Wednesday, April 14, 2010

Take Home Test - Online PR

1.   Jelaskan mengenai kaitan antara netiquette, email, autoresponder dengan aktivitas online publik relations!

Komunikasi sekarang ini menjadi sangat riskan namun juga dapat memudahkan untuk saling menjalin hubungan satu sama lain. Mengapa komunikasi manjadi riskan? Hal ini disebabkan oleh kemajuan teknologi yang mendukung komunikasi itu sendiri, sehingga terjadi perubahan gaya hidup sehari-hari. Terjadinya perubahan dalam gaya hidup sehari-hari, antara lain terlihat melalui:

a.      Munculnya “gaya hidup digital” dan gaya “hidup on line” dengan penggunaan komputer dan LAN secara meluas, paperless office, real time data (untuk ATM dan Banking system, Airline reservation, dsb).

b.      Memasyarakatnya “cybermedia” dan “cybersociety” sejalan dengan meluasnya pemakaian internet, aplikasi chatting, e-mail, dan e-commerce serta e-banking.

c.      Munculnya “gaya hidup mobile” dengan menggunakan ponsel secara luas serta pemanfaatannya untuk m-commerce dan m-banking.

Kemajuan teknologi sendiri ada untuk mendukung peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap pencapaian kepuasan dalam berkomunikasi. Semakin berjalannya waktu, masyarakat menuntut kemudahan, kecepatan, dan keefisienan waktu dalam berkomunikasi.

Salah satu sarana komunikasi yang paling berkembang saat ini adalah melalui jaringan komunikasi internet. Media yang digunakan berupa email, blog, forum, website, chatting, social network. Dapat dikatakan bahwa seiring berkembangnya kemampuan manusia untuk berkomunikasi menggunakan media komunikasi diatas, maka dapat memudahkan seseorang untuk menyampaikan opininya, baik kepada institusi, organisasi, maupun melalui blog miliknya sendiri. Yang harus diperhatikan adalah netiquette, yang merupakan Etika dalam menggunakan Internet. Internet sebagai sebuah kumpulan komunitas, diperlukan aturan yang akan menjadi patokan bagi orang-orang sebagai pengguna Internet, dimana aturan ini menyangkut batasan dan cara yang terbaik dalam memanfaatkan fasilitas Internet.

Sebenarnya netiquette ini adalah hal yang umum dan biasa, sama hal nya dengan aturan-aturan biasa ketika memasuki komunitas umum di mana informasi sangat banyak dan terbuka.Beberapa aturan yang ada pada netiquete ini adalah:

1.   Mengamankan properti yang digunakan untuk masuk ke jaringan internet seperti,  mengamankan komputer dengan memasang anti virus atau personal firewall.

2.   Berhati-hati dalam membagi data pribadi, misalnya seperti di website jejaring sosial untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

3.   Paling utama adalah hargai pengguna lain di internet, caranya sederhana yaitu :

a)  Menyalahgunakan hak cipta orang lain dapat dikatakan plagiat.

b)  Mengambil keuntungan secara ilegal dari Internet, misalnya melakukan kejahatan pencurian kartu kredit.

c)  Mengganggu privasi orang lain, dengan mencoba mencuri informasi yang sebenarnya terbatas.

d)  Menggunakan huruf capital dalam penulisan dapat diartikan negatif oleh pengguna lain.

 

Jika membicarakan tentang etika berinternet, maka tidak dapat lepas dari email atau Surat elektronik (disingkat ratel, ratron, surel, atau surat-e) atau surat digital atau pos elektronik (disingkat pos-el) atau nama umumnya dalam bahasa Inggris "e-mail atau email" (ejaan Indonesia: imel) adalah sarana kirim mengirim surat melalui jalur jaringan komputer (misalnya Internet). Surat elektronik sudah mulai dipakai di tahun 1960-an. Pada saat itu Internet belum terbentuk, yang ada hanyalah kumpulan 'mainframe' yang terbentuk sebagai jaringan. Mulai tahun1980-an, surat elektronik sudah bisa dinikmati oleh khalayak umum. Sekarang ini banyak perusahaan pos di berbagai negara menurun penghasilannya disebabkan masyarakat sudah tidak memakai jasa pos lagi.

