Tuesday, April 28, 2009

Makalah Sosial Budaya

TUGAS SISTEM SOSIAL BUDAYA
PERUBAHAN SOSIAL dan BUDAYA

Universitas Multimedia Nusantara
Ilmu Komunikasi 2007
KELOMPOK
Maria Goretti 07120110002
Albertus Magnus P. 07120110006
Delima Juni H. 07120110009
















PERUBAHAN SOSIAL DAN BUDAYA
Pendahuluan
Perubahan adalah hal yang lumrah dalam menjalankan kehidupan. Dari waktu ke waktu tentu saja semua mengalami perubahan. Perubahan itu sendiri tidak hanya sebatas pada perubahan sikap manusia semata, namun yang dimaksud disini adalah perubahan yang bersikap menyeluruh terhadap segala aspek kehidupan.
Sebagai contoh, perubahan sosial dan budaya yang terjadi di Asia Tenggara. Kemajemukan masyarakat di Asia Tenggara telah memungkinkan munculnya berbagai konsep dan teori yang dilandaskan pada pengalaman khas berbagai masyarakat Asia Tenggara.
Menurut J.H. Boeke, seorang ahli ekonomi Belanda yang pernah bekerja di Indonesia mempertanyakan mengapa dalam masyarakat Barat kekuatan kapitalisme telah membawa peningkatan taraf kehidupan dan persatuan masyarakat, sedangkan dalam masyarakat Timur kapitalisme justru bersifat merusak. Dengan datangnya kapitalisme di masyarakat Timur ikatan-ikatan komunitas melemah , dan taraf hidup masyarakat menurun. Di Asia Tenggara sendiri lapisan atas mengalami Westernisasi dan Urbanisasi sedangkan lapisan bawah menjadi semakin miskin.
Menurut Boeke, gejala ini disebabkan karena kapitaslime telah mengakibatan terjadinya apa yang dinamakannya ekonomi dualitis (dual economy). Menurutnya, dalam hal ini kita menjumpai sejumlah antitesis, yaitu pertentangan antara faktor produksi masyarakat Barat yang dinamis dan masyarakat pribumi yang bersifat statis, masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan, ekonomi uang dan ekonomi barang, sentralisasi administrasi dan lokalisasi, kehidupan yang didominasi mesin dengan teknologiyang didominasi kekuatan alam, dan perekonomian produsen dan perekonomian konsumen. Konsep pemikiran yang dikembangkan oleh Boeke bisa disebut juga dengan konsep dual societies.
Menurut J.S. Furnivall, yang mempopulerkan konsep pemikiran masyarakat majemuk (plural societies), indonesia merupakan contoh masyarakat majemuk. “. . . a society, that is, comprising two or more elements or social orders which live side by side, yet without mingling, in one political unit. (Evers, 1980:86-96)”
Dalam gambarannya masyarakat indonesia terdiri atas sejumlah tatanan sosial yang hidup berdampingan tetapi tidak berbaur, namun menurutnya kelompok Eropa, Cina dan pribumi saling melekat laksana kembar siam danakan hancur bilamana dipisahkan, sebagaimana nampak dalam kutipan berikut: “. . . in Netherlands India, the European, Chinese dan native are linked as vitally as Siamese twins and if rent asunder, every element must dissolve in anarchy.”
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial dan budaya pada dasarnya merupakan sebuah gejala berubahnya struktur sosial, hubungan sosial dan aspek budaya dalam masyarakat. Perubahan sosial merupakan gejala alamiah (sifat manusia) dalam perjalanan kehidupan dari waktu ke waktu.


Apa saja wujud perubahan sosial budaya yang dimaksud ?
