Tuesday, November 17, 2009

UTS Semester 5

Delima Juni Hastuti                 (07120110009)

Marry Daisy Tyasta                   (07120110028)

Felicia Omega Anindiya           (07120110014)


A. A WORLD OF LIMITED TRUTH (KETERBATASAN AKAN DUNIA KEBENARAN)

Tampaknya, berbohong, menipu, dan ketidakjujuran sudah begitu meluas dalam masyarakat kontemporer (modern), yang artinya, membutuhkan sebuah etika yang menjadi pegangan untuk memegang kejujuran dan nilai- nilai fundamental.

Kebenaran melahirkan kepercayaan dan kepercayaan merupakan energi dalam hubungan sosial dan masyarakat sipil. Sayangnya, media sendiri kadang-kadang beroperasi dalam dunia yang kebenarannya terbatas dan dengan demikian harus menanggung sebagian tanggung jawab atas hilangnya penghormatan terhadap kebenaran dan kejujuran.

Seorang praktisi public relations salah satu dari sepuluh perusahaan terbesar di US mengatakan, “Apakah kata “bohong” sebenarnya berarti sesuatu lagi? Di satu sisi, semua orang berbohong, tetapi di sisi lain, tidak ada yang melakukan, karena tidak ada yang tahu apa yang benar- itu bagaimana membuat kamu terlihat baik.”

Bukti mengatakan bahwa, sebagai masyarakat, kita melihat dunia dari prespektif besar moral yang relatif. Walaupun beberapa dari kita tidak mempunyai kesadaran untuk memaafkan kebohongan, sering kali kita segan untuk menyatakan garis yang jelas antara kejujuran dan kebohongan. Contohnya adalah saat sebuah kelas di berikan tugas dalam menyelesaikan tugas tentang masalah di gedung putih, sewaktu ada hubungan personal antara Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Walaupun ada beberapa perbedaan pendapat diantara mereka, semuanya setuju bahwa tidak menjadi masalah dari mana mereka mendapat informasi atau apakah itu benar. Salah satu mengatakan bahwa tidak penting apakah sumber mengatakan kebenaran. Atau tidak masalah kalau reporter dalam media akurat. Itu adalah masalah mereka sendiri.Group yang lain mengatakan bahwa ada tanggung jawab untuk membagikan informasi, walaupun kalau nantinya informasi yang mereka bagikan itu tidak benar. Ini yang disebut kebenaran yang terbatas.

Kebenaran yang terbatas terjadi karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang penuh dengan kebohongan. Mereka melakukan komunikasi dengan berusaha menyampaikan sebuah kepercaan kepada orang yang diajak berkomunikasi. Ketika kepercayaan itu muncul, maka seseornag bisa mulai berkomunikasi, seperti teori bawang. Dimana seseorang akan terlebih dahulu memulai melakukan sebuah kebohongan dengan melakukan impresi pertama kepada seseorang untuk membangun kepercayaan orang tersebut.Setelah orang tersebut percaya, maka akan ada komunikasi- komunikasi yang lain.

Orang akan cenderung berbohong kepada orang lain dalam pembicaraan karena dia membutuhkan oran lain untuk survive. Hal ini dikarenakan pada dasarnya manusia penuh dengan kebohongan. Kebohongan- kebohongan itu yang nantinya akan memenuhi kebutuhan manusia yang lainnya, yaitu makhluk sosial yang memerlukan orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran sesungguhnya hanyalah sebuah kepercaan akan kebohongan, ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang adalah makhluk sosial. Manusia berbohong dan melakukan berbagai impresi untuk bisa bergaul dan bertahan hidup sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

 

B. TRUTH AS A FUNDAMENTAL VALUE (KEBENARAN SEBAGAI NILAI DASAR)

Penipuan berarti komunikasi pesan yang dimaksudkan untuk menyesatkan orang lain, untuk membuat mereka percaya apa yang kita sendiri tidak mempercayainya. Penipuan dapat mengakibatkan tidak hanya dari kata-kata tetapi juga dari perilaku, gerak tubuh, atau bahkan keheningan. Dengan demikian, dalam beberapa keadaan menahan informasi dari masyarakat mungkin dianggap sebagai tindakan yang menipu.

