Sunday, November 21, 2010

Language and Intergroup Communication


Language and Intergroup Communication
Riset mengidentifikasikan bahwa anggota dari suatu etnis tertentu akan lebih mudah membagi bahasa yang dmereka gunakan daripada membagi latar belakang budaya mereka kepada orang lain. (Giles, Taylor, and Bourhis)
Bahasa adalah abstract system yang terdiri dari aturan-aturan (The abstract rules) yakni :
1.      Fonologi adalah bidang dalam linguistik yg menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
2.      Sintaksis adalah (1) pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar; (2) cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat; (3) sub-sistem bahasa yg mencakup hal tersebut.
3.      Semantik ilmu tentang makna kata dan kalimat; pengetahuan mengenai seluk-beluk dan pergeseran arti kata; (2) bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan atau struktur makna suatu wicara.
4.      Pragmatis adalah (1) bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dengan nilai-nilai praktis; (2) mengenai atau bersangkutan dengan pragmatisme.
      (KBBI Online)

The abstract rules diimplementasikan dalam cara bicara, tulisan, dan simbol-simbol yang digunakan dalam bahasa saat pembuatan pesan. Dalam bahasa, ’kata’ yang diucapkan menjadi media dan cara bicara (aksen, logat, nada suara) ikut menjadi simbol-simbol dalam menginterpretasikan suatu pesan.
Dalam intergroup, masing-masing memiliki ethnic speech style.  Contoh sederhana di Indonesia, ketika kelompok dari orang-orang yang berasal dari Bandung, aksen bicaranya akan dipengaruhi oleh budaya dari dalam kelompok tersebut. Contoh di luar negeri adalah, aksen bahasa inggris yang digunakan oleh orang kulit hitam dan orang Prancis dibandingkan dengan orang yang berasal dari Inggris.



A.     Social Psychological Factors
a. Etnolinguistik Identity
Etnolinguistik adalah cabang linguistik yg menyelidiki hubungan antara bahasa dan masyarakat pedesaan / masyarakat yg belum mempunyai tulisan. (KBBI Online)
Individuals perceive themselves as belonging to social groups and recognition of the membership in these groups carries with it a knowledge of the values, positive and negative attached to this group
Giles & Johnson berpendapat bahwa orang, sebelum berkomunikasi biasanya:
1.      Identify with an ingroup that considers language is important
2.      Make insecure comparisons with other ethnic groups
3.      Perceive their group’s ethnolinguistic vitality to be high
4.      Perceive boundaries between their group and other groups to be closed & hard
5.      Do not identify strongly with other social categories
6.      Perceive little categories membership overlaps with the person with whom they are interacting
7.      Do not derive a strong social identity from other social category memberships
8.      Perceive their status to be higher in their ethnic group than in other social category memberships.

b. Stereotype
Stereotypes is a certain generalization reached by individuals. The main function of the process is to simplyfy or systematize, for purposes of cognitive and behavioral adaptation, the abundance and complexity of the information received from its environment by the human organism. Four generalizations that point out that stereotypes provide the context of social categories :
·  stereotypes is the result of cognitive biases stemming from illusory correlations between group membership and psychological attributes
·  stereotypes influence the way information is processed
·  stereotypes create expectancies about others
stereotypes constrain other’s patterns of communication and engender ST-confirming communication
c. Language Attitudes
Penelitian secara luas telah dilakukan mengenai perilaku berbahasa. Penelitian dari Inggris dan Kanada menyebutkan bahwa pemakaian bahasa yang tidak sesuai standar menerima evaluasi lebih rendah pada faktor-faktor seperti kecerdasan dan kepercayaan diri. Lebih dari itu penelitian mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan aksen yang dibuat berdasarkan derajat. Dan perilaku berbahasa juga dipengaruhi oleh stereotipe etnik, kelas sosial, dan situasi di mana bahasa tersebut dipergunakan.
Standarisasi bahasa dan vitalitas bahasa adalah dua faktor besar yang menentukan perilaku berbahasa. Namun kedua hal tersebut tidak cukup untuk menjelaskan proses komunikasinya. Sesuai dengan teori identitas ethnolinguistik, Giles dan Ryan menjelaskan perilaku berbahasa dari anggota grup sebagai fungsi dari situasi di mana suatu bahasa dipergunakan. Dua dimensi yang spesifik (status/solidarity stressing dan person/group centered) digunakan untuk mengevaluasi situasi dan pemilihan bahasa.
Dalam situasi di mana terdapat penekanan solidaritas dan pemusatan terhadap grup lebih dominan, setiap individunya berbeda secara bahasa dari anggota outgrup. Ketika dimensi penekanan status dan pemusatan terhadap seorang lebih menonjol, individual cenderung untuk berkumpul secara linguistik dengan anggota dari outgrup.
Penelitian dari Ryan, Hewstone, dan Giles tahun 1984 meneruskan penelitian pada tahun 1982, untuk mengambil bagian dari dinamika dalam suatu grup yaitu proses sosial atribut, dan representatif kognitif dari kekuatan operasi dalam perkumpulan sosial. Mereka berpendapat bahwa evaluasi dari komunikator adalah sebuah fungsi dari keadaan sosiostruktural, situasi sosial yang terdekat, si pemicara itu sendiri, orang-orang yang melakukan penilaian, dan proses-proses kognitif.
Model perilaku berbahasa dari sebuah grup terbagi dalam 4 pola atau acuan bahasa:
  1. Profil A melibatkan preferensi dalam kedua kelompok untuk kelompok-kelompok dominan. Profil ini dibagi ke dalam (1a) kelompok bawahan untuk kelompok dominan adalah karena "benci diri" dan (1b) kelompok bawahan menghubungkan status mereka untuk “nilai negatif” mereka dalam  keanggotaan kelompok
  2. Profil B melibatkan preferensi untuk kelompok dominan dalam hal status, dan preferensi untuk ingrup dalam hal solidaritas.
  3. Profil C melibatkan situasi dimana terdapat status yang sama antara kelompok dengan preferensi ingroup.
  4. Profil D melibatkan preferensi untuk kelompok dominan dalam hal status, tapi preferensi solidaritas untuk kelompok bawahan.
Masing-masing pola ini mengarah ke sikap bahasa yang berbeda dan terjadi di bawah kondisi yang berbeda.