Sekarang ini, penggunaan email sudah sangat banyak dan sering digunakan oleh banyak orang dengan kepentingan dan bidang yang berbeda-beda. Kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan misalnya, dapat mendukung kemudahan berkomunikasi antara dosen dan mahasiswa. Untuk bertemu dosen, mahasiswa tidak lagi harus kesulitan untuk mengatur jadwal pertemuan yang tida pasti, karena proses penyampaian informasi dapat dilakukan melalui pengiriman file dengan email, maupun membaginya di situs-situs yang menyediakan layanan tersebut seperti 4shared dan slideshare. Bagi institusi atau organisasi email dapat digunakan sebagai alat komunikasi untuk mendapatkan feedback dari publiknya. Hal ini berkaitan dengan kegiatan PR untuk menjaga reputasi dan citranya. Dengan merespon email dari publiknya, tindakan PR selanjutnya sudah tentu dapat membuat kegiatan strategis perusahaan menjadi lebih fokus dan lebih baik lagi.

Meskipun merespon email yang masuk ke perusahaan merupakan hal yang sangat penting, namun begitu seorang PR tidak serta merta dapat secara langsung membalas setiap email yang masuk, apalagi jika kiriman email bersifat umum atau rata, seperti email pemesanan barang, tidak hanya PR namun Marketing PR juga membutuhkan teknologi yang dapat merespon email secara cepat, yakni Autoresponder. Teknologi ini memungkinkan untuk membalas email yang sifatnya sama rata, biasanya berisi pesan yang sama kepada publik sebagai respon awal bahwa email yang masuk telah diterima. Salah satu autoresponder adalah ketika dalam mailbox, terdapat email dari ‘mailer-demon’ yang menandakan bahwa email yang telah dikirimkan tidak sampai ke tujuan.

Ketiga hal tersebut dapat dikatakan memiliki kaitan yang erat dengan aktivitas Online PR atau cyber PR. Sebutlah ketiga hal tersebut merupakan tools PR modern saat ini yang harus dimiliki oleh sebuah organisasi. Aktivitas online PR dapat dikatakan sebuah tindakan aktif untuk merespon baik saran maupun kritik dari publik. Dalam hal ini sebutlah citra dan reputasi, merupakan tujuan dari cepatnya tindakan seorang PR untuk merespon suatu masalah. Sekarang ini publik memiliki wewenang terhadap opini tentang perusahaan. Mereka memiliki kemampuan untuk menciptakan isu yang mana isu tersebut dapat meningkatkan dan sebaliknya juga dapat menjatuhkan reputasi perusahaan. Contoh, isu online yang menjadi masalah ke perusahaan adalah masalah yang menimpa Sinar Mas penghasil minyak mentah. Belakangan ini isu tentang lingkungan sering ramai dibicarakan seiring dengan semakin besarny akesadaran masyarakat terhadap bahaya efek rumah kaca atau global warming warning. LSM dan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang lingkungan banyak membuat forum di internet guna menarik perhatian masyarakat agar sama-sama mengurangi efek rumah kaca. Salah satu LSM lingkungan yakni, Green Peace, memunculkan satu isu, baik ke dunia maya maupun secara terang-terangan yakni bahwa Sinar Mas telah merusak hutan. Imbasnya beberapa perusahaan besar seperti Unilever dan Nestle memilih untuk memustuskan kontrak secara sepihak untuk menghindari tuduhan ikut bekerja sama menghancurkan hutan.

Akibatnya, banyak sekali komunitas pecinta lingkungan yang mengumpat Sinar Mas melalui internet, tulisan di blog, yang sebagian besar isinya adalah negatif. Tidak hanya berimbas kepada Sinar Mas, namun perusahaan yang bekerja sama dengan Sinar Mas, turut terkena dampak image negatif.

Melihat kasus di atas, dapat dikatakan bahwa Sinar Mas kurang tanggap dalam melihat isu yang beredar di internet, karena bagaimana pun, core product dari sinar mas ini rentan terhadap isu lingkungan.

Ketiga hal tersebut meski memiliki peran serta pengertian yang berbeda, namun begitu ketiganya sama-sama mendukung kegiatan PR dalam bertindak serta mengambil keputusan. Saat isu ini mulai naik ke permukaan, Sinar Mas pasti menerima banyak email dari publik, baik yang berisi kritik maupun sebaliknya, dalam hal ini PR dapat memanfaatkan teknologi autoresponder sebagai bentuk perhatian dan kepedulian menanggapi keluhan publik. Meskipun belum dapat bertindak secara cepat dan tepat, namun begitu bersikap ramah dan open terhadap publik akan memberikan kesan positif bagi publik.