Setelah kita membahas beberapa hal penting mengenai perubahan di atas tentu saja kita perlu melihat apa saja wujud peubahan sosial budaya yang dimaksud. Di antaranya yaitu:
Distribusi kelompok usia. Seiring dengan perkembangan zaman kita bisa melihat bagaimana perkembangan jumlah penduduk di Indonesia. Dan dari tahun ke tahun pertambahan jumlah penduduk terus meningkat. Setiap generasi tentu saja jumlahnya juga berbeda. Pada zaman kemerdekaan, keluarga pada saat itu beranggapan bahwa semakin banyak anak maka semakin banyak pula rejekinya. Oleh sebab itu pertumbuhan angka kelahiran terus meningkat. Kemudian pemerintah melakukan sebuah kebijakan untuk mengendalikan jumlah penduduk, maka dari itu pemerintah menerapkan program KB bagi masyarakatnya guna mengendalikan angka kelahiran. Pada masa modern seperti saat ini, orang berkecenderungan untuk tidak memiliki anak karena mereka lebih memilih karir mereka, maka dari itu banyak keluarga muda yang mengadobsi anak. Kedua contoh di atas tentu saja menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan. Dengan adanya program KB dan sistem adobsi, menyebabkan pendistribusian kelompok usia menjadi tidak merata.
Tingkat pendidikan. Kita tahu bahwa saat ini untuk memperoleh pendidikan sangatlah sulit. Tingginya biaya menjadi salah satu kendala untuk memperoleh pendidikan. Dan karena mahalnya pendidikan tersebut maka hanya orang yang berkepunyaanlah yang bisa belajar, sedangkan orang miskin tak memiliki peluang untuk belajar. Dari situ kita bisa melihat bahwa pendidikan juga merupakan sebuah hal yang elit. Melihat hal yang seperti itu, pemerintah mengambil tindakan untuk mengadakan perubahan. Yaitu dengan adanya seubsidi pendidikan guna mencerdaskan bangsa. Langkah yang di ambil pemerintah merupakan sebuah langkah perubahan untuk memenrangi kebodohan dan memperkaya bangsa dengan pendidikan.
Kadar rasa kekeluargaan. Saat ini adalah zamannya era dimana orang sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Manusia mengejar kekayaan dan nafsu dunia. Ternyata sikap yang seperti ini berdampak pada keluarga. Tingkat kesibukan yang tinggi menyebabkan hubungan antar keluarga menjadi kurang harmonis atau hanya datar saja. Hubungan keluarga semakin renggang. Kurangnya waktu berkumpul antar anggota keluarga membuat arti dari sebuah keluarga mengalami pergeseran. Keluarga menjadi hanya sekedar keluarga dimana tidak ada rasa saling peduli satu sama lain. Tidak ada rasa kasih dan perhatian antar anggotanya. Salah satu kesempatan untuk berkumpul dengan setiap anggota keluarga adalah di rumah. Namun karena kesibukan itu tadi menyebabkan fungsi rumah menjadi berubah. Tanpa kita sadari rumah merupakan tempat dimana kita bisa berbagi kasih sayang, namun kesibukan menjadikan rumah hanya sebagai tempat singgah sesaat untuk makan, tidur dan beristirahat kemudian kembali lagi bekerja lagi. fungsi rumah sebagai sarana untuk memperoleh kasih sayang antar anggota keluarga menjadi hilang.
Informalitas hubungan antar tetangga. Ternyata dampak dari kesibukan manusia terhadap urusannya sendiri menjadi meluas. Dari tahap dalam keluarga sekarang berkembang ke tahap yang selanjutnya, yaitu masyarakat. Dulu orang saling mengenal satu sama lain dengan cara kerja bakti, ronda, berorganisasi dalam lingkungan dan pembentukan paguyuban. Namun sekarang, sulit sekali hal tersebut ditemukan, apalagi di kota-kota besar. Dari fenomena ini kita bisa melihat bahwa ada pergeseran dalam bersosialisasi dengan sesama dalam masyarakat. Setiap anggota masyarakat saat ini lebih memilih untuk mengurangi waktunya untuk bersosialisasi dengan yang lain.