d. Communication Accomodation
Ada kecenderungan untuk anggota ingroup untuk bereaksi baik terhadap anggota outgroup, yang dalam segi bahasa menyatu ke arah mereka. Namun ini tidak selalu terjadi. Giles dan Byrne menunjukkan bahwa sebagai anggota sebuah outgroup, kita mulai belajar gaya bicara ingroup tersebut. Anggota ingroup akan berbeda dalam beberapa cara, sehingga dapat menjaga kekhasan linguistik mereka. Reaksi terhadap konvergensi pembicaraan anggota outgroup tergantung pada maksud, dan dihubungkan dengan si pembicara itu sendiri. SimakPembicaraan untuk divergensi dan / atau pemeliharaan, dapat digunakan untuk menyatakan identitas positif suatu kelompok.
Nilai-nilai budaya / etnis mempengaruhi sifat akomodasi yang terjadi. Penelitian Bond dan Yang, misalnya, mengungkapkan bahwa di Hongkong terdapat nilai dan budaya Cina yang berlaku. Semakin mereka mempertunjukkan penegasan etnis, maka mereka kurang menampilkan akomodasi antaretnis. Konteks juga mempengaruhi akomodasi. Penelitian di Taiwan menunjukkan bahwa penjual mengakomodasi dengan menggunakan bahasa pelanggan, sedangkan pelanggan di bank mengakomodasi penggunaan bahasa petugas bank. Dengan kata lain, bahasa yang dipakai itu sendiri juga mempengaruhi akomodasi.
Penelitian Genesee dan Bourhis (1982) mempelajari pengaruh norma situasional, status sosiokultural, ingroup favoritisme, dan akomodasi interpersonal dalam evaluasi pertukaran kode. Temuan mereka menunjukkan bahwa kategori sosial dan norma-norma situasional berinteraksi untuk mempengaruhi evaluasi pemilihan bahasa, dan bahwa interaksi ini juga mempengaruhi peran favoritisme ingroup. Mereka berpendapat bahwa evaluasi pertukaran kode salah satu kelompok oleh anggota lain, bahasa yang dipilih pada awalnya didasarkan pada norma dan situasi yang berlaku, dan juga didasarkan pada akomodasi bahasa interpersonal, kemudian menyatu dalam percakapan. Satu penjelasan yang masuk akal adalah bahwa individu mulai kurang melihat orang lain, dalam hal menjadi anggota sebuah kategori sosial, dan lebih sebagai individu yang berbeda.
Bourhis pada tahun 1985 meneruskan penelitiannya, (dahulu bersama Genesee pada tahun 1982) menganalisis dalam upaya untuk mengintegrasikan pendekatan akomodasi sosiolinguistik dan pidato untuk pertukaran kode. Dia memeriksa komunikasi pelanggan-petugas antara Anglophones Quebec dan Francophoes. Penelitiannya mengungkapkan bahwa evaluasi pendengar terhadap dialog tergantung pada interaksi dinamis dari faktor termasuk norma situasional, status bahasa, akomodasi interpersonal dan ingroup favoritisme.
Data-data Bourhis mengindikasikan bahwa situasi berikut adalah strategi paling aman di awal pertemuan negara, antarkelompok bermusuhan. Tetapi strategi normatif yang diterapkan dalam tahap awal, kemudian tergantung pada tujuan komunikator itu sendiri. Keinginan untuk menegaskan identitas kelompok, dan tanggapan afektif mereka satu sama lain. Namun pilihan awal mempengaruhi pilihan dalam percakapan yang berlangsung. Bourhis menguraikan penelitian untuk memperluas baris ini, yaitu pekerjaan yang harus menggunakan bahasa atasan-bawahan dalam pemerintah Kanada.
Pernyataan Giles, Mulac, Bradac, dan Johnson (1986) menerapkan teori akomodasi, diperluas untuk komunikasi yang lebih umum. Giles dan rekan-rekannya (1986) berpendapat bahwa konvergensi komunikasi adalah fungsi dari keinginan pembicara untuk persetujuan sosial, untuk efisiensi komunikasi yang tinggi, untuk presentasi diri atau kelompok bersama, dan untuk definisi identitas yang sesuai. Prasyarat untuk konvergensi komunikasi juga memerlukan persaingan antara tampilan komunikator, gaya pidato komunikan, dan pidato aktual yang digunakan, pidato yang dihargai dalam situasi tersebut, dan bahwa gaya bicara tertentu yang digunakan harus sesuai bagi kedua pembicara. Sebaliknya, keinginan komunikator berfungsi untuk menggambarkan "kontrastif" diri, yaitu untuk memisahkan diri dari komunikan, untuk mengubah perilaku pidato komunikan, dan untuk menentukan pertemuan dalam hal antargolongan. Penyimpangan lebih lanjut terjadi ketika komunikan menggunakan gaya pidato yang menyimpang dari norma yang dihargai dan konsisten dengan harapan komunikator mengenai kinerja komunikan.