 

2.   Buat essay mengenai kaitan perkembangan teknologi komunikasi dengan peran public relations di era web 2.0, disertai contoh kasus!

a.    Latar Belakang

Era Web 2.0, era online social media, era di mana konsumen melakukan percakapan secara horisontal satu sama lain di dunia maya, sudah jelas bahwa peran PR jauh lebih penting ketimbang marketing.

PR harus dapat membina hubungan dengan takeholdernya dan beradaptasi untuk perubahan paradigma komunikasi antara perusahaan dan publiknya. Baik perusahaan yang diwakili oleh PR maupun public memiliki caranya sendiri untuk saling berintraksi dan berkomunikasi.

Penyampaian informasi dari perusahaan memiliki potensi kritik dan juga dukungan dari publiknya, oleh karena itu seorang PR harus memiliki kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan social media untuk mencapai tujuan perusahaan terhadap publiknya.

Ketika social media meledak dan era Web 2.0 mewabah di seluruh dunia lahirlah era baru cara komunikasi pelanggan yang disebut sebagai Feedback 2.0. Pada era ini konsumen lebih sibuk berkomunikasi dan berbincang mengenai produk dan perusahaan dengan sama konsumen. Terjadi komunikasi horizontal. Sayang komunikasi ini nyaris tidak melibatkan perusahaan. Inilah yang terjadi saat ini. Inilah yang menyebabkan perusahaan gagap untuk berkomunkasi dan mendapatkan feedback dari pelanggannya. Di era yang sedang mewabah saat ini, perusahaan baru pada tahap bisa mendengarkan apa yang konsumen bicarakan di berbagai situs social media, tanpa bisa memberikan respon balik ke mereka. Era Web 2.0. Era di mana pengguna Internet saling berkomunikasi, saling berkolaborasi secara interaktif.

Dengan munculnya era baru komunikasi pencapaian tujuan pemasaran dan pembentukan citra akan lebih mudah dan akan membuat perusahaan menjadi lebih dekat dengan publiknya. Kemudahan berkomunikasi ini akan membuat public merasa jauh lebih dihargai dan akan menjadi duta perusahaan jika terjadi krisis.

 

b.    Permasalahan

Dua tahun lalu perusahaan computer Dell Inc. meluncurkan sebuah program unik di situs web Ideastorm.com. Idenya seseungguhnya sederhana, yakni mengajak pelanggan Dell di seluruh dunia untuk berbagi di situs ini tentang produk apa yang mereka inginkan di masa mendatang. Sebagai satu-satunya perusahaan computer yang membuat computer sesuai keinginan pelanggan (customized), Dell memang perlu paham keinginan pelanggan.

Namun, karena trend Web 2.0 yang semakin interaktif dan kolaboratif, Dell tidak hanya mengajak pelanggannya menyampaikan keinginannya. Pelanggan, lebih dari itu, diajak untuk berbagi ide tentang produk, kemudian memilih ide yang paling bagus dengan cara voting oleh pelanggan lain. Dan ide yang banyak dipilih pelanggan kemudian dieksekusi oleh Dell.

Hasilnya? Luar biasa. Terbentuklah sebuah komunitas pelanggan Dell dari seluruh dunia yang berusaha melemparkan ide-ide perbaikan produk yang sangat menguntungkan Dell dan pelanggannya. Salah satunya adalah Linux Box, yang jelas-jelas mencederai hubungan jangka panjang Dell dengan Microsoft mengingat selama ini menjadi mitra penting di sisi operating system. Namun demi memenuhi kebutuhan pelanggan di masa depan, Dell segera banting setir dan menyediakan computer berbasis Linux.

Hanya dalam dua tahun, situs komunitas berbagi ide Dell ini berhasil menjaring lebih dari 11 ribu gagasan dari pelanggan dan memicu lahirnya 85 ribu komentar dari para pelanggan yang saling berkomunikasi satu sama lain untuk mengkritisi dan memperbaiki gagasan-gagasan yang dilempar oleh pelanggan lain. Karena sifatnya komunitas, bukan hanya produk baru yang dilahirkan, tetapi gagasan mengenai cinta lingkungan dan hubungan emosional antar pelanggan pun bermunculan yang barangkali tidak terlintas di benak manajemen Dell. Misalnya saja, pelanggan yang sadar lingkungan mengusulkan ke Dell agar ada program tukar tambah. Daripada computer tua tersimpan di gudang, atau dijual ke pasar loak, atau dibuang, kenapa tidak ditukartambah dengan computer baru sehingga tidak mengotori lingkungan. 

