Tuesday, April 28, 2009

Pluralisme

Plularisme yang ada di lingkungan saya terjadi ketika saya duduk di bangku SMA. Terjadi dalam status sosial. Ketika di SMA ada ekstrakulikuler Paskibra yang mendapat perhatian guru karena prestasinya. Namun ekstrakulikuler ini sedikit menimbulkan rasa iri dari ekstrakulikuler lainnya karena sikap mereka yang cenderung memisahkan diri dari lingkungan sosial sekolah. Anak-anak yang bergabung pada ekstrakulikuler ini cenderung enggan bergabung atau membaur dengan ektrakulikuler lainnya, sehingga lebih disebut seperti geng karena selalu berkelompok. Walaupun anak-anak dari ekstrakulikuler ini tidak tergabung dari kelas yang sama namun mereka lebih memilih berkelompok dengan anak-anak dari ekstrakulikuler paskibra. Sedikit sekali anak paskibra yang mau bergabung dengan kelompok lain. Mereka menciptakan status sosial mereka sendiri bahwa anak Paskibra adalah anak-anak yang memiliki talenta yang baik dibangding ekstrakulikuler lain.
Dalam lingkungan sekolah ada beberapa anak paskibra yang memiliki jabatan di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) namun terkadang mereke menunjukkan sikap defensif terhadap apa yang berlawanan dengan pandangannya. Misalnya saja ketika sekolah saya akan mengadakan acara turnamen basket tingkat SMP, tim panitia samapai harus berunding memikirkan jadwal latihan Paskibra dengan sekolah demi kelancaran latihan mereka.
Anak-anak dari ekstrakulikuler tersebut selalu menganggap bahwa kegiatannya adalah yang terpenting dibanding dengan ekstrakulikuler lainya. Mereka membentuk kelompok sendiri dan enggan bergabung dengan organisasi lain. Dan apabila ada anggota mereka yang menunjukkan sikap seperti bergabung atau “berteman” dengan anggota sosial di luar kelompokknya maka dia akan di tegur dan di kucilkan.
Dari awal terbentuknya ekstrakulikuler ini memang pendiri-pendirinya memupuk sikap persatuan dan kesatuan berthubung ekstrakulikuler ini erat hubungannya dengan negara, namun ada yang salah karena sikap persatuan yang dimaksud justru menimbulkan kesenjangan sosial di lungkungan sekolah yang membuat perbedaan yang mencolok.

Dari segi agama saya memiliki seorang tetangga yang defensif terhadap agama lain sehingga enggan untuk bersosialisasi. Dia menganut agama “islam”, saya kurang begitu memahami “islam” yang seperti apa yang dianutnya, yang pasti dia agak sedikit defensif dengan pemahaman dengan agama lain, dia dan kelompoknya tidak membaur dengan agama lain bahkan dengan yang sesama islam pun terkadang ia memilih-milih. Dalam lingkungan rukun tetangga dia jarang sekali bersosialisasi dan muncul dalam acara-acara sosial yang digelar di lingkungan kami. Ia hanya sering bergabung dengan kelompoknya.

Dosen : Suharsono
MK : Sosial Budaya

No comments:

Post a Comment