Berbohong adalah benar-benar sebuah subkategori penipuan dengan melibatkan informasi komunikasi palsu bahwa komunikator (pembicara) mengetahui atau percaya atas ketidak-benaran. Walaupun praktisi media telah diketahui dengan sengaja mengirimkan informasi palsu, banyak masalah pada masa ini yang melibatkan etika penyampaian kebenaran berada di bawah kategori penipuan.

Berkomitmen terhadap kebenaran mungkin adalah hal yang paling kuno dan dihormati oleh etika prinsip peradaban (perkumpulan) manusia. Gagasan kebenaran sebagai nilai positif yang tertanam baik dalam filsafat moral dan hukum meskipun godaan kita untuk berbohong dan menggunakan penipuan dalam kepentingan diri kita,

Jika kebenaran itu begitu suci, mengapa kejujuran sering menjadi hal utama yang harus dikompromikan untuk dilakukan ketika terdapat kepentingan diri kita di dalamnya? Jawabannya mungkin ada, sebagian, dalam arti bahwa kecenderungan banyaknya ketidakjujuran merupakan bagian dari sifat manusia dan norma-norma kemasyarakatan kita mengatakan yang sebenarnya. Bahkan, sejarah menikmati seni penipuan setidaknya sebagai hal yang kuno untuk berkomitmen terhadap kebenaran.       

Aman untuk mengatakan bahwa kebohongan bukanlah kebenaran yang ditampilkan lebih menonjol untuk mencerminkan kondisi manusia di dalam suatu pembelajaran. "Mengatakan yang sebenarnya tidak membutuhkan pembenaran moral apapun; berbohong dan penipuan justru membutuhkannya".

 

C. THE IMPORTANCE OF TRUTH (PENTINGNYA KEBENARAN)

Terdapat 3 alasan mengapa kumpulan masyarakat sebaiknya berkomitmen untuk saling merangkul itu sebagai prinsip mendasar.

1.       Kurangnya integritas dalam komunikasi manusia mendorong otonomi individu. Sebagai makhluk rasional kita bergantung pada informasi yang jujur dan akurat untuk membuat keputusan tentang informasi berbagai macam kegiatan, termasuk pemilihan pejabat publik, produk apa yang harus dibeli, program-program televisi apa saja untuk menonton, dan bahkan pemilihan teman dan kolega profesional. Gagasan otonomi individu didasarkan, sebagian, pada kebebasan memilih. Penipuan dapat merusak kepercayaan yang kita miliki dengan pilihan kita, yang mungkin membuat kita enggan untuk melaksanakan otonomi kita di masa depan. Sebagai contoh, kurangnya kejujuran di antara iklan dan praktisi PR akan dimengerti dengan menciptakan iklim ketidakpercayaan publik komunitas bisnis. Dengan demikian, istilah tanggung jawab sosial telah memasuki “kamus” praktisi media di samping kata kebebasan, yang merupakan suatu konsep yang juga tercermin dalam kode-kode dari berbagai profesi dalam media.

2.       Komitmen untuk kebenaran adalah untuk menunjukkan rasa hormat terhadap orang-orang sebagai TUJUAN bukan sebagai alat yang dapat dimanipulasi. Di mana praktisi media yang terlibat, masalah-masalah yang diperbesar, karena mungkin konsumen lebih baik untuk tidak menemukan penipuan yang akan mereka temui secara langsung atau tidak mempunyai cara untuk mendaftarkan segera atas ketidaksetujuan mereka dengan harapan yang (sesungguhnya) memiliki dampak.

