Monday, October 5, 2009

Latar Belakang Budaya Orang Tua yang Mempengaruhi Komunikasi

Sistem Komunikasi Indonesia

Delima Juni Hastuti – 07120110009

 

Menurut Koentjoroeningrat kebudayaan adalah kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia. Oleh karena itu, masing-masing individu memiliki ciri khasnya tersendiri sesuai dengan lingkungan tempatnya tumbuh besar dan menjalin sosialisasi.

Seperti definisi kebudayaan, saya pun mendapatkan hasil karya dari budaya yang berupa kebiasaan-kebiasaan yang saya dapatkan dari orangtua saya. Kedua orang tua saya sama-sama berasal dari suku jawa. Bapak saya berasal dari Jawa Tengah sedangkan ibu saya berasal dari Jawa Timur dan Yogyakarta.

Secara kesuluruhan, nilai-nilai yang diajarkan kepada saya, tidaklah memiliki perbedaan yang besar. Hampir sama, karena kedua orangtua saya tidak benar-benar berasal dari suku yang berbeda, hanya berbeda daerah. Yang membedakan adalah cara berpikir orang tua saya yang saling bertentangan sehingga mempengaruhi saya untuk memiliki pendirian sendiri.

Bapak saya, merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga, dalam mendidik anak, beliau cenderung keras dan overprorective karena dibesarkan dalam lingkungan yang kesemuanya saudaranya wanita dan diharuskan melindungi sebagai anak laki-laki. Belum lagi, bapak saya berasal dari pendidikan militer yang memiliki sikap tegas dan penuh perhitungan dalam melakukan sesuatu, alasannya agar segala tindakan tidak menimbulkan masalah. Sedangkan ibu saya berasal dari keluarga yang Jawa yang sudah lebih modern dan memandang emansipasi sebagai kemajuan jaman yang mestinya dihargai.

Kebiasaan dan pemikiran kedua orang tua saya ini, memang memepengaruhi dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai seoarng individu. Dari bapak, saya mendapatkan sikap protective terhadap sesuatu dan cenderung berhati-hati dalam memilih. Misalnya saat mengobrol dengan teman-teman saya cenderung diam dan mendengarkan apa yang orang lain katakan, hingga saya merasa yakin bahwa saya harus ikut berbicara. Hal tersebut karena bapak saya mengajarkan bahwa jika tidak yakin dengan apa yang diucapkan sebaiknya diam daripada menunjukan kesoktahuan sehingga menimbulkan sakit hati pada orang lain.

Dari ibu, saya mendapatkan sikap yang mandiri serta tidak mudah menyerah. Karena ibu sejak kecil sudah diajarkan untuk mandiri, hal tersebut pun berlaku pada saya. Dia mendidik saya agar menjadi wanita yang kuat dan tidak lemah. Contohnya ketika saya pulang terlambat, saya akan menelpon ke rumah dan ibu akan menanggapi dengan santai. Dia percaya bahwa saya bisa sampai di rumah dengan baik, tapi bapak yang sedari dulu telah menjadi orang yang melindungi adik-adik wanitanya merasa harus menelpon saya berkali-kali untuk memastikan jika saya memang baik-baik saja.

Kedua orang tua saya memang sama-sama berasal dari suku Jawa namun latar pendidikan yang mereka dapatkan secara psikologis maupun adat kebiasaan berbeda sehingga nilai yang saya dapatkan pun berbeda.

No comments:

Post a Comment