B. Sosiolinguistic Factors
Menurut kamus besar bahasa Indonesia Sosiolinguistik adalah :
(1)         ilmu tata bahasa yg digunakan di dl interaksi sosial
(2)         cabang linguistik mengenai hubungan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial.
Faktor sosialinguistik memberikan pengaruh kepada grup-grup tertentu dalam menggunakan identitasnya yakni bahasa. Bahasa dijadikan alat untuk berkomunikasi dan mempertahankan identitas suatu grup tertentu.
Berikut pembahasan sosiolinguistic factors :
  1. Group Vitality
Ada dua tipe Group Vitality yakni objektif dan subjektif. Objektif  bagaimana anggota grup melihat posisi grup mereka sendiri, sedangkan subjektif adalah bagaimana posisi grup tersebut berdasarkan keikutsertaan dalam kegiatan yang dilakukan. Contoh, PBB sebagai lembaga perserikatan bangsa-bangsa.
Misalnya dalam Universal Declaration of Human Right (UDHR) dalam sosialisasinya keikutsertaan masyarakat dunia, hasil dari deklarasi tersebut diterjemahkan ke dalam 375 bahasa.
The UDHR and its core values, inherent human dignity, non-discrimination, equality, fairness and universality, apply to everyone, everywhere and always
Tiga hal yang memengaruhi ethnolinguistic vitality yakni : status, demographic, institutional support.
Status dalam hal ini merupakan prestige dari bahasa yang digunakan oleh kelompok tersebut, misalnya dalam penggunakan bahasa Jawa untuk kata ’siapa’ yakni sinten dan sopo memiliki makna yang sama tapi menunjukkan perbedaan dalam hal tingkatan kesopanan berbicara. Demografi menyangkut negara dari kelompok tersebut dan institutional support menyangkut penggunaan bahasa.
b.      Speech Norms
Menurut McKirnan and Hamayan (1984) proposed a general social psychological model of social norms. ”The factors in their model include the ’content’ of the speech norm, the ’clarity’ of the expectancies associated with it, and ’evaluate’ (positive or negative) strength of the norm.”
Kelompok etnosentris (anggapan bahwa kelompok atau negaranya paling unggul) memiliki kecenderungan berkomunikasi dengan orang dari luar grup sedikit dibandingan dengan orang non etnosentris.  Meski begitu, salah satu cara untuk mendekatkan atau membuat komunikasi lancar adalah dengan speech norm tersebut.
Contoh : etnosentris masyarakat golongan tua di Jepang yang masih trauma dengan perang dunia II, enggan menggunakan produk luar negeri terutama dari Amerika dan Jerman.
Contoh lain dalam sidang tahunan Majelis Umum PBB pidato Presiden Iran Ahmadinejad.
Dalam pidatonya, Ahmadinejad juga mengusulkan agar PBB melakukan penyelidikan independen atas serangan teroris 11 September 2001. Sehingga di masa mendatang, sah-sah saja untuk mengungkapkan pandangan mengenai peristiwa itu. Ahmadinejad mencetuskan ada sejumlah juga teori mengenai apa yang terjadi pada 11 September 2001. Salah satu teori, menurut Ahmadinejad, adalah sebuah kelompok teroris melakukan serangan itu dan pemerintah AS memanfaatkannya untuk melancarkan perang di Timur Tengah. Teori lainnya, pemerintah AS mendalangi serangan itu untuk menyelamatkan rezim Zionis.
Ironisnya, sebelum pidato Ahmadinejad, Presiden AS Barack Obama menyampaikan pidato yang bernada konsiliasi terhadap Iran. Dalam pidatonya di sidang tahunan PBB itu, Obama mengatakan, negara-negara besar tetap menginginkan dialog dengan Teheran soal program nuklirnya. Namun hanya beberapa jam kemudian, Ahmadinejad justru membalas pidato Obama itu dengan kata-kata yang menimbulkan kekesalan AS. (detikcom/f)

c.       Second - Language Competence
Bahasa yang menjadi identitas suatu grup tertentu menjadi bahasa utama sedangkan bahasa kedua merupakan bahasa di luar grup yang bukan merupakan bahasa ibu yang diajarkan sejak kecil.
Second Language dapat menjadi simbol kekuasaan dari otoritas tertentu, baik secara ekonomi, kebebasan bernegara, maupun kehidupan sosial.
Contoh : Aljazair – Perancis, Brazil & Filipina – Portugis
d.      Code Switching
Etnolinguistik menjadi identitas dari suatu grup atau kelompok, dalam suatu penelitian yang dilakukan San Antonio (1987) tentang identitas etnolinguistik dalam intergrup communication dalam perusahaan Amerika yang dididrikan di Jepang. Berbicara menggunakan bahasa Jepang sangat erat dengan identitas etnolinguistik. Meskipun aturan penggunaan bahasa inggris sangat ketat, namun penggunaan bahasa jepang merupakan identitas tersendiri dari kelompok tersebut.

C.     Conclusion
Bahasa menjadi bahasan dalam intercultural communications. Hal-hal yang dibahas mengenai etnolinguistik dan sosiolinguistik sangat berkaitan dan berguna dalam riset intercultural communication. Kenapa demikian? Karena masing-masing kelompok memiliki bahasa dan aturan tersendiri yang dikomunikasikan baik di dalam kelompok maupun ke luar kelompok tersebut.
Dalam intercultiral communication, penggunaan bahasa sangat mendukung dan penting guna mendalami dan memahami ’kepentingan-kepentingan’ yang ingin dicapai. Dalam komunikasi internasioanal, penggunaan bahasa sangat penting untuk menyampaikan maksud dan tujuan agar dapat mencapai kesepakatan. Contoh adalah penggunaan bahasa inggris sebagai bahasa internasional.




Tuesday, September 28, 2010

Seventh Semester Evribadehhh

I'm entering seventh semester now... well actually, feel lil anxious about my last year in college ... I dont know do i have to post some 'paper' or not, because i'd internship!!! Yeiy!! So happy, so glad, and impatient to got the next assignment!! Wohoooo....