3.       Terakhir, kebenaran sangat penting untuk proses demokrasi. Demokrasi tergantung pada informasi warga, salah satu yang mendekati pasar ekonomi politik dan bersenjata dengan pengetahuan yang mengilhami rajin musyawarah. Media adalah saluran utama dari arus informasi yang menyediakannya secara jujur, akurat dan informasi yang berarti, sejauh mereka tidak mencabut daya intelektual rasional khalayak mereka yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.

 

D. MEDIA PRACTITIONERS AND THE TRUTH

Dalam teori, kebenaran abosolut merupakan hal yang ideal. Dalam prakteknya sendiri, aplikasi prisip tersebut bergantung pada keadaan dan aturan moral masing-masing individu. Setiap kebenaran bagi publik juga bergantung pada ekspetasi masing-masing jiwa itu sendiri.

Contoh, seorang jurnalis akan tertarik atau menyiarkan hal-hal yang berupa fakta yang memiliki nilai berita bagi publik dan patut dijadikan berita. Sedangkan praktisi PR dan pengiklan akan lebih tertarik untuk membela sesuatu yang berlawanan dengan kepentingan mereka atau klien mereka.

1.    Kebenaran dalam Jurnalistik

Ada tiga hal yang diperhatikan :

a.       Sebuah berita haruslah akurat. Fakta harus dapat di verifikasi berdasarkan bukti yang kuat. Jika ada keraguan atau sengketa itu harus diberitahukan kepada publik.

b.       Syaratan untuk kebenaran jurnalistik adalah bahwa, selain menjadi akurat, cerita yang jujur harus menggalakkan saling pengertian. Tujuannya menyediakan keterangan yang lengkap tentang sebuah informasi. Fakta bahwa seluruh kebenaran mungkin tidak akan pernah dapat diketahui dalam situasi apa pun, tetapi masalah etika moral yang timbul ketika penulis berita sengaja menahan semua atau beberapa fakta yang relevan dengan kepentingan umum.

c.       Ketiga, kriteria dari sebuah tulisan haruslah adil dan seimbang.

2.    Pemotongan Informasi

Jurnalisme merupakan bidang pemberitaan. Kepercayaan publik merupakan hal yang sangat penting dalam setiap penyampaian berita. Berita haruslah mengandung kebenaran dan memberikan informasi kepada pembaca. Meski begitu jurnalis mungkin 'membunuh' sebuah cerita untuk menghindari kerugian kepada orang lain atau untuk mengantisipasi memperoleh keuntungan di masa depan. Namun, tidak berarti menyampaikan kebenaran akan dianggap benar, seperti yang dikatakan Eason Jordan. Baginya menyampaikan kebenaran memnag penting dengan tidak mengorbankan hal-hal tertentu.

3.    “Feeding Frenzy

Feeding frenzy atau mentalitas kawanan, sehingga berita yang disampaikan kepada publik berasal dari stau tulisan atau dari satu peliput yang sama. Sehingga dalam pembedaan penulisan mungkin berbeda namun dengan ide yang sama. Meski begitu tulisan atau berita akan diadili oleh opini publik jika tidak akurat.

4.    Penipuan Jurnalisme

Etika apapun perdebatan tentang penggunaan berita penipuan dalam pengumpulan dan pelaporan harus memperhitungkan berbagai situasi dan bentuk. Karena moral, bahwa kebenaran adalah prinsip yang menjiwai profesi jurnalistik, setiap bentuk penipuan itu tabu.

Menurut Kovach dan Rosenstiel. Ada tiga langkah uji yang diterapkan sebagai teknik pengumpulan berita menipu. 

a.       Informasi harus cukup vital bagi kepentingan publik untuk membenarkan penipuan.

b.       Wartawan tidak boleh terlibat dalam penyamaran kecuali tidak ada cara lain untuk mendapatkan berita.

c.       Wartawan harus mengungkapkan kepada penonton mereka setiap kali mereka menyesatkan sumber-sumber untuk mendapatkan informasi dan menjelaskan alasan mereka untuk melakukannya, termasuk mengapa cerita membenarkan penipuan dan mengapa ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan fakta-fakta.

