Saturday, May 30, 2009

Biografi PR

Nama : Delima Juni Hastuti
Nim : 07120110009
MK : PR Writing

Delima Juni Hastuti, lahir di Semarang 29 Juni 1989. Dia lebih dikenal sebagai Adel atau Delima. Walau sebenarnya nama kecilnya adalah Ima, tantenya sendiri pun pernah memanggilnya Imron karena sikapnya yang tomboi dan sering tidak menyahut ketika dipanggil. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang ketiganya adalah perempuan. Ayahnya adalah seorang anggota Angkatan Laut, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang membuka usaha Catering kecil-kecilan. Banyak hal dalam hidupnya yang mendorongnya untuk jatuh dalam dunia komunikasi yang selalu menjadi cita-citanya sejak dia duduk di bangku SMA.
Masa-masa SMAnya dihabiskan di SMA Negeri 1 Cileungsi, Bogor. Kesehariannya disekolah tak jauh berbeda dengan anak-anak seusianya pada masa itu. Sering merasa bosan dan mengantuk ketika jam pelajaran sehingga harus berpura-pura ke kamar kecil lalu mampir ke kantin untuk jajan. Di sekolah, Adel paling tidak menyukai mata pelajaran yang berhubungan dengan angka dan sains, hal inilah yang mendorongnya memilih jurusan IPS. Dia mengikuti beberapa kegiatan organisasi ketika di SMA yaitu, OSIS, MPS, Basket, serta kegiatan kepanitiaan lainnya. Dia sempat menjabat sebagai ketua basket putri di sekolah selama satu tahun, menurutnya olahraga basket adalah caranya bekerja dalam tim kecil yang berisi lima orang, jika tidak solid maka usahanya dalam tim gagal. Dia juga sangat senang menulis, dia pernah di tunjuk teman-temanya untuk mengisi kolom cerpen di majalah kelas dan sekolah.
Pada dasarnya, Adel adalah orang yang mudah berinteraksi dengan orang lain, dia juga sangat senang berteman dengan siapa saja. Hal inilah yang mendorongnya untuk ikut seleksi MC untuk acara Pentas Seni di Sekolahnya dan terpilih untuk menjadi MC. Tidak itu saja, setelah berhasil menjadi MC dia pun tertarik untuk ikut seleksi menjadi penyiar radio di salah satu radio di daerah Cileungsi. Lagi-lagi dia menempati posisi kedua dan mendapatkan jadwal untuk siaran. Dia juga terpilih untuk menjadi MC di beberapa acara yang diadakan oleh radionya. Menjelang kelulusannya di SMA, dia juga berhasil lolos wawancara di radio Jalasveva Jayamahe 108 FM dan berhasil mendapatkan jadwal siaran.
Keinginannya yang besar untuk dapat bekerja dan bertemu banyak orang dia wujudkan dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi di UMN. Awalnya, Adel akan mengambil bidang peminatan Broadcasting atau Jurnalistik, namun karena pertimbangan nilai Pengantar Public Relationnya yang menadapat A, dan juga pertimbangan bahwa di peminatan PR dia tetap bisa menulis, dia pun memilih PR. Pengalamannya menjadi MC ternyata sangat bermanfaat, di universitas dia dipercayakan untuk membawakan acara-acara dan juga seminar-seminar yang diselenggarakan oleh UMN.
Hobinya untuk menulis, mendorongnya untuk rutin mengisi blog dan menulis cerpen. Cerpennya juga dimuat di untuk Ultimagz. Seiring berlalunya waktu, muncul keinginan untuk selalu dikenal orang. Bukan dari siapa dia tapi melalui apa yang dia hasilkan. Keinginan ini muncul dari pengalamannya sehari-hari yang sering bertemu dengan banyak orang dari kalangan yang berbeda. Mulai dari pengemis, tukang sapu maupun pengusaha. Dan juga kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia, seperti ; demo anarki, kerusuhan, tawuran yang lama-lama justru menjadi image bagi negara ini. Dia ingin negara ini berubah. Dia ingin meminimalkan efek Teori Disonansi Kognitif.
Dia bertekad lulus dari UMN dengan mendapat gelar S1 pada umur 22 tahun. Dia ingin bekerja sebagai PR untuk perusahaan media atau perhotelan, menganalisis berita tentang isyu yang berkembang mengenai citra Indonesia. Selain itu, dia juga ingin menjadi seorang penulis novel, dan ingin agar novelnya menjadi best seller internasional. Dia menyadari bahwa citra Indonesia tidak mendatangkan profit sekarang ini, justru malah memancing meningkatnya citra buruk bagi Indonesia terutama dalam bidang pariwisata. Dia ingin pekerjaannya menjadi kebanggaan bagi apa yang dia lakukan untuk negaranya bukan karena siapa dia. Kemudian melanjutkan sekolah S2 pada umur 24 tahun dan lulus 2 tahun berikutnya. Kemudian dia akan mengumpulkan dana untuk membangun sekolah bagi anak-anak jalanan dan juga lembaga masyarakat untuk menampung orang-orang yang tidak mampu agar dapat merubah hidupnya dan tidak menjadi pengemis.
Menurutnya, keadaan Indonesia sekarang ini hanya mendukung keadaan ekonomi bagi orang-orang yang memiliki uang. Dia sering bertemu dengan banyak pengemis, banyak anak jalanan, anak-anak di bawah umur yang sengaja menjadi pengamen dan bukannya mengenyam pendidikan. Berbagai kejadian tentang kemiskinan yang “katanya” berkurang menurut para petinggi pemerintah. Kenyataannya kemiskinan di Indonesia malah meningkat setiap tahunnya, semakin banyak anak-anak yang mengikuti jejak orang tuanya yang seorang pengemis, yang seorang pencuri. Sungguh ironis, ketika para petinggi pemerintah dan para orang berduit justru memikirkan akan liburan kemana? Dan mereka? Mereka justru menikmati hidup yang kesehariannya hanya “meminta”.
Selama hidupnya, dia sering mendengar orang menggerutu ketika melihat anak jalanan atau pengemis. Mereka akan berkata “Orang tuanya kemana sih?”, “Mereka kan masih sanggup kerja ngapain ngemis?” Yang Adel herankan adalah apakah mereka nggak pernah berpikir, apa ada yang mau menerima mereka jika latar pendidikan mereka, latar kehidupan mereka seperti itu? Mengemis? Tidak sekolah, dan sebagainya.
Hal inilah yang mendorongnya untuk belajar komunikasi, dia ingin merubah dunia, melalui negaranya, Indonesia. Dia yakin, dengan komunikasi yang efektif dia dapat meminimalkan perbedaan sosial di Indonesia, dapat merubah komunikasi pemerintah yang lambat agar tidak semakin membuat perbedaan antara yang miskin dan kaya terlihat.

No comments:

Post a Comment