Tuesday, June 15, 2010

Take Home Test Opini Publik UAS Semester 6

I

Pendahuluan

 

I.1 Sejarah PLTN di Indonesia

Sampai saat ini Indonesia belum berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sehingga belum ada sebuah pun PLTN yang dapat dioperasikan untuk mengurangi beban kebutuhan energi listrik yang saat ini semakin meningkat di Indonesia. Padahal energi nuklir saat ini di dunia sudah cukup berkembang dengan menguasai pangsa sekitar 16% listrik dunia. Hal ini menunjukkan bahwa energi nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternatif yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Berdasarkan statistik PLTN dunia tahun 2002 terdapat 439 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia dengan kapasitas total sekitar 360.064 GWe, 35 PLTN dengan kapasitas 28.087 MWe sedang dalam tahap pembangunan. PLTN yang direncanakan untuk dibangun ada 25 dengan kapasitas 29.385 MWe. Kebanyakan PLTN baru dan yang akan dibangun berada di beberapa negara Asia dan Eropa Timur. Memang di negara maju tidak ada PLTN yang baru, tetapi ini tidak berarti proporsi listrik dari PLTN akan berkurang. Di Amerika beberapa PLTN telah mendapatkan lisensi perpanjangan untuk dapat beroperasi hingga 60 tahun, atau 20 tahun lebih lama daripada lisensi awalnya. 

Di Indonesia, ide pertama untuk pembangunan dan pengoperasian PLTN sudah dimulai pada tahun 1956 dalam bentuk pernyataan dalam seminar-seminar yang diselenggarakan di beberapa universitas di Bandung dan Yogyakarta. Meskipun demikian ide yang sudah mengkristal baru muncul pada tahun 1972 bersamaan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (Departemen PUTL). Kemudian berlanjut dengan diselenggarakannya sebuah seminar di Karangkates, Jawa Timur pada tahun 1975 oleh BATAN dan Departemen PUTL, dimana salah satu hasilnya suatu keputusan bahwa PLTN akan dikembangkan di Indonesia. Pada saat itu juga sudah diusulkan 14 tempat yang memungkinkan di Pulau Jawa untuk digunakan sebagai lokasi PLTN, dan kemudian hanya 5 tempat yang dinyatakan sebagai lokasi yang potensial untuk pembangunan PLTN.

Pada perkembangan selanjutnya setelah dilakukan beberapa studi tentang beberapa lokasi PLTN, maka diambil suatu keputusan bahwa Semenanjung Muria adalah lokasi yang paling ideal dan diusulkan agar digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTN yang pertama di Indonesia. Disusul kemudian dengan pelaksanaan studi kelayakan tentang introduksi PLTN yang pertama pada tahun 1978 dengan bantuan Pemerinatah Itali, meskipun demikian, rencana pembangunan PLTN selanjutnya terpaksa ditunda, untuk menunggu penyelesaian pembangunan dan pengoperasian reaktor riset serbaguna yang saat ini bernana “GA Siwabesy” berdaya 30 MWth di Puspiptek Serpong.

Pada tahun 1985 pekerjaan dimulai dengan melakukan reevaluasi dan pembaharuan studi yang sudah dilakukan dengan bantuan International Atomic Energy Agency (IAEA), Pemerintah Amerika Serikat melalui perusahaan Bechtel International, Perusahaan Perancis melalui perusahaan SOFRATOME, dan Pemerintah Itali melalui perusahaan CESEN. Dokumen yang dihasilkan dan kemampuan analitis yang dikembangkan dengan program bantuan kerjasama tersebut sampai saat ini masih menjadi dasar pemikiran bagi perencanaan dan pengembangan energi nuklir di Indonesia khususnya di Semenanjung Muria.

Pada tahun 1989, Pemerintah Indonesia melalui Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN) memutuskan untuk melakukan studi kelayakan yang komprehensif termasuk investigasi secara mendalam tentang calon tapak PLTN di Semenanjung Muria Jawa-Tengah. Pelaksanaan studi itu sendiri dilaksanakan di bawah koordinasi BATAN, dengan arahan dari Panitia Teknis Energi (PTE), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan dilakukan bersama-sama oleh beberapa instansi lain di Indonesia.

Pada bulan Agustus tahun 1991, sebuah perjanjian kerja tentang studi kelayakan telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Perusahaan Konsultan NEWJEC Inc. Perjanjian kerja ini berjangka waktu 4,5 tahun dan meliputi pelaksanaan pekerjaan tentang pemilihan dan evaluasi tapak PLTN, serta suatu studi kelayakan yang komprehensif tentang kemungkinan pembangunan berbagai jenis PLTN dengan daya total yang dapat mencapai 7000 MWe. Sebagian besar kontrak kerja ini digunakan untuk melakukan pekerjaan teknis tentang penelitian pemilihan dan evaluasi tapak PLTN di lokasi tapak di Semenanjung Muria.

Pada 2 tahapan pekerjaan yang pertama (Step 1-2) sudah dilakukan dengan baik pada tahun 1992 dan 1993. Pada fase ini 3 buah calon tapak yang spesifik sudah berhasil dilakukan dengan studi perbandingan dan ditentukan rangkingnya. Sebagai kesimpulan didapatkan bahwa calon tapak terbaik adalah tapak PLTN Ujung Lemahabang. Kemudian tahapan kegiatan investigasi akhir (Step-3) dilakukan dengan mengevaluasi calon tapak terbaik tersebut untuk melakukan konfirmasi apakah calon tapak tersebut betul dapat diterima dan memenuhi standar internasional. Studi tapak PLTN ini akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1995. Secara keseluruhan, studi tapak PLTN di Semanjung Muria dapat diselesaikan pada bulai Mei tahun 1996. Selain konfirmasi kelayakan calon tapak di Semanjung Muria, hasil lain yang penting adalah bahwa PLTN jenis air ringan dengan kapasitas antara 600 s/d 900 MWe dapat dibangun di Semenanjung Muria dan kemudian dioperasikan sekitar tahun 2004 sebagai solusi optimal untuk mendukung sistem kelistrikan Jawa-Bali.

Pada tahun-tahun selanjutnya masih dilakukan lagi beberapa studi tambahan yang mendukung studi kelayakan yang sudah dlakukan, antara lain studi penyiapan “Bid Invitation Specification” (BIS), studi pengembangan dan evaluasi tapak PLTN, studi perencanaan energi dan kelistrikan nasional dan studi pendanaan pembangunan PLTN. Selain itu juga dilakukan beberapa kegiatan yang mendukung aktivitas desain dan pengoperasian PLTN dengan mengembangkan penelitian di beberapa fasilitas penelitian BATAN, antara lain penelitian teknologi dan keselamatan PLTN, proteksi radiasi, bahan bakar nuklir dan limbah radioaktif serta menyelenggarakan kerjasama internasional dalam bentuk partisipasi desain PLTN.