5.    Mengarang : The Unpardinable Sin

Profesi jurnalisme yang dibangun atas dasar kepercayaan. Hilangnya kredibilitas dapat secara etis fatal bagi sebuah organisasi berita. Wartawan yang menulis berita dengan menyertakan ideologi tentu akan memihak serta merta memiliki andil tersendiri dalam tulisannya. Jurnalis tentu saja tidak sempurna, dibawah tekanan batas waktu dapat membuat kesalahan. 

6.    Kebenaran dan Fiksi Bertabrakan

Ketika kebenaran dan fiksi bertabarakan, maka yang terjadi adalah sebuah cerita drama. Dapat diartikan sebagai berita hiburan. Tulisan ataupun berita memang berupa fakta namun dikemas dengan ringan sehingga publik menilai denga karakater yang ditujukannya. Meskipun ceita drama bukanlah bagian dari jurnalistik, namun memberikan gambaran kepada publik tentang suatu hal yang terjdi dan itu fakta.

7.    Kebenaran dalam Periklanan dan PR

Praktisi PR dan periklanan berada dalam bisnis persuading atau membujuk. Baik PR dan periklanan terkadang menjadi bias. Mereka membela apa yang baik bagi kliennya dan menentang apa yang berlawanan bahkan cenderung defensif dalam menghadapi masalah. Oleh karena itu mereka cenderung selektif dalam pemilihan berita.

8.    PR dan Juralisme antara Cinta dan Benci

PR dan jurnalis masing-masing saling menyimpan kecurigaan. Jurnalis menganggap PR hanya mementingkan kepuasaannya sendiri dengan menghalalkan segala cara. Meskipun masing-masing berasal dari perbedaan moral dan juga perbedaan profesi, pada dasarnya jurnalis bekerja untuk membuka fakta, mengungkap peristiwa yang terjadi. Sedangkan PR sesuai profesinya menjai ’pengacara’ untuk apa yang penting sesuai dengan tujuan perusahaan.

 

 

 

E. INTELLECTUAL DISHONESTY

Penggunaan hasil karya orang lain secra tidak sah merupakan tindakan yang tidak jujur. Tidak ada toleransi bagi pembajakan. Ada dua kategori yaitu plagiat dan penyalahgunaan. Plagiat menyontoh karya sedangkan penyalahgunaan adalah mengambil karya orang lain tidak secara sah sehingga melanggar hak cipta. Contoh kecil adalah mengunduh lagu atau film melalui jaringan internet.

Dalam dunia jurnalistik, penyalahgunaan seperti ini sangat merugikan, pasalnya ketika seorang jurnalis bekerja keras untuk menulis lalu orang lain dengan sengaja mengunduh hasil karya tersebut untuk mendatangkan keuntungan.

 

F. TRUTH TELLING AND APPROACHES TO MORAL REASONING (BERKATA YANG JUJUR DAN PENDEKATANNYA PADA PERTIMBANGAN MORAL)

Pendekatan deontologis, sudut pandang dari filsuf Kant, mengambarkan bahwa sesuatu tindakan harus mempunyai konsekuensi kebenaran atau kesalahannya. Yang penting adalah “aturan” menolak kebohongan, walaupun faktanya, mengatakan kebenaran mungkin menghasilkan sesuatu yang buruk. Contohnya, ketika jurnalis memberitakan fakta negatif tentang public figure. Fakta negatif itu mungkin akan melukai reputasi orang tersebut.

Penulis yang kontenporer menyarankan bahwa kita tidak harus mengikuti konstruksi Kant secara saklek. Anggapan lebih moderat dari pandangan Kantian mendapatkan jawaban yang tepat untuk menyimpang dari kebenaran.