Kata-kata baru dalam berbahasa. Hal ini dapat kita lihat dari cara kita berbicara dengan sesama. Saat ini banyak sekali jenis-jenis bahasa baru yang digunakan. Misalnya adanya bahasa gaul dan bahasa sms. Dengan berkembanganya segala aspek kehidupan ternyata berpengaruh juga terhadap perubahan bahasa. Dalam berbicara dengan sesama saja sekarang kita menggunakan kata sapaan “gw” dan “lu” tak hanya itu bahasa sms sekarang menunjukan perubahan dengan banyaknya variasi singkatan yang ditulis oleh si komunikator. Penggunaan bahasa baku sudah kurangi sesuai dengan era saat ini khususnya dalam hal interaksi verbal. Dari kasus di atas kita bisa lihat bahwa bahasa juga mengalami perubahan.
Tata susila dan sopan santun. Konteks sopan santun sangatlah luas sebab semuanya tergantung dengan budaya dari setiap masyarakat. Sebagia contoh yang lebih universal adalah mengenai adat berpamitan dalam masyarkat indonesia. Lagi-lagi karena kesibukan setiap orang menjadi penyebab perubahan aspek ini. Tingkat kesibukan yang tinggi menjadikan kita selalu terburu-buru, seakan-akan waktu 24 jam yang diberikan tidaklah cukup. Hal ini menjadikan “pamitan” terlupakan oleh sejumlah orang. Awalnya lupa dan kemudian menjadi kebiasaan dan akhirnya mendrah daging dalam dirinya.
Teknologi dan pembangunan. Dari waktu ke waktu teknologi kian maju dan semakin canggih dan perkembangan yang cukup pesat ini dibarengi dengan pembangunan yang juga pesat. Namun kita juga perlu melihat apakah perkembangan teknologi dan pembangunan memiliki dampak terhadap aspek lainnya. Saat ini kita tahu bahwa manusia lebih bersifat konsumtif ketimbang produktif. Kita boleh untuk konsumtif terhadap teknologi namun kita juga harus produktif untuk menciptakan sebuah teknologi jangan dulu bangga jadi pengguna, kita baru bisa bangga kalau kita juga bisa menciptakan suatu teknologi yang tepat guna.
Mentalitas Pembangunan
Mentalitas pembangunan adalah bayangan ke depan (cita-cita) mengenai bentuk masyarakat (Indonesia) seperti apa yang ingin kita capai dengan “pembangunan”.
Nilai-nilai yang harus dikembangkan:
- Nilai budaya yang berorientasi ke masa depan
- Nilai budaya yang mengeksplorasi alam dan mengembangkan teknologi (inovasi)
- Nilai yang menjunjung tinggi hasi karya manusia (Indonesia)
- Nilai budaya yang menghargai orang yang berusaha dan berhasil
- Mengubah nilai budaya yang berorientasi vertikal, seperti senioritas, budaya menunggu, harus minta restu, dan sebagainya.

Nilai budaya yang berorientasi ke masa depan merupakan perwujudan masyarakat yang berpikir panjang, bukan melakukan sesuatu tanpa dipikirkan konsekuensinya ke depan. Contohnya dalam hal pengadaan transjakarta busway di ibukota. Tujuan awal transjakarta busway adalah memudahkan mobilisasi masyarakat ibukota. Namun pemerintah daerah (Pemda) provinsi DKI Jakarta tidak berpikir panjang tentang dampak negatif yang akan muncul jika transjakarta busway telah terwujud. Dalam proses perwujudannya saja, pengerjaannya sudah membuat jalanan ibukota yang macet bertambah macet. Tata kota DKI Jakarta memang tidak dibangun untuk penambahan jalur busway. Jalan yang sudah dirancang untuk jalur sejumlah mobil, kini dipersempit dengan adanya busway. Transjakarta busway pun dirasa kurang efektif karena tidak mengurangi kemacetan. Pengguna transjakarta busway pada umumnya adalah pengguna kendaraan umum. Saat transjakarta busway selesai dibuat, mereka beralih ke transjakarta yang lebih nyaman dan aman, sementara kendaraan umum seperi bus kota di Jakarta tidak berkurang jumlahnya. Dapat disimpulkan, angkutan massal yang beroperasi di ibu kota bertambah jumlahnya, sementara jalur perjalannnya mereka makin sempit karena dipakai untuk busway. Hal tersebut merupakan contoh perwujudan nilai budaya yang tidak berorientasi ke masa depan. Bukannya memudahkan masyarakat, yang terjadi malah sebaliknya.