Akibat krisis multidimensi yang terjadi pada tahun 1998, maka dipandang layak dan perlu untuk melakukan evaluasi kembali tentang kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) energi khususnya kelistrikan di Indonesia. Untuk itu suatu studi perancanaan energi dan kelistrikan nasional jangka panjang “Comprehensive Assessment of Different Energy Resources for Electricity Generation in Indonesia” (CADES) yang dilakukan dan diselesaikan pada tahun 2002 oleh sebuah Tim Nasional di bawah koordinasi BATAN dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dengan dukungan IAEA.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi di Indonesia diproyeksikan meningkat di masa yang akan datang. Kebutuhan energi final (akhir) akan meningkat dengan pertumbuhan 3,4% per tahun dan mencapai jumlah sekitar 8146 Peta Joules (PJ) pada tahun 2025. Jumlah ini adalah sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan kebutuhan energi final di awal studi tahun 2000. Pertumbuhan jenis energi yang paling besar adalah pertumbuhan kapasitas pembangkitan energi listrik yang mencapai lebih dari 3 kali lipat dari kondisi semula, yaitu dari 29 GWe di tahun 2000 menjadi sekitar 100 GWe di tahun 2025. Jumlah kapasitas pembangkitan ini, sekitar 75% akan dibutuhkan di jaringan listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali). Dari berbagai jenis energi yang tersedia untuk pembangkitan listrik dan dilihat dari sisi ketersediaan dan keekonomiannya, maka energi gas akan mendominasi penyediaan energi guna pembangkitan energi listrik, sekitar 40% untuk wilayah Jamali. Energi batubara akan muncul sebagai pensuplai kedua setelah gas, yaitu sekitar 30% untuk wilayah Jamali. Sisanya sekitar 30% untuk akan disuplai oleh jenis energi yang lain, yaitu hidro, mikrohidro, geothermal dan energi baru dan terbarukan lainnya. Diharapkan energi nuklir dapat menyumbang sekitar 5-6% pada tahun 2025.

Mengingat situasi penyediaan energi konvensional termasuk listrik nasional di masa mendatang semakin tidak seimbang dengan kebutuhannya, maka opsi nuklir dalam perencanaan sistem energi nasional jangka panjang merupakan suatu solusi yang diharapkan dapat mengurangi tekanan dalam masalah penyediaan energi khususnya listrik di Indonesia. Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan tersebut di atas maka diharapkan pernyataan dari semua pihak yang terkait dengan pembangunan energi nasional bahwa penggunaan energi nuklir di Indonesia sudah diperlukan, dan untuk itu perlu dimulai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sekitar tahun 2010, sehingga sudah dapat dioperasikan secara komersial pada sekitar tahun 2016.

BATAN sebagai Lembaga Pemerintah, berdasarkan Undang-undang No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, telah dan akan terus bekerjasama dengan Lembaga Pemerintah terkait, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga dan Masyarakat Internasional, dalam mempersiapkan pengembangan energi nuklir di Indonesia, khususnya dalam rangka mempersiapkan pengembangan energi nuklir tersebut adalah studi dan kajian aspek energi, teknologi, keselamatan, ekonomi, lingkungan hidup, sosial-budaya, dan manajemen yang tertuang dalam bentuk rencana strategis 2006-2010 tentang persiapan pengembangan energi nuklir di Indonesia.

 

 

 


 

II

Teori-teori Tentang Propaganda dan Persuasi

 

The Theory of Cognitive Dissonance (Teori Disonansi Kognitif)

Istilah disonansi kognitif dari teori yang ditampilkan Festinger ini berarti ketidaksesuain antara kognisi sebagai aspek sikap dengan perilaku yang terjadi pada diri seseorang. Orang yang mengalami disonansi akan beruapaya mencari dalih untuk mengurangi disonansinya. Pada umunya orang berperilaku ajeg atau konsisten dengan apa yang diketahuinya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa sering pula seseorang berperilaku tidak konsisten seperti itu. Jika seseorang mempunyai informasi atau opini yang tidak menuju ke arah menjadi perilaku, maka informasi atau opini itu akan menimbulkan disonansi dengan perilaku.

 

Mass media and social contruction of reality

Media di manapun memiliki kekuatan yang signifikan dalam melakukan produksi dan reproduksi citra politik. Asumsi seperti ini relevan dengan pendapat Tuchman, yang mengatakan seluruh isi media sebagai realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality). Media pada dasarnya menyusun realitas hingga membentuk sebuah “cerita” (Tuchman, 1980). Wajar jika kemudian muncul rumusan “siapa munguasai media maka akan menguasai dunia”.

Proses konstruksi citra melalui media, dilihat dari perspektif kerangka teori Berger dan Luckman (1966), berlangsung melalui suatu interaksi sosial. Proses dialektis yang menampilkan tiga bentuk realitas yakni subjective reality, symbolic reality, objective reality. Ketika seorang tokoh tampil sebagai fakta yang berada di luar diri publik, dan tampil seperti apa adanya itulah objective reality. Sementara itu, semua ekspresi simbolik dari apa yang dihayati sebagai “objective reality” termasuk di dalamnya isi media (media content), dikategorikan sebagai simbolic reality. Pada realitas simbolik inilah sebenarnya terletak kekuatan media. Karena secara nyata, konstruksi definisi tentang realitas yang dimiliki individu-individu (subjective reality) ini sangat dipengaruhi oleh ekspresi simbolik yang diberikan media. Realitas simbolik di TV, majalah, koran, radio dan lain-lainnya inilah yang kemudian mempengaruhi opini warga masyarakat

Agenda Setting Theory

Media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi agenda media kepada agenda publik. Teori Agenda Setting didasari oleh asumsi demikian. Teori ini sendiri dicetuskan oleh Profesor Jurnalisme Maxwell McCombs dan Donald Shaw.