1. Jawaban dari penipuan harus benar- benar penting.

2. Penipuan harus dilakukan tanpa sengaja.

3. Argumen dari penipuan harus cukup memadai untuk menolak prinsip kejujuran.

4. Agen moral harus bertindak dengan motivasi yang baik berdasarkan dari kepedulian pada dirinya sendiri.

Padangan teologis (digambarkan sebagai utilitarians) adalah sesuatu yang mengacu kepada konsekuensi. Konsekuensi mereka dari tindakan sebelumnya yang nantinya akan membuat keputusan etis. Karena etilitarians percaya kepada mempromosikan kebaikan, praktisi media mengikuti pendekaan ini dan menghasilkan kebiasaan menipu. Bagaimanapun juga, utilitarians tidak mengasumsikan bahwa kebohongan dan penipuan adalah berbahaya atau tidak berbahaya. Dalam kata lain, membebani pada agen moral untuk mengembangkan kebohongan atau kegiatan penipuan akan mempromosikan kebaikan dari seseorang dan keuntungannya cukup untuk memberikan konsekuensi yang tepat.

Dalam berita ada kecenderungan kelewatan dan sesuatu yang sensasional, contohnya, dalam kasus teroris. Golden mean bisa membantu memberikan arah dalam latihan memagari liputan. Ada juga keadaaan ketika pendekatan ini bisa dilaksanakan oleh pengiklan dan PR dalam kegiatannya untuk mengolah keseimbangan antara kepedulian sosial dan ketertarikan perusahaan. Kasusnya adalah iklan beer yang berisi peringatan untuk penonton untuk tidak minum dan menyetir.

 

G. TRUTH AND DECEPTION: HYPOTETHICAL CASE STUDIES

Viral marketing yang sering disebut juga dengan pemasaran dari mulut ke mulut dilihat sebagai strategi inovasi untuk memposisikan produk dari perusahaan di pasar yang berkompetisi tinggi. Media massa tentunya lebih efisien dalam mencapai khalayak yang luas, dan pemasaran dari pintu ke pintu lebih mahal untuk penjualan produk. Namun ketika iklan digunakan lebih banyak dibanding interpersonal, pesan komersial tidak bisa dijalin ke konsumen. Antara penjual dan pembelipun tidak bisa melakukan respon secara langsung terhadap komentar dari konsumen. Oleh karena itu pemasaraan model baru saat ini ada yang menggunakan viral marketing, untuk mendapatkan sisi interpersonal antara penjual dan pembeli.

Perusahaan SolarLink Technologies, adalah perusaan teknologi komunikasi yang berteknologi tinggi. Perusahaan ini selalu melakukan beberapa inovasi- inovasi terbaru. Teknologi barunya SolarLink Technologies membuat Astrolight. Astroligh adalah information center yang berukuran segenggaman tangan. Dalam viral marketingnya, perusahaan ini menggunakan dua aktor. Satu orang laki- laki, dan satu orang perempuan. Aktor ini nantinya meminta tolong kepada pengunjung tempat yang ramai tersebut untuk mengambil foto pasangan itu. Pengunjung nantinya diharapkan bisa menggunakan berbagai inovasi yang ada dengan bantuan aktor tersebut. Setelah itu, nantinya pengunjung diharapkan akan menceritakan pengalamannya menggunakan barang tersebut kepada yang lain.

Sisi etika dalam kasus ini adalah:

a.       Viral marketing mungkin menipu, itu mengakibatkan kerugian, sejak penjualan tidak secara langsung ditujukan kepada konsumen. Mereka menggunakan kekuatan pembicaraan untuk mempromsikan produknya.

b.       Sudut pandang dari viral marketing dapat dimanipulasi, walaupun semua iklan ada manipulasinya di level tertentu.

c.       Respon untuk viral marketing tidak bisa dilakukan. Inilah alasan utama mengapa viral marketing ini tidak etis. Karena pengunjung atau konsumen tidak mempunyai pilihan untuk berkata tidak atau untuk memilih. Saat seseorang tidak memiliki hak untuk memilih atau untuk menjawab maka keadaan tersebut tidak etis baginya.