Demikian pula usulan mengenai Dell PINK. Ada pelanggan yang menggagas gerakan Dell PINK, dengan memodifiasi gerakan social Bono membantu pemberantasan penyakit AIDS di Afrika. Melalui Dell PINK akhirnya Dell menyisihkan $ 5 dari setiap penjualan Dell berwarna pink ke lembaga social yang membantu operasi kanker payudara. Kesuksesan Dell berkomunikasi secara intensif, dua arah, bahkan segala arah secara horizontal antar pelanggan, bisa jadi memicu inspirasi Starbucks untuk melakukan hal yang sama. Kedai kopi kelas atas itu meluncurkan program My Starbucks Ideas, yang memungkinkan membernya untuk bisa berbagi ide, vote dan diskusi. Konsumen Starbucks diajak menjadi member di situs Mystarbucksideas.com, dipersilahkan memberikan usulan apapun untuk meningkatkan layanan dan produk Starbuck. Gagasan yang paling banyak dipilih pelanggan akan dieksekusi oleh Starbucks.

Starbucks tentu saja mengambil banyak manfaat dari usulan-usulan ini karena ada beberapa usulan yang sangat menarik diantara sekian banyak usulan ngawur untuk meningkatkan produk dan layanannya. Salah satunya adalah teh tubruk. Menghidangkan teh tubruk barangkali ide gila bagi Starbuck. Namun ternyata konsumen membutuhkannya. 

Pada saat yang sama beberapa usulan layanan pun mendapat perhatian manajemen. Misalnya saja soal sofa dan kursi. Salah satu keistimewaan Starbucks di mata pelanggannya adalah sofanya yang nyaman untuk bekerja dan nongkrong di kedai itu.

Namun, kini semakin banyak kedai Starbucks yang mengefisienkan diri, menggganti sofa itu dengan kursi kayu kecil. Seorang konsumen mengusulkan agar Starbucks jangan menghilangkan factor kenyamanan demi efisiensi. Dan itu menjadi salah satu usulan yang populer. Usulan lain masih banyak dan terus bermunculan. Dalam usia setahun, situs social media berbasis merek ini mencatat hampir sepuluh ribu usulan dari membernya.

Dari dua contoh di atas tadi menggambarkan betapa hebatnya usaha perusahaan untuk bukan hanya mendengarkan suara pelanggan, tetapi juga melibatkan mereka dalam peningkatan layanan perusahaan, bahkan untuk pembuatan produk atau layanan baru. PR memegang peranan penting untuk mengolah informasi dan juga melaksanakan kegiatan PR demi mendukung pemasaran itulah mengapa kegiatan PR Online tidak dapat dipisahkan dari kegiatan Marketing Publik Relations. Aliran informasi tidak hanya berjalan ke dalam namun juga ke luar perusahaan.

Informasi yang ada di dalam perusahaan, antara public internal harus berjalan dengan baik agar tercipta ‘satu bahasa’. Hal ini sangat berguna saat perusahaan ditimpa krisis. Lantas, bagaimana membuat aliran komunikasi di dalam tersebut lancar dan menciptakan satu bahasa? Teknologi Intranet, jaringan di dalam perusahaan yang dapat menghubungkan masing-masing bagian dalam perusahaan hingga ke tingkat CEO. Era web 2.0 tidak hanya berpengaruh pada interaksi perusahaan dengan public eksternalnya namun juga perusahaan dengan public internalnya.

Adanya feedback dan interaksi memungkinkan pencegahan krisis, dan meminimalisir akibat atau dampak buruk dari krisis, karena perusahaan memiliki reputasi yang baik.

 

3.   Buat essay mengenai kaitan dampak perubahan perilaku public 2.0 bagi public relations 2.0 disertai contoh kasus!

a.    Latar Belakang

Perubahan gaya hidup masyarakat semakin mempengaruhi cara berkomunikasi PR kepada publiknya. Lihat saja, bagaimana pengguna Blackberry dan Smartphone semakin meningkat di Indonesia, artinya publik kini semakin sering mengonsumsi internet. Tapi meski begitu, ada yang tetap stagnan, yakni respon aktif terhadap perusahaan misalnya. Publik yang sekarang ini memiliki kemampuan untuk mendapatkan informasi secara lebih justru malah menciptakan informasi sendiri melalui situs-situs sosial misalnya.