Menurut McCombs dan Shaw, “we judge as important what the media judge as important.” Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Jika media massa menganggap suatu isu itu penting maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali.

Denis McQuail (2000: 426) mengutip definisi Agenda Setting sebagai “process by which the relative attention given to items or issues in news coverage infulences the rank order of public awareness of issues and attribution of significance. As an extension, effects on public policy may occur.”

Walter Lipmann pernah mengutarakan pernyataan bahwa media berperan sebagai mediator antara “the world outside and the pictures in our heads”. McCombs dan Shaw juga sependapat dengan Lipmann. Menurut mereka, ada korelasi yang kuat dan signifikan antara apa-apa yang diagendakan oleh media massa dan apa-apa yang menjadi agenda publik.

Awalnya teori ini bermula dari penelitian mereka tentang pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 1968. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa ada hubungan sebab-akibat antara isi media dengan persepsi pemilih. McCombs dan Shaw pertama-tama melihat agenda media. Agenda media dapat terlihat dari aspek apa saja yang coba ditonjolkan oleh pemberitaan media terebut. Sedangkan dalam mengukur agenda publik, McCombs dan Shaw melihat dari isu apa yang didapatkan dari kampanye tersebut. Temuannya adalah, ternyata ada kesamaan antara isu yang dibicarakan atau dianggap penting oleh publik atau pemilih tadi, dengan isu yang ditonjolkan oleh pemberitaan media massa.

McCombs dan Shaw percaya bahwa fungsi agenda-setting media massa bertanggung jawab terhadap hampir semua apa-apa yang dianggap penting oleh publik. Karena apa-apa yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau masyarakat.

Respon terhadap kenyataan tersebut adalah terjadinya perubahan orientasi dalam studi agenda setting bahwa agenda setting bukan hanya suatu gejala melainkan sebuah proses yang berlangsung terus menerus (on going process). Berdasarkan perspektif ini, pemenuhan (coverage) variabel dalam studi agenda setting menjadi sangat luas, karena melibatkan faktor-faktor yang merupakan bagian dari proses terbentuknya agenda media dan agenda publik dan sekaligus bisa digunakan untuk menjelaskan mengapa efek media sangat besar, kecil, atau tidak ada sama sekali.

 

Theories of message production

Implikasi teori produksi pesan -logika desain pesan (B.J. O’keefe)- dapat ditinjau pada teori manajemen makna terkoordinasi (berdasarkan penelitian W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen). Teori ini menyatakan bahwa individu membuat interpretasi berdasarkan aturan-aturan sosialnya. Individu dalam situasi sosial pertama-tama didorong oleh keinginan untuk memahami apa yang sedang terjadi dan menerapkan aturan-aturan untuk mengetahui segala sesuatu. Pada tahap lanjutan individu bertindak atas dasar pemahaman mereka, dengan menggunakan aturan-aturan untuk memutuskan jenis tindakan yang sesuai. Pada titik inilah desain pesan dioperasikan oleh individu dalam tindak komunikasinya, desain pesan dilakukan agar tindakan dan pernyataan dapat menciptakan komunikasi yang interaktif. (Ardianto dan Bambang Q. Anees, 2007:166)

 

 


 

III

Opini Publik

 

 

Apa yang terlintas di benak individu jika mendengar kata ‘nuklir’? Tepat atau tidak, peristiwa Nagasaki dan Hirosima pada tahun 1945 oleh Amerika pasti akan masuk record peristiwa yang pertama kali muncul saat mendengar kata ‘nuklir’. Bagaimana tidak, nuklir seperti memiliki kekuatan maha dahsyat yang mampu menghancurkan dua kota besar di Jepang dalam waktu beberapa menit saja. Dapat dibayangkan seberapa bahaya dan kuatnya energy yang tersimpan dalam atom-atom nuklir.

Lantas, apakah nuklir sangat berbahaya? Jawabannya ya dan tidak, tergantung pada cara pengelolaan tenaga nuklir itu sendiri. Di Negara adidaya seperti Amerika, nuklir menjadi sumber energy listrik, hal ini membawa ingatan kembali ke masa Presiden Roland, ketika OPEC memboikot minyak masuk ke Amerika. Sejak saat itu, masyarakat amerika mulai mendukung berkembangnya PLTN dan terbukti hingga saat ini, bahwa PLTN aman digunakan dengan bijak. Tidak hanya Amerika, Negara di asia seperti Korea Selatan pun ikut menggunakan PLTN guna menghindari kelangkaan listrik yang mungkin menimpa jika sumber daya alam semakin menipis.

Nuklir sendiri memberikan mimic menyeramkan bagi masyarakat. Sejarah panjangnya yang mampu membuat Negara seperti Jepang ‘tertidur’ sementara. Persepsi inilah yang memunculkan ketakutan masyarakat terhadap nuklir. Perlu disadari bahwa tidak semua masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk menangkap informasi dengan mudah dan benar. Belum lagi kemungkinan salah informasi dan propaganda dari pihak yang tidak menginginkan proyek PLTN ini berjalan baik.

Isu mengenai pembangunan PLTN di Semenanjung Muria adalah isu yang cukup lama berkembang sejak tahun 1960an. Di mulai dari proses penelitian tempat hingga studi mengenai jumalh tenaga nuklir yang dapat menghasilkan aliran listrik untuk Jawa, Madura, dan Bali. Apa sebenarnya Nuklir? Mengapa dalam proses pembangunan dan penyosialisasikannya memakan waktu yang cukup lama? Jika dikatakan bahwa pembangunan nuklir memang melalui proses yang cukup lama, memang benar demikian. Karena diperlukan riset yang cukup teliti untuk menentukan lokasi pembangunan PLTN tersebut.

Permasalahannya sejak dulu hingga sekarang adalah enuklir dianggap sebegai energi yang berbahaya serta tidak dapat memberikan manfaat apapun bagi masyarakat. Jika menilik kembali, proses riset yang dilakukan BATAN sejak tahun 70an memang lebih condong ke arah 'dimana' dan 'bagaimana' mengembangkan listrik dengan tenaga nuklir seperti di Amerika, Jepang, dan Korea. Telah dibahas bahwa Semenanjung Muria merupakan tempat yang cocok dibangun PLTN, namun BATAN melupakan satu aspek paling penting, yakni masyarakat sekitar. Bukan hal asing bahwa tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masihlah sangat rendah, bahkan untuk daerah pedesaan seperti di kaki gunung Muria tersebut. Nuklir yang mereka yakini tentu berbeda dengan nuklir yang dimaksud oleh BATAN. Opini-opini menentang pembangunan PLTN ini tidak hanya terlontar dari masyarakat namun beberapa orang di lembaga Geologi LIPI.

Di lain pihak ada pula indikasi ditentangnya pembangunan PLTN disebut-sebut sebagai pemborosan APBN. Namun dibalik pertentangan itu, justru ada hal lain, bukan tentang nuklir berbahaya namun oknum negara yang takut kehilangan asetnya. Mengapa demikian?

Salah satu bentuk informasi BATAN kepada masyarakat, yang sebenarnya berusaha menunjukkan sosialisai tentang tenaga nuklir itu sendiri.

 

Website BATAN.

"Penyebarluasan informasi mengenai lembaga dan program-programnya sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan citra lembaga, Humas BATAN memiliki beberapa program untuk mencapai tujuannya. Melalui hubungan antar lembaga, Humas BATAN menyebarkan informasi iptek nuklir.

Kegiatan rutin yang dilaksanakan Humas BATAN kepada kelompok eksekutif dan legislatif adalah dengan menghadiri rapat dengar pendapat dan rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Pertemuan dengan anggota dewan ini merupakan kesempatan BATAN untuk melaporkan hasil kerja organisasi dan menyebarkan informasi terbaru mengenai iptek nuklir. Kegiatan lainnya yaitu menyelenggarakan kunjungan kerja ke fasilitas nuklir BATAN. Selain itu, penyebaran informasi juga dilakukan humas BATAN kepada para profesional, organisasi, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat umum . Kegiatan-kegiatannya antara lain mengikuti forum Bakohumas (Badan Koordinasi Kehumasan) yang dihadiri oleh para praktisi humas dari berbagai instansi pemerintah. Kegiatan Humas BATAN lainnya adalah mengadakan audiensi dengan lembaga dan perguruan tinggi hal ini dilakukan dalam rangka membuka kesempatan jejaring kerja sama. Kegiatan rapat dengar pendapat dan rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan secara berkala setiap triwulan, dalam rapat kerja ini BATAN menjawab setiap pertanyaan dari Komisi VII DPR RI baik tulisan maupun lisan. Sedangkan kegiatan forum Bakohumas dilaksanakan setiap bulannya dan dilaksanakan secara bergiliran dimasing-masing instansi."

 

Propaganda yang dilakukan PR dalam kasus BATAN adalah Humas, tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap penerimaan publik terhadap pembangunan PLTN di semenanjung Muria. Hal ini dikarenakan BATAN sendiri hanya melakukan pendekatan kepada pihak-pihak dari akademisi yang notabene memiliki kapasitas menyimak dan menerima masukan dan informasi mengenai PLTN yang akan dibangun.

Harus diperhatikan dalam pembangunan PLTN Muria ini, stakeholder terbesar adalah masyarakat sekitar yang tinggal di Semenanjung Muria, namun BATAN yang selama ini melakukan riset terhadap lokasi tersebut justru tidak mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai manfaat dari proyek tersebut.

Beberapa isu yang beredar guna mendukung rencana pembangunan  PLTN ini adalah SDA yang akan habis dalam beberapa tahun ini menimbulkan krisis listrik yang apabila tidak ditangani dengan baik, suatu saat, Indonesia harus menyiapkan diri untuk membeli bahan bakar listrik dari luar.

Bukan hal baru, listrik disebut-sebut akan kehabisan bahan bakar, namun begitu beberapa bulan belakangan diakui bahwa PLN menggilir pemadaman listrik di pulai Jawa dengan alasan ‘down’nya system dan terbakarnya gardu listrik di pusat Cililitan, Jakarta.

Hal tersebut jika memang dimanfaatkan oleh BATAN, akan dapat menjadi senjata ampuh mengubah persepsi negative masyarakat. Selama ini, masyarakat hanya berada dalam ketakutan yang sebabnya sendiri tidak jelas selain ketakutan mereka akan ‘nuklir’ itu sendiri. Hal ini dikarenakan, nuklir dianggap sebagai tenaga yang mampu merusak apapun di sekelilingnya. Selain itu, menurut forum di internet, ketidaksetujuan adanya niklir di semenanjung Muria dikarenakan ketidakyakinan masyarakt terhadap kemampuan ahli nuklir di Indonesia. Apakah para ahli-ahli tersebut telah mampu mengoperasikan PLTN? Apakah SDM dari BATAN telah memiliki kemampuan yang cukup baik untuk mengelola PLTN?

Tidak hanya itu, masyarakat juga dihantui oleh rasa takut akibat trauma masa lalu yang menimpa Ukraina dengan meledaknya reactor Chernobyl yang memakan korban cukup besar sekitar 25 tahun yang lalu. Hal tersebut membuat masyarakat Indonesia menjadi was was terhadap keberadaan PLTN di Indonesia.

            Berbeda dengan opini yang berkembang di masyarakat, para ahli geologi memiliki keraguan yang cukup besar terhadap pembangunan PLTN di Semenanjung Muria, bukan karena kemampuan BATAN yang diragukan, melainkan karena kondisi geografis Semenanjung Muria yang dianggap berada dalam wilayah rawan gempa. Dalam suatu forum tanya jawab di bawah ini, ada opini dari ahli bidang geologi LIPI.