 

KAITANNYA DENGAN INDEPENDENSI

 

A.   Wartawan Harus Tetap Independen dari Pihak yang Mereka Liput

Dalam beberapa hal, prinsip independen ini lebih berakar dalam pragmatisme ketimbang teori. Seseorang mungkin membayangkan bahwa wartawan atau jurnalis bisa melaporkan sekaligus menjadi peserta dalam suatu peristiwa, tetapi realitasnya menjadi peserta mengaburkan semua tugas lain yang harus dilakukannya. Melihat sesuatu dari perspektif lain akan kian sulit. Memperoleh kepercayaan dari sumber dan lawan dari pihak yang berbeda menjadi semakin sulit. Menjadi semakin sulit pula, bahkan mungkin mustahil, untuk selanjutnya meyakinkan audiens bahwa wartawan atau jurnalis mendahulukan kepentingan mereka di atas kepentingan tim tempat wartawan atau jurnalis bekerja di dalamnya. Dengan kata lain, wartawan atau jurnalis bisa saja menjadi penasihat bayangan, penulis pidato, atau menerima uang dari mereka yang wartawan atau jurnalis tulis beritanya. Namun, sebuah arogansi dan mungkin naif serta khayali bahwa hal ini tidak berpengaruh pada pekerjaan sebagai wartawan.

B.   Independensi Pikiran

Implikasi penting: Kebebasan berbicara dan kebebasan pers bermakna keduanya adalah milik semua orang. Namun komunikasi dan jurnalisme bukanlah istilah yang bisa saling dipertukarkan. Siapa saja bisa menjadi wartawan. Namun, tidak semuanya sungguh-sungguh wartawan. Faktor yang menentukan bukanlah kartu pers yang mereka miliki; tapi lebih terletak pada sifat kerja mereka.

C.  Independensi dalam Praktik

Aturan-aturan ini telah dimodifikasi dan diperkuat seiring dengan perjalanan waktu, sering dilarang ikut serta dalam aksi politik, seperti unjuk rasa yang menyangkut masalah politis.

D.  Independensi dari Kelas atau Status Ekonomi

Persoalan independensi tidak terbatas pada ideologi. Sesungguhnya masalah ideologi bahkan lebih mudah ditangani di sini daripada masalah lain. Solusi untuk bias adalah mengembangkan metode reportase yang lebih terbuka. Namun, untuk memahami sepenuhnya peran wartawan, kita perlu melihat jenis konflik dan ketergantungan lain.

Pada akhirnya, pelarangan ketat terhadap setiap jenis keterkaitan personal ataupun intelektual tak menjamin seorang wartawan tetap independen dari faksi politik atau faksi yang lainnya.  Pada akhirnya, penilaian yang baik dan komitmen abadi pada prinsip kesetiaan pertama kepada wargalah yang membedakan wartawan dari partisan. Punya opini bukan saja boleh dan alamiah, tetapi juga berharga bagi skeptisisme alamiah yang dimiliki setiap reporter yang bagus saat mendekati sebuah berita. Namun, seorang wartawan hatus cukup pintar dan cukup jujur untuk mengenali bahwa opini tersebut harus berda sarkan pada sesuatu yang lebih substansial dari keyakinan pribadi jika hal ini digunakan untuk kepentingan jurnalisme. Ini bukanlah tentang percaya kepada orang atau sekelompok orang. Ini adalah sebuah profesi yang berdasarkan reportase, proses belajar, pemahaman, dan pendidikan. Menciptakan halangan bagi proses penemuan ini, pada akhirnya, adalah tindakan tidak loyal terhadap publik.

Pentingnya independensi ini menjadi kian jelas saat kita menyimak kewajiban khusus jurnalisme berikutnya, perannya sebagai anjing penjaga (watch-dog).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Sembilan Elemen Jurnalisme. 2006. Penerbit: pantau.

Day, Louis Alvin. Ethics In Media Communication. 2006. Thomson Wadsworth

 

 

No comments:

Post a Comment