Menurut Nukman Luthfie, CEO Virtual Consulting, Yang mesti diketahui bahwa tujuan utama pengguna global di media sosial adalah bersenang-senang. Sedangkan tujuan utama pengguna Indonesia di media sosial adalah membangun jaringan. Perbedaan lain masih banyak. Dengan demikian, pemahaman user behavior lokal mutlak diperlukan untuk membangun strategi public relation di dunia maya dengan target konsumen Indonesia.

Selain itu, konsumen bebas berbicara di Internet. Produk yang mengecewakan atau cacat tak mudah ditutupi dengan taktik-taktik PR tradisional. PR tidak bisa begitu saja mengancam dan membungkam mereka. Bahkan upaya membungkam akan menimbulkan gerakan melawan yang lebih keras, bahkan mendapat dukungan dari konsumen lain yang merasa mendapat pengalaman yang serupa. Contohnya adalah kasus yang menimpa Omni Internasional yang menggugat Prita karena surat elektronik yang dikirimkannya melalui milis. Omni yang tidak bersikap tanggap dan berhati-hati namun justru menggali lubang sendiri dengan menuntut Prita yang malah mendapat simpati dari publik dan komunitas di dunia maya untuk melawan Omni. Dapat dilihat sekarang bahwa citra dan reputasi Omni telah jatuh di mata publik.

Saat ini, tren komunikasi horisontal antar konsumen melalui sosial media seperti Facebook, Friendster, Twitter, Multiply, Flickr dan lainnya, sedang merebak. Mereka membicarakan apa saja, termasuk, hobi, suasana kerja, dan merek yang mereka konsumi secara terbuka satu sama lain. Di tengah percakapan antar konsumen ini, biasanya pendekatan iklan yang biasanya dilakukan para marketer sulit mendapatkan hasil optimal. Mereka lebih suka berbicara dengan sesama pengguna. Itu sebabnya para marketer kesulitan mencari bentuk iklan yang tepat untuk menarik perhatian pengguna online social media.

Marketer pun mati kutu jika harus beriklan untuk segmen pengguna smartphone semacam BlackBerry. Sampai hari ini belum ada model bisnis yang disukai oleh pengguna maupun pemasang iklan di medium mobile.

Itulah sebabnya, pendekatan paling tepat untuk konsumen di media sosial yang inginnya melakukan konversasi secara horisontal dan pengguna mobile yang nyaris bebas iklan saat ini adalah melalui pendekatan Public Relations, bukan iklan.

Sebagai PR 2.0, seorang praktisi PR harus mampu masuk ke dalam tren komunikasi ini agar dapat melakukan pendekatan-pendekatan guna meningkatkan citra dan reputasi. Meskipun sebenarnya, hal pertama yang harus dicapai adalah awareness. Ya, kesadaran public mengenai perusahaan haruslah ada, seperti menurut teori uses and gratification, seseorang akan cenderung memilih informasi yang menurutnya penting dan mereka inginkan. Oleh karena itu seorang PR yang jeli akan membidik targetnya sesuai dengan hal-hal apa saja yang menarik bagi publiknya.

Seperti  Contoh pendekatan PR yang berhasil adalah apa yang dilakukan Oli Top 1. Beberapa tahun terakhir ini, Oli Top 1 digempur oleh isu negatif yang tidak terbukti kebenarannya di dunia maya tanpa berbuat apapun di online. Namun, semenjak tahun lalu, Oli Top 1 mulai melakukan online PR dengan membangun situs web khusus Indonesia.

Mereka melakukan pendekatan ke media-media online, memperbanyak publikasi positif di media online, membuka konsultasi online untuk hal-hal yang berkaitan dengan motor dan mobil, terutama mengenai sistem pelumasan di mesin kendaraan, serta edukasi mengenai pengetahuan pelumas bagi masyarakat dan membangun komunikasi dua arah dengan pengguna Internet. Hasilnya, isu negatif Oli Top 1 sudah meluruh. Dan, Oli Top 1 terus berinvestasi di dunia maya, dengan melakukan pendekatan online PR untuk membangun citra positif produknya.

