Saturday, May 30, 2009

Mengelola Kemarahan

Komunikasi Antar Pribadi
Emotions


Oleh
Delima Juni Hastuti
Ilmu Komunikasi PR
Komunikasi Antar Pribadi


Mengelola Kemarahan
Emosi merupakan bagian dari keadaan psikologi seseorang, sehingga dalam mengekpresikan emosi memerlukan ketrampilan. Emosi sendiri merupakan bagian dari kehidupan anatarpribadi seseorang dengan orang lain, sehingga pada akhirnya setiap individu harus memutuskan apakan akan menunjukkan emosi atau sebaliknya justru menyembunyikan emosi. Apabila kita memutuskan untuk mengekspresikan emosi kita atau perasaan kita maka kita harus menganalisa dan menjabarkan perasaan seperti apa, emosi yang seperti apa yng kita rasakan dan kita ingin orang lain tahu.
Dalam memahmi perasaan maupun emosi yang kita rasakan kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri kita agar kita dapat memahami perasaan yang kita rasakan.
- “What am I feeling, and what made feel this way?” Memahami apa yang kita rasakan seobjektif mungkin sehingga kita dapat mudah mengenali kondisi maupun lingkungan seperti apa yang menyebabkan kita dapat memiliki perasaan seperti itu. Misalnya saja, ketika kita tiba-tiba merasa marah terhadap seseorang tanpa alasan yang jelas, yang kita tahu kita tidak menyukai orang tersebut. Maka, kita harus mencari tau sebab-sebab apa yang menyebabkan kita tidak meyukai orang tersebut.
- “What exactly do I want to communicate?”
Dalam komunikasi antarpribadi kita harus memperhatikan beebrapa hal yang dapat membangun perasaan kita, bagaimana kita memahami sebuah perasaan yang kita rasakan melalui pemahaman situasi yang kita rasakan sehingga mempengaruhi perasaan kita.
- Be as spesific as possible. Yang sering terjadi adalaah beberapa emosi atau luapan perasaan merupkan campuran dari emosi lainnya, misalnya ketika merasa marah atau kesal, maka emosi yang kita rasakan tidak hanya kesal, namun juga merasa tidak sabar dan mendadak tidak menyukai orang lain, bagi sebagian orang hal-hal seperti diatas dapat saja terjadi. Atau ketika kita sedang merasa sangat gembira, maka perilaku kita pun ikut terpengaruh, sehingga emosi yang kita tunjukan kepada orang lain terlihat menyenangkan.
- Describe the reasons you’re feeling as you are. Ketika kita merasakan perasaan yang membuat kita resah, senang atau bahkan marah. Kita harus berusaha menemukan alasan yang tepat, mengapa kita merasakaan hal itu. Dengan begitu akan mudah bagi kita untuk menemukan jalan keluar bagi masalah itu. Misalnya, “Saya merasa sedih karena anjing peliharaan saya mati pagi ini,” peryataan diatas menunjukkan bahwa ‘dia’ merasa sedih karena hewan peliharaannya mati pagi tadi.
- Address mixed feeings. Mencoba untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri tentang perasaan yang berbeda-beda yang kita rasakan. Misalnya, “saya merasa marah dan kesal namun saya juga merasa bersalah tergadap apa yang telah saya lakukan,” dengan begitu kita dapat memahami apa yang diri kita inginkan sehingga kita dapat mengontrol emosi kita.
- In expressing felings-inwardly or aoutwardly—try to anchor your emotions in the present. Mengekspresikan perasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri dengan mencocokkan permasalahan diri yang sedang kita hadapi. Misalnya kita menerima dan mengekspresikan emosi dalam kita kita, “Saya merasa bodoh karena tidak bisa menghasilkan tulisan yang bagus hari ini,” pernyataan diatas merupakan ekpresi untuk menenangkan diri sendiri tentang emosi yang dirasakan.
- Own your feelings; take personal responsibility for your feelings. Berdasarkan kalimat-kalimat atau pernyataan-pernyataan “You make me angry”, “You make feel like a loser.” “You make me feel stupid.” Dari pernyatan tersebut, kita menyalahkan orang lain karena apa yang kita rasakan.
- Ask for what you want.


