Saturday, May 30, 2009

Berkomunikasi dengan Orang yang Berbeda Budaya

Pengalaman Berkomunikasi dengan Orang yang Berbeda Budaya
Berkomunikasi dengan orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda membuat sebuah komunkasi menjadi kurang efektif. Sesuai dengan salah satu prinsip komunikasi, bahwa semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi.
Prinsip tersebut tentu semakin menjelaskan bahwa perbedaan budaya dalam masyarakat membuat komunikasi menjadi kurang efektif. Sebagai individu komunikasi merupakan hal penting agar dapat menunjukan eksistensinya dan untuk itu individu-individu cenderung memiliki rasa kebersamaan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang sama atau mirip.
Perbedaan budaya antar individu menyebabkan sebuah hubungan menjadi kurang efektif karena melalui cara pandang individu yang berbeda itu dapat menumbuhkan berbagai persepsi positif maupun sebaliknya.
Cara pandang berbeda itu muncul dari berbagai perbedaan kondisi sosial seseorang dan budaya di sekitar mereka. Hal ini tentu mempengaruhi proses komunikasi yang terjadi diantara dua individu atau lebih yang memiliki budaya yang berbeda.
Ketika SMA saya bersekolah di daerah yang mayoritas adalah orang-orang yang berasal dari suku Sunda. Saya sendiri dibesarkan dalam tata cara keluarga yang memiliki adat Jawa. Secara spesifik memang tidak ada perbedaan yang mencolok selain dari bahasa yang digunakan. Sehingga saya sendiri tidak terlalu sulit berkomunikasi dengan teman-teman yang mayoritas tentu dapat berbicara dengan menggunakan bahasa sunda. Dengan memahami bagaimana bersikap baik diantara teman-teman saya, perlahan-lahan saya juga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan teman-teman saya.
Terkadang saya memang mengalami kebingungan memahami kata-kata mereka ketika sedang mengobrol dengan menggunakan bahasa sunda (beberapa teman saya merasa lebih nyaman jika berbicara jika dengan bahasa tersebut). Hingga pada akhirnya saya pun dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut dengan menjelaskan kepada mereka bahwa saya tidak dapat bergabung dengan “pembicaraan” mereka jika mereka terus saja berbicara menggunkan bahasa yang tidak saya mengerti. Mereka pun akhirnya mengerti dan berusaha untuk tidak menggunakan bahasa sunda ketika sedang berbicara dengan saya.
Hal tersebutlah yang membuat saya memahami betul bahwa setiap individu memiliki berbagai budaya yang berbeda sehingga apabila perbedaan iu tidak ditanggapi secara tepat akan memunculkan konflik.
Perbedaan budaya antara saya yang berasal dari suku jawa dan juga beberapa teman saya yang berasal dari suku sunda, merupakan perbedaan budaya yang tidak terlalu jauh. Pada dasarnya sikap dan norma-norma yang ada agak mirip. Hal ini membuktikan bahwa semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi. Namun, diantara kami ada pula seorang teman yang berasal dari Sulawesi Selatan, Makassar, namanya Ani. Perbedaan budaya antara kami dan Ani, hampir saja menimbulkan konflik. Hal ini mingkin dikarenakan bahwa perbedaan budaya antara kami cukup besar dan tidak ada kemiripan. Justru membuat kami membentuk persepsi yang salah.
Teman saya yang berasal dari Makassar ini memiliki kebiasaan berbicara dengan suara yang keras dan gamblang. Dia tidak sedikit pun menyembunyikan yang dia rasakan atau yang dia pikirkan. Jika dia merasa tidak cocok, merasa tidak suka, maka dia secara terus terang langsung mengatakannya. Hal ini berbeda sekali dengan kebiasaan masyarakat yang ada di daerah kami. Ada perbedaan yang mencolok antara cara bicara, cara berpikir, bertindak serta menunjukan eksistensinya dalam sebuah kehidupan sosial.
Teman saya yang berasal dari Makassar ini sering sekali berbicara dengan intonasi yang tinggi dan dengan volume yang keras. Hal ini menumbuhkan persepsi yang berbeda bagi setiap orang termasuk saya. Ketika itu, adalah awal kami masuk sekolah di SMA, ketika sedang masa orientasi siswa, Ani adalah anak yang paling sering mendapat hukuman dan paling tidak disukai oleh teman-teman. Kenapa? Karena cara bicaranya yang keras, caranya melihat orang, caranya mengatakan pendapatnya bahwa dia tidak setuju. Akibatnya, kelas kami lenih sering dihukum karena kelas kami dianggap memiliki seorang “pembangkang”. Ani dianggap telah menentang panitia orientasi yang notabene adalah kakak senior kami.Dari beberapa orang teman saya, mereka mempersepsikan hal yang hampir sama, yaitu :
• Ani sedang marah atau kesal
• Ani tidak diajari sopan santun tentang cara berbicara, karena berbicara dengan volume keras dianggap tidak sopan.
• Ani tidak menghormati orang yang sedang berbicara.
• Ani sedang berusaha menentang atau tidak setuju.
Setelah terlewati tahap orientasi, dan setetelah beberapa teman kami berbicara dengan dia, barulah kami sadar bahwa caranya berbicara, caranya menatap orang lain bukan semata-mata untuk menentang namun justru menghormati. Menurut budayanya, jika kita berbicara dengan orang yang lebih tua justru kita harus menggunakan volume yang lebih keras dan juga harus memandang mata. Tentu budaya Ani dan kami disini berbeda. Dengan adanya perbedaan budaya ini, kami hampir saja menjauhi Ani, hal tersebut tentu akan menimbulkan konflik. Untung saja, perbedaan budaya tersebut akhirnya dapat diatasi. Pelan-pelan kami membantu Ani untuk memahami bagaimana norma dan aturan budaya didaerah kami, memberikan pengertian bahwa budaya kami dan dia berbeda, dan dia harus bisa belajar beradapatasi.

No comments:

Post a Comment