Contoh lain adalah kecap Bango, Unilever Indonesia. Citra yang dibangun kecap Bango adalah kuliner, tradisional, dan Indonesia sehingga melahirkan  activation programm bernama Bango Cita Rasa Nasional (BCRN) dengan key message “preserving Indonesian traditional foods”. Pelestarian makanan tradisional inilah yang kemudian melahirkan program Festival Jajanan Bango yang digelar setiap tahun di berbagai kota sejak 2005.

Di dunia maya, Unilever bekerjasama dengan komunitas Bango Mania, yang sangat intens membangun komunikasi melalui berbagai kanal online, termasuk blog, forum, mailing list, hingga media sosial seperti Plurk dan Facebook. Hasilnya, pada 2008, tercatat 500 lebih postingan blog dan 500-an email mengenai Festival Jajanan Bango, jauh meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Keberhasilan Indosat membangun Indosat FansBerry melalui aktivitas di Facebook menjadi contoh berikutnya. Pendekatan yang dilakukan yakni menambah teman sebanyak-banyaknya dengan iming-iming hadiah BlackBerry Indosat. Demikian juga dengan Toyota Astra Motor yang membangun komunikasi horisontal di Facebook dengan membuat account Yaris Groovynations dan menyelenggarakan program Yaris Grooviest Moment Celebration, yang men-tag foto bersama mobil Yaris.

Strategi public relations di online, khususnya di media sosial adalah harus dibangun berdasarkan user insight lokal, bukan user insight international. Dengan bergabung dengan social media, memungkinkan PR untuk mendengar dan berbicara dengan customer guna meningkatkan perhatian pada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk citra dan reputasi perusahaan.

 

b.    Permasalahan

Praktisi PR masa kini mengalami perubahan yang sangat luar biasa. PR masa kini bukan hanya harus lihai berhubungan dengan influencer, termasuk media, tetapi juga dituntut untuk fasih berhubungan langsung dengan konsumen. Dan kita semua paham, karakter konsumen maya sudah pasti tidak sama dengan karakter jurnalis, media atau industri media, atau karakter medium dan influencer lain.

Konsumen yang bergabung di sosial media tidak butuh bahasa yang manis dan formal ala siaran pers. Yang mereka butuhkan adalah juru bicara perusahaan yang mengerti kebutuhan mereka dan sekaligus merespon keluhan mereka secepat mungkin.

Konsumen juga butuh seorang praktisi PR yang bisa berinteraksi langsung dengan mereka dan melakukan percakapan. Tentu saja, ini bukan pekerjaan mudah. Apalagi praktisi PR itu wajib “berbicara” sesuai brand personality yang diwakilinya.

Citra dan reputasi merupakan hal penting bagi perusahaan, oleh karena itu seorang PR harus mampu menganalisa masalah dan isu negative yang mungkin muncul dan berpotensi merusak citra perusahaan. Kemampuan public untuk turut menciptakan informasi di internet melalui social media memungkinkan PR untuk melakukan pendekatan guna menjaga citra dan reputasi. Seperti yang dibahas diatas, bahwa PR haruslah membangun strategi berdasarkan user insight local bukan internasional.

Source : Sharpening Your virtual On line PR, Virtual consulting

 

Pengguna internet di Indonesia, kebanyakan lebih memilih berinteraksi melalui situs-situs social media, oleh karena itu PR harus menyusun strategi pendekatan PR yang mampu menyentuh publik strategisnya melalui social media itu sendiri.

Belakangan ini situs jejaring Facebook sedang marak digunakan di Indonesia, tidak heran jika ada beberapa orang sengaja menggalakkan dukungan melalui situs ini, contohnya ketika kasus Bibit-Candra, kemudian Prita-Omni, Luna Maya-Infotainment. ‘Gerakan Satu Juta Pendukung Facebook’ menunjukkan bahwa publik kita senang sekali membagi informasi dan berinteraksi.

Hingga februari 2010 pengguna Facebook telah meningkat 10 kali lipat dari tahun sebelumnya, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat menyukai hal-hal baru dan tertarik untuk mencoba sesuatu yang baru, sehingga pendekatan PR melalui social networking akan sangat membantu proses pembentukan reputasi.


 

Sumber penulisan

Sharpening Your virtual On line PR, Virtual consulting

Slide Presentasi Online PR pertemuan 1-7

Slide Presentasi PR Campaign pertemuan 3-4

Blog

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment