwa tindakan Green peace ini tidak hanya merugikan Sinar Mas, namun juga merugikan pihak-pihak yang berhubungan dengan Sinar Mas.

5.       Pemerintah yang juga mendapat petisi dari Green Peace guna ‘mencekal’ Sinar Mas, turut ambil bagian untuk melakukan riset dan tidak menjatuhkan vonis terhadap sesuatu yang tidak memiliki bukti pasti, pasalnya selama ini Sinar Mas memiliki ijin sah dan tidak melanggar keamanan lingkungan manapun.

6.      Newsletter dan majalah yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sudah menjadi agenda tetap Sinar Mas.

7.      Komunikasi yang dilakukan Sinar Mas kepada stakeholder menurut saya cukup berhasil, mengingat hal-hal negative yang ada di Internet berkaitan dengan pengerusakan hutan kebanyakan ditulis oleh pihak Green Peace dan LSM lingkungan yang memiliki hubungan dengan Green peace.

 

Dari tujuh taktik yang dijabarkan di atas, ada satu taktik, yakni Crisis Plan yang oleh Sinar Mas belum terlihat jelas. Media secara tidak langsung jelas berada di pihak Sinar Mas, begitu juga elit, dan masyarakat yang benar-benar memprotes pun bukanlah masyarakat yang benar mengenal permasalahan hutan dan isu lingkungan. Melainkan orang-orang yang berada di bawah Green Peace sebagai follower di blog dna sejenisnya.

Satu yang kurang dari Crisis Plan adalah Sinar Mas tidak mengelola hubungan bisnisnya sebaik yang seharusnya. Hal ini terlihat dari pemutusan kontrak secara sepihak yang dilakukan dua perusahaan multinasional besar yakni Nestle dan Unilever. Dapat dikatakan bahwa yang mendapat imbas dan tekanan dari Green Peace sebenarnya adalah Unilever dan Nestle yang secara garis besar tidak mengetahui permasalahan Sinar Mas, namun kedua perusahaan besar ini malah dituntut mendukung aksi pengerusakan hutan.

Saya menilai hubungan Sinar Mas dan kedua perusahaan ini mungkin tidak terbina dengan baik, karena pemutusan kontrak secara sepihak setelah muncul pemberitaan tersebut sama dengan cari aman, karena tidak ingin ikut terlibat dalam permasalahan Sinar Mas sehingga reputasi mereka pun terancam.

 

 


 

Sumber Data

http://www.duniabulatbundar.com/2010/03/greenpeace-desak-nestle-akhiri-semua.html

http://arif-worldscience.blogspot.com/2010/03/meminta-komitmen-penuh-nestle-untuk.html

The Handbook Of Startegic Public Relations & Intergrated Communications. Chapter 13, Environmental Issues in Public Relations : A Matter of Credibility

No comments:

Post a Comment