Sedangkan untuk mengembangkan nilai budaya yang mengksplorasi alam dan teknologi, bukan berarti kita membeli atau menggunakan teknologi milik orang (negara) lain. Semestinya masyarakat melakukan inovasi. Kalau terus-menerus menggunakan teknologi milik negara lain, masyarakat Indonesia akan tergantung pada negara tersebut. Contohnya saja, Indonesia mengimpor beras dari Thailand, padahal beras adalah bahan makanan pokok rakyat Indonesia. Seperti kita ketahui, saat ini (2008) Thailand tengah mengalami konflik dengan Kamboja. Bisa saja konflik tersebut memanas hingga menghalangi proses impor beras dari Thailand ke Indonesia. Bila hal tersebut terjadi, persediaan beras rakyat Indonesia akan berkurang, lalu apa yang dapat dilakukan? Satu-satunya cara adalah mulai untuk mengurangi ketergantungan bahan makanan pokoktersebut hingga pelan tetapi pasti rakyat Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri.
Masyarakat juga perlu menjunjung tinggi hasil karya (Indonesia). Pemilik dan pewaris hasil karya manusia Indonesia adalah rakyat Indonesia itu sendiri. Kelompok kami mengambil contoh berupa kerajinan batik. Kerajinan batik adalah warisan leluhur bangsa Indonesia yang bernilai budaya tinggi. Namun seperti kita ketahui, beberapa waktu lalu negara tetangga Indonesia, Malaysia, menyatakan bahwa ia adalah negara asal batik. Rakyat Indonesia geram, namun tidak dapat berbuat apa-apa karena rakyat Indonesia sendiri selama ini tidak menghargai batik sebagai warisan budaya yang patut dibanggakan. Baru akhir-akhir ini batik menjadi trend, dapat kita lihat di mall-mall besar sekarang ini banyak orang mengenakan batik. Hal ini patut disayangkan, masyarakat Indonesia baru mengambil sikap dan bangga memakai batik setelah pernyataan Malaysia tersebut.
Unttuk mendukung terwujudnya perubahan sosial budaya yang positif, masyarakat juga harus menghargai usaha orang yang berusaha dan berhasil. Fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia selama ini, banyak orang yang menganggap keberhasilan seseorang ada sangkut pautnya dengan hal-hal mistis; mereka tidak melihat usaha dan kerja keras seseorang membangun sesuatu dari nol hingga sukses. Contohnya usaha waralaba restoran bakmi Gajah Mada (GM). Saat baru berdiri, bakmi GM hanyalah sebuah kedai mie kecil di kawasan Kota, Jakarta. Namun saat ini outletnya sudah tersebar di berbagai penjuru ibukota. Kesuksesan tersebut tentu tidak datang begitu saja, namun dengan kerja keras dan jatuh bangun. Namun ada saja orang-orang yang iri lalu mengkaitkan kesuksesan bakmi GM dengan hal-hal mistis. Contohnya ada yang mengatakan bahwa mie di bakmi GM ”dijilat oleh makhluk gaib” sehingga rasanya enak, aatau ada juga yang mengatakan bahwa di dapur restoran pertama bakmi GM di kawasan Kota digantung mayat bayi untuk mendatangkan laba. Bukannya meneladani kerja keras pendiri bakmi GM, orang-orang tersebut malah menuduh bakmi GM melakukan hal-hal yang tak lazim. Dengan demikian usaha mereka sendiri tidak berkembang karena tidak mencontoh hal-hal positif dari kesuksesan oarng lain yang didapat dengan kerja keras.