Mengatasi kemarahan
Kemarahan merupakan emosi yang bisa menciptakan masalah jika tidak ditata secara baik. Namun kemarahan juga bukan merupakan sesuatu yang selalu buruk. Kematahan membantu kita untuk melindungi diri kita, mendorong kita untuk berselisih atau sebaliknya. Lemarahan tidak selalu membangun sesuatu yang baik, karena beberapa waktu kemarahan justru membimbing kita untuk mencapai suatu tujuan yang bukanlah objektif melainkan suatu obsesi.


Mengolah kemarahan : SCREAM Before You Scream.
Yang perlu disadari dalam mengolah atau mengatur emosi kemarahan yang kita rasakan dibutuhkan beberapa hal berikut :
1. Self. Seberapa penting emosi yang kita rasakan terhadap diri sendiri sehingga membuat kita untuk dapat memutuskan seperti apa perasaan yang kita inginkan. Apakah apa yang kita rasakan merupakan sesuatu yang berharga atau tidak sehingga kita harus memahami tindakan seperti apa yang akan kita ambil ketika emosi itu muncul.
2. Context. Menentukan tempat dan waktu yang tepat untuk mengekspresikan rasa marah yang kita rasakan sehngga kita dapat memahami lingkungan sekitar. “Apakah tepat rasanya jika kita menumpahkan amarah kita disini?” Pernyatan tersebut membantu kita untuk dapat bersikap kondusif sehungga apa yang kita lakukan merupakan sesuatu yang benar, meskipun pada dasarnya kemarahan bukanlah hal yang harus dilakukan.
3. Receiver. Seseorang yang menjadi tempat kita untuk mengekspresikan emosi kita. Misalnya, kita menunjukkan emosi dedecewaan kita kepada sahabta kita karena merasa kesal terhadapa sikap pimpinan yang membuat kita kesal.
4. Effect. Akibat seperi apa yang dapat mucnul jika kita menunjukkan ekpresi kemarahan kita. Apakah kita menunjukkan emosi kita intuk menyakiti orang lain? Bagaimana kita mempertimbangkan sikap kita terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi apabila kita mengutarakan emosi yang kita rasakan.
5. Aftermath (long-range). Apa yang akan terjadi akibat ekspresi kemarahan yang kita tunjukan, seberapa besar pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan orang lain, dengan rekan-rekan satu kantor dan sebagainya.
6. Messages. Bagaimana sebuah ekpresi yang telah tunjukan kepada orang lain tentang kemarahan kita dapat memberikan akibat dan apakah pesan yang kita sampaikan berguna. Tentang apa yang kita rasakan, ketidakpuasan kerja misalnya. Hal-hal ini membawa kita kepada anger communication.


Anger Communication
Anger communication bukanlah cara untuk menunjukkan kemarahan kita, melainkan bagaimana menunjukkan emosi kita secara tenang dan terkendali.
1. Get ready to communicate calmy and logically.
2. Examine your communication choices.
3. Consider the advantages of delaying the expression of anger.
4. Remember that different cultures gave different display rules.
5. App;y rhe relevant skills of interpersonal communication.
6. Recall the irreversibility of communication.
Dengan menunjukkan anger communication, kita mampu mempertimbangkan hal-hal yang mungkin saja terjadi akibat emosi yang kita tunjuakn kepada orang lain. Akibat dari hal-hal itu bisa berupa sesuatu yang baik dan sebaliknya. Emosi yang kita tunjukan dapat mengandung dua makna yaitu positif dan negatif, karena orang-orang disekitar kita mungkin ada yang mau menerima kekecewaan kita namun juga ada yang merasa bahwa yang kita rasakan merupakan hal yang tidak masuk akal.
Dengan adanya kemampuan untuk mengolah emosi dalam diti kita, maka kita dapat berusaha untuk meminimalisir effect negatif yang bisa saja timbul.


