Tuesday, March 16, 2010

Analisis Sembilan Ketidak-otentikan Yudhoyono

Sembilan Ketidak-otentikan Yudhoyono

Kompas, Selasa, 9 Maret 2010 | 03:21 WIB

Eep Saefulloh Fatah

Presiden Susilo Bambang Yudhono dikenal sebagai seorang yang memiliki kewibawaan, hal ini tercermin dari pembawaannya yang tenang serta kebapakan seperti layaknya banyak tokoh seperti, alm. Gus Dur, bung Karno, Soeharto, yang tidak dapat dipungkiri perannya dalam pemerintahan memiliki pengaruh yang besar pada masanya. Meski begitu, tidak selamanya kewibawaan dan ‘kebapakan’ itu tadi dapat memberikan jaminan atas ‘dewasa’nya sikap seorang presiden.

Agaknya terlalu sok tahu, jika saya mengatakan SBY gagal mengayomi rakyat, namun dari apa yang saya lihat selama ini sebagai mahasiswi Public Relations, saya merasa sikap SBY yang tadinya bertujuan untuk ‘mengayomi’ justru malah sibuk berkutat untuk membenahi citranya sendiri sebagai presiden.

Dari kesembilan kritik yang diberikan oleh Eep Saefulloh Fatah, ada satu kritik yang menurut saya kurang tepat jika dilakukan oleh pemimpin Negara. Sebagaimana harusnya, pemimpin adalah bertugas untuk memimpin, mendengar, dan mengatur. Bagaimana seorang pemimpin dapat melaksanankan tugasnya jika salah satu fungsi tersebut tidak dijalankan.  Kritik pertama yang disebut adalah ‘kendali’. Sebagai presiden dan juga sebagai orang yang memiliki peran besar terhadap pertai. SBY agaknya tidak memiliki kendali, kuasa untuk menundukkan bawahannya, artinya secara kepemimpinan, SBY tidak memiliki pengaruh yang kuat untuk memerintah. Meskipun, dalam beberapa wawancara dengan juru bicara dan orang dari perwakilan partai demokrat mengaku kecewa oleh sikap Ruhut Sitompul, namun begitu tindakan tegas yang diambil tidaklah terlihat dan menghukum. Buktinya, kejadian seperti itu seringkali terulang.

Kendali SBY pun mulai kabur seiring dengan pencitraan dirinya yang tidak tegas. Kewibawaan yang semula dimilikinya tidak dapat memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan pemerintahan di Indonesia. Lihat saja dari lambatnya beberapa keputusan yang harus diambil, seperti kasus Bibit-Candra dan Bank Century, sungguh cara pencitraaan dirinya malah memberikan efek yang tidak baik di kalangan masyarakat khususnya mahasiswa dan pengamat politik. Tingkah SBY yang tidak tegas tersebut, seperti yang Eep Safulloh bahas dalam kritiknya terhadap tindakan SBY yang berjanji menindaklanjuti masalah lumpur Sidoarjo.

Dari semua kritik tersebut, menurut saya SBY terlalu sibuk dengan memperbaiki citranya sendiri dengan menampilkan apa yang dia perbuat, namun justru efek reputasinya menjadi menurun. Lihat saja, bagaimana masyarakat menuntutnya untuk mundur dari pemerintahan. Kini SBY bukan hanya harus memperbaiki reputasi namun juga kinerjanya agar tidak memunculkan kewibawaan sebagai tameng untuk mengambil keputusan, bagaimana pun, kita semua adalah rakyat untuk ‘diayomi’ dan diberikan kesempatan untuk merasakan ketenangan dan kemakmuran.

Sama seperti Eep Saefulloh, saya pun mendukung kritiknya karena SBY adalah presiden saya.

No comments:

Post a Comment