Selain nilai-nilai di atas, untuk mendukung pembangunan Indonesia ke arah yang lebih baik, masyarakat Indonesia juga perlu mengubah nilai budaya yang berorientasi vertikal, seperti senioritas dan budaya menggu serta minta restu. Sudah menjadi hal yang umum di Indonesia bahwa untuk mengambil suatu keputusan atau melakukan sesuatu, seseorang harus meminta restu dari yang lebih tua atau yang memiliki wewenang lebih dari dirinya. Hal ini merupakan suatu budaya yang baik, namun jika kadarnya sudah berlebihan sehingga terbentuk suatu senioritas atau ”asal bapak senang”, hal itu bukan merupakan suatu hal yang baik lagi. Bisa saja karena keegoisan atau kepentingan pribadi, seorang atasan tidak mengizinkan bawahannya melakukan suatu hal yang positif. Masyarakat Indonesia harus berani untuk megubah budaya yang dapat menghambat kemajuan negaranya.
Nilai tradisional yang dianggap menghambat pembangunan
Nilai tradisional yang berkembang dalam masyarakat memiliki banyak pertentangan dengan adanya perubahan sosial. Nilai-nilai tersebut memberikan pengaruh kepada masyarakat Indonesia untuk mematuhi segala bentuk nilai yang dianggap sebagai ”ikatan”. Nilai-nilai tradisional yang ada dalam masyarakat sejak dulu, menjadi tertanam dalam benak masyarakat itu sendiri dan itu menyebabkan terhambatnya pembangunan. Masyarakat cenderung berpegang teguh pada apa yang telah diwariskan tanpa berfikir untuk merubah karena memiliki warisan yang harus dijalani.
Warisan tersebut berupa sikap seperti, menerima apa yang menjadi kodratnya sejak awal. Contohnya : seorang anak dari kelurga petani yang ingin sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi namun karena mengingat bahwa dia bukanlah keturunan priyayi maka dia enggan merubah kebiasaan tersebut.
Sebagian besar penduduk kita tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian sebagai petani, memiliki “mentalitas petani”. Sedangkan, di perkotaaan terdiri dari, pedagang, pengusaha, buruh dan pegawai, oleh karena itu lebih dominan memiliki “mentalitas priyayi”
Dengan begini perubahan sulit terjadi dan pembangunan hanya akan dirasakan oleh masyarakat yang memiliki mentalitas kuat. Dalam perkembangan nilai tradisional, seharusnya apa yang dapat mendukung pembangunan dapat menjadi suatu hal yang membawa kebaikan bagi masyarkat. Namun, sayangngya perubahan yang ada dalam nilai tersebut dianggap menentang apa yang telah ada oleh sebagian besar masyarakat yang merasa bahwa nilai tradisional tidak boleh ditentang. Seharusnya nilai tradisional tetap dipelihara, hanya saja harus menyesuaikan dengan perubahan agar dapat membangun.
Kelemahan mentalitas yang timbul dalam masyarakat
a. Meremehkan mutu
Masyarakat memiliki kcenderungan untuk memilih sebuah nama yang menggambarkan keunggulan orang lain. Nilai dalam masyarakat itu sendiri sesungguhnya merupakan hal yang menjadi sebuah simbol enggannya perubahan dan menatap sebuah perubahan sebagai hal yang agak negatif. Masyarakat lebih mempercayai apa yang mereka anggap baik, bagus dari apa yang mereka dapat dari pengalaman atau ajakan yang diberikan oleh orang-orang terdahulu. Misalnya saja, ketika kita harus membeli barang buatan Indonesia dan buatan luar negeri. Masyarakat kita lebih cenderung mempercayai produk luar negeri daripada produk sendiri dan hal tersebut menyebabkan masyarakat menjadi meremehkan mutu bangsanya sendiri.