Griefstricken
Dalam komunikasi antar pribadi ada hal-hal yang sulit dilakukan seperti memahami ekspresi orang lain, serta memahami emosi yang sedang terjadi. Hal-hal seperti ini dapat menumbuhkan ketidaksamaan persepsi sehingga kesulitan-kesulitan berkomunikasi menjadi sulit. Dengan memajami keadan emosi seseorang kita dapat menentukan cara yang efektif untuk berkomunikasi.
Seseorang yang memiliki perasaan berduka biasanya karena kematian atau kesedihan, kehilangan pekerjaan atau hubungan dengan orang lain dan sebagainya.
Apabila kita mendengar berita duka, atau luapan emosi dari seseorang yang menunjukkan kedukaan maka kita harus menunjukkan ekspresi simpati sebagai bentuk perhatian. Ada beberapa cara agar komunikasi kita dengan orang yang sedang berduka dapat berjalan dengan efektif.
- Merespon emosi yang ditunjukan seseorang dengan menyatakan apa yang mereka rasakan. Seperti, membiarkan orang tersebut merasakan kesedihannya.
- Memberikan keleluasaan bagi orang tersebut untuk merasakan kedukaannya sehingga dia merasa tenang dan merasa diperhatikan karena kita memahami perasaannya saat itu.
- Berusaha menunjukkan sesuatu yang lebih baik akibta kejadian tersebut. Dengan begitu kita mampu mengangkat semangat orang tesebut, seperti mengatakan “Ini lebih baik daripada...”
- Membiarkan orang yang sedang berduka mengekspresikan perasaan dan membiarkannya meluapkan emosinya. Namun, jangan memaksa orang tersebut untuk mebagi kesedihannya atau pengalaman yang tak ingin dia bagi. Hanya membiarkan dia menceritakan tanpa kita memintanya.
- Membiarkan orang itu tau bahwa kita peduli dan bersedia untuk dijadikan tempat bicara, seperti mengatakan “Jika ada yang perlu saya lakukan, saya akan membantu,”


Mary and Tom
Apa yang dirasakan oleh Mary and Tom adalah suatu keadaan yang tidka saling memahami selain adanya dua perbedaan yang sangat jelas antara kedua individu. Sikap Tom yang cenderung extrovert menyebabkan tekanan bagi Mary yang introvert, karena keduanya sama-sama tidak mengolah emosi mereka sehingga menyebabkan adanya pertentangan dan perbedaan persepsi diantara keduanya karena sama-sama mengintrepertasikan berbeda.
Tom berpikiran bahwa Mary enggan membagi kehidupannya padahal Mary sulit mengekspresikannya, hal tersebut dikarenakan keduanya tidak memiliki ketarmpilan untuk mengekspresikan emosi.
Skill of expressing emotions
- Memahami perasaan kita dan kenapa kita merasakan hal tersebut. Mary dan Tom seharusnya saling mengintropeksi diri sendiri mengenai apa yang mereka rasakan, mengapa mereka merasakan hal tersebut, sehingga keduanya dapat menyamakan persepsi. Seperti apakah ketidakpuasan dalam rumah tangga mereka yang tidak mereka bicarakan.
- Mencoba untuk memfokuskan pada emosi atau perasaan yang kita rasakan sehingga kita yakin untuk berekspresi seperti apa. Seperti memahami bagaimana akibat dari pesan yang kita sampaikan apabila emosi kita pecah. Pada Tom, dia tidak menyadari sikapnya yang terbuka dalam meluapkan emosinya justru membuat istrinya tertekan dan bukan sebaliknya yaitu membuka diri kepada Tom.
- Mengidentifikasi pilihan untuk berkomunikasi dan mengevaluasinya. Apakah cara berkomunikasi ini baik atau tidak dan bagaimana akibatnya.
- Mencoba untuk memikirkan alasan mengapa memiliki perasaan seperti ini, sehingga dapat memahami penyelesaian yang tepat dan bagimana mengkomunikasikannya sehianga permasalahan tersebut tidak menjadi bumerang.

No comments:

Post a Comment