Wednesday, March 17, 2010

Kebab Turki Baba Rafi

Hendy Setiono, pendiri sekaligus pemilik usaha waralaba Kebab Turki Baba Rafi telah sukses dengan gemilang dalam meraih sejumlah penghargaan bergengsi baik yang berskala nasional maupun internasional melalui usaha kebabnya ini.

Hendy Setiono, pemuda yang sukses meniru salah satu tokoh idolanya –Bill Gates– untuk tetap fokus pada mimpinya, sehingga tidak menapaki jalur nasibnya sesuai dengan perkuliahnya pada jurusan Teknik Informatika di ITS, dan malah mulai serius berbisnis Kebab (makanan khas Negara Timur Tengah). Dengan strategi bisnis waralaba, kini Hendy berhasil mendulang sukses meraup 2 milyar rupiah per bulannya melalui bendera “Kebab Baba Rafi”. Kebab-nya sudah melanglang buana seantero provinsi di Indonesia, dan dipastikan akan terus berkembang.

Hendy Setiono mengawali usaha tahun 2003 di Surabaya. Modalnya hanya Rp 10 juta atau sebuah gerobak burger. Kini bisnisnya berkembang pesat dengan menu makanan utama kebab serta santapan ala koboi (burger serta hotdog). Jumlah cabangnya setiap tahun terus bertambah. Terakhir, terdapat 140 outlet tersebar di 25 kota, antara lain Batam, Bali, Bandung, Banjarmasin, Malang, Gresik, Jember, Kediri, Lampung, Padang, Malang, Makasar, Medan, Pasuruan, Pekan Baru, Karawang, Surabaya, Sukabumi, Semarang, Sidoarjo, Tasikmalaya, Jogjakarta, dan Jakarta Baba Rafi mampu berkembang pesat, karena selama ini Hendy selalu mempertahankan kualitas, baik menjaga standar mutu, kebersihan, value produk. Peraih berbagai penghargaan, di antaranya sebagai salah satu Entreprise 50 (The Hottest Entrepreneur 2006) versi Swa, Asia’s Best Entrepreneur Under 25 versi BusinessWeek, The Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA 2006), juga termasuk di antara 10 tokoh pilihan 2006 versi Tempo ini juga berusaha memperkuat brand image khususnya melalui berbagai media above the line serta membuat diferensiasi dengan memperbarui sebutan menu-menu, seperti Winner Kebab, Hotdog Jumbo, Kebab Picok (pisang dan coklat). Tetapi harganya tetap dapat terjangkau oleh kocek mahasiswa sekalipun, yaitu berkisar Rp 6.000,00-Rp 9.000,00.

Di samping itu bapak dua orang anak ini juga tetap memakai strategi awal yang cukup ampuh, yakni memilih tempat di tengah-tengah keramaian dan menggunakan warna mencolok dan berwarna-warni. Diferensiasi lain yang dilakukan Hendy adalah cara pengolahan. Dia mengolah daging dengan cara diasap, bukannya digoreng. Daging berukuran besar diasap, baru dipotong dan diiris tipis, dengan begitu aroma asap menjadi khas. Beberapa jenis bumbu juga disesuaikan sesuai dengan selera local.

Sebaliknya, menurutnya konsumen lokal lebih memilih tekstur daging lebih berasa dengan bumbu dan saos tidak terlalu banyak namun cenderung manis. Sebagai bisnis yang diwaralabakan Hendy menyediakan beberapa tipe penawaran. Terdapat paket gerobak untuk outdoor, franchisenya dijual dengan harga Rp 50 juta. Tipe Booth dan Dine In, keduanya juga dengan konsep outdoor ditawarkan seharga Rp 70 juta dan Rp 100 juta, sementara konsep indoor outlet harganya Rp 90 juta. Model café, franchise fee sebesar Rp 80 juta dan ditambah initial investment sekitar Rp 100 juta.

Calon franchisee tidak usah khawatir, sebab dukungan yang diperoleh meliputi hampir semua aspek, mulai dari studi kelayakan, lay out restoran, standar pelayanan, pelatihan, jaminan bahan baku, paket promosi, termasuk quality control, maintenance, manual book, disertai software keuangan. Dalam satu paket sudah tersedia satu unit counter, alat burner kebab, dan paket perlengkapan counter lengkap. Disebutkan, tingkat keberhasilan cabang mencapai 99% atau resiko kegagalan usaha sangatlah kecil. Omset yang diraih masing-masing gerai Rp 350 ribu-Rp 1 juta per hari, sehingga balik modal investasi diperkirakan tercapai dalam 1-1,5 tahun.

Beberapa penghargaan yang diraih oleh

·      ERNST & YOUNG ENTREPRENEUR AWARD 2009

·      Indonesia Franchise Award 2009

·      Versi Info Franchise Magazine

“The Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA 2006)"
versi
Wirausaha dan Keuangan

*berbagai sumber

No comments:

Post a Comment