b. Suka menerabas
Masyarakat Indonesia memiliki sikap ”curang”. Merupakan kebiasaan yang mereka dapat secara negatif. Nilai-nilai tradisional sendiri berkembang sendiri dalam kelompok masyarakat sesuai konsepsinya. Misalnya saja kebiasaan masyarakat desa yang mencaplok lahan orang lain untuk dibangun. Ketika itu, nilai tradisional diatasnamakan karena sebuah nilai itu ”kekeluargaan” jadi Wajar saja kalu boleh ”meminjam” padahal harusnya meminta ijin terlebih dahulu. Hal tersebut biasanya dilakukan oleh masyarakat yang kelasnya dianggap lebih tinggi.
c. Tak percaya pada diri sendiri
Masyarakat indonesia tidak dapat meempercayai apa yang dimilikinya, tidak dapat mempercayai apa yang dapat dilakukannya. Misalnya saja ketika harus bersaing dengan masyarakat yang kelasnya lebih tinggi.
d. Tidak disiplin
Masyarakta kita sering meniru kebiasaan para pendahulunya. Ketika seorang anak harus pergi ke sekolah pada pukul tujuh pagi, biasanya dia akan mengingat hal itu namun karena kebiasaan orangtua yang selalu telat mengantarnya, dia menganggap itu hal yang biasa sehingga menyebkan kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika dia dewasa.
e. Suka mengabaikan tanggungjawab
Masyarakat pedesaan yang menganggap suatu perubahan itu sebagai hal yang negatif terkadang membiarkan anak-anak mereka bekerja dengan mengabaikan apa yang harus mereka lakukan. Misalnya saja sekolah. Meskipun di pedesaan sekolah sangat jarang, ada beberapa masyarakat yang menganggap pendidikan tidak penting bagi kelas mereka, sehingga apabila anak mereka pergi ke sekolah mereka lebih memilih menyuruh mereka untuk bekerja di ladang. Pembinaan dan pengasuhan sejak dini (kecil) agar memiliki sikap ”achievement orientation”.
Mengembangkan mentalitas pembangunan
a. Memberi contoh yang baik : orientasi vertikal yang positif : sebagai alat
Untuk merubah nilai tradisional agar dapat menerima perubahan denmi tercapainya pembangunan, diperlukan sebuah pemikiran yang dapat mempengaruhi pandangan sebuah masyarakat yang menganut nilai tradisional tersebut agar dapat memberikan pandangan positif. Dengan begitu, masyarakat yang memang pada awalnya mengikuti warisan pikiran dari atas dapat merubah pola pikirnya sehingga apa yang berubah dari nilai tradisional tersebut memberikan dampak yang bagus bagi pembangunan, misalnya saja tentang pendidikan. Bahwa pendidikan itu penting bukan hanya bagi kaum priyayi.
b. Memberi perangsang yang cocok (motivasi)
Dengan memberikan sebuah pandangan baru kepada masyarakat yang menganut nilai-nilai tradisional, tentunya sedikit banyak dapat memepengaruhi cara pikir mereka. Dengan begitu mereka dapat perlahan-lahan menerima perubahan itu demi berkembangnya pembangunan. Dan perubahan itu tidak akan dianggap sebagai hal yang tidak wajar karena adanya perbedaan persepsi menegenai perubahan. Misalnya ketika para petani diajak untuk merubah cara pikirnya tentang pentingnya pendidikan yang harus didapatkan oleh anak-anak mereka. Bukan hanya untuk anak-anak priyayi. Namun tentu saja dengan tetap menjaga nilai tersebut. Jangan samapa ketika seorang anak yang telah berkemabng dalam pendidikan memilih untuk meninggalkan nilai-nilai tersebut demi untuk pembangunan. Bagaimanapun nilai tradisionallah yang turut menjaga kerukunan masyarakat.
c. Persuasi dan penerangan (komunikasi)
Dengan mengajak dan juga diberikannya penerangan tentang seperti apa pembangunan yang baik itu. Diharapkan dapat menjadikan sebuah keinginan untuk merubah nilai tradisional menjadi hal yang lebih positif. Dan tentu saja demi kemajuan yang positif.

No comments:

Post a Comment