 

Masih tepatkah lereng utara muria sebagai tempat PLTN”

x.sulistiyono@exxonmobil

PLTN rencananya akan dibangun di daerah Jepara di sebelah utara G. Muria . Pertimbangannya pemilihan lokasi tsb menurut taksiran kasar saya adalah G. Muria adalah gunung api yang sudah "mati", dekat dengan laut karena tentunya PLTN ini perlu banyak air untuyk prosesnya dan dekat dengan pasar yang membutuhkan listrik (Jawa)

Dengan kejadian gempa hebat di Jawa pada tanggal 8 Agustus 2007 yang lalu, dengan sumber gempa dilaut Jawa, lk 75 km di SW Indramayu , dengan kedalaman 280 km , yang penjelasannya juga adalah tumbukan lempeng samudra dengan lepeng Eurasia.

Dengan demikian pertanyaannya adalah masih amankah Jepara /lereng utara G. Muria menjadi tempat PLTN dari sudut geologi ? Mungkinkah akan terbentuk gunung api baru diatas 9sebelah utara) tempat tumbukan lempeng tersebut , seperti halnya cerita pembentukan gunung api mulai dari Sumatera , Jawa. Bali dst. ?

Mohon pencerahan.

 

farid marianto

Gempa yang terjadi di Indramayu merupakan diakibatkan oleh pergerakan tektonik lempeng samudera hindia yang menumbuk lempeng eurasia kalau pusat gempa berada di laut jawa pastinya gempa tersebut gempa dalam, untuk masalah pengayaan nuklir di gunung muria masih bisa dkategorikan aman-aman saja..dan G.Muria meruapakan gunung api purba yang masih aktif..untuk pembentukan gunung api emang terjadi akibat proses tumbukan lempeng dan biasanya terjadi didekat batas pertemuan lempeng2 jadi untuk ke arah utara ga mungkin terbentuk gunung api.

 

Hamonangan

Sepengetahuan saya, di ajarkan di Kampus ITB Teknik GEOLOGI oleh pakar pakar yang kompeten yang memberikan mata kuliah GEologi Struktur Indonesia bahwa Pulau Jawa itu sendiri disusun dan merupakan puzzle dari beberapa pola struktur sesar utama yang saling memotong, sesar aktif dan tidak aktif, tapi kadang kala action atif lagi (istilahnya reaktivasi).

Sepengetahuan saya, kajian detail struktur ini dikuasai sangat mendalam oleh Prof. Harsono Priggo..(sorry lupa nama lengkapnya), juga oleh Prof. Sujono Martojojo (bapak statigrapher Indonesia) yang hafal lokasi, geometri sesar dan dan tipikal/karakter sesar (Sesar Simenggaris kalo ga salah diperkenalkan oleh Beliau), juga oleh Dr. Djaheni (Sedimentologist Indonesia) yang mendalami stratigrafi semua cekungan di Jawa.

Intinya: Setiap pergerakan lempeng di bawah pulau jawa, dapat dipastikan akan memberikan impact kepada sesar-sesar yang saling memotong di pulau jawa (oleh karena itu dikenal sesar aktif & tidak aktif, tapi oleh pergerakan lempeng akan mengakibatkan yang tidak aktif menjadi aktif).

Pertanyaannya: seberapa besar impact pergerakan lempeng dibawah jawa yang mempengaruhi sesar-sesar tersebut?...nah menurut saya, ini WALLAHUALAM....

kalo kita sudah bisa memprediksi besar/amplitude dari aktivasi sesar - sesar di jawa, maka kita bisa menebak ALLAH itu mau bikin hukuman dimana, kapan berapa besar kerusakannya, dlll (ini sama dengan dongeng anak teknik kebumian dari salah satu univ. swasta kemiliteran di yogya yang mengatakan gempa bisa di prediksi).

Konseskuensi logis dari sesar ini adalah bahwa setiap pergerakan lempeng di bawah jawa akan ber-impact langsung kepada sesar di atasnya. INGAT Kasus gempa Yogya----sampai sekarang kesimpulan mengarah kepada re-aktivasi sesar oleh pergerakan lempeng.

Penggagas PLTN mungkin sebaiknya belajar dulu peta struktur aktif indonesia dimana kalimantan sampai detik ini adalah Pulau yang paling aman dari gesekan lempeng....Pak Prof. RP.Koesoema Dinata sudah jauh hari menyimpulkan Jawa ini relatif rawan gempa bahkan hingga ke zona Karimun (kalo ga salah Karimun sendiri adalah hasil pengangkatan/aktivasi yang dikenal tinggian Bawean)...

 

Rinaldi Mulyono

Memang secara geologi relatif aman, karena gempa yang mungkin terjadi di sepanjang laut jawa adalah gempa dalam (250-300 km) di subduction zone, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di indramayu. Akan tetapi menurut saya tetap perlu dilakukan pengkajian dan pemodelan ulang, mengingat disekitar daerah tersebut menurut data USGS pernah terjadi gempa yang cukup besar pada tahun 1865 dan 1890, seperti komentar salah seorang ahli gempa LIPI di Tempo 49/XXXV/29(4 Februari 2007).

 

soedardjo

Masalah yang berkaitan dengan PERSYARATAN DAN MEKANISME PERIZINAN PLTN DI INDONESIA dapat dibaca di

http://www.batan.go.id/ptrkn/file/tkpfn12/paper/Makalalah-Peserta/khoirulhuda-bapeten.pdf

Semula diusulkan 14 tempat yang memungkinkan di Pulau Jawa untuk digunakan sebagai lokasi PLTN, dan kemudian hanya 5 tempat yang dinyatakan sebagai lokasi yang potensial untuk pembangunan PLTN.

http://www.batan.go.id/ppen/tu/SejarahPLTN.htm

 

Dirman Artib

Sepanjang pengetahuan saya, bahwa peraturan perundang-undangan Indonesia mewajibkan kelayakan teknis dikaji lewat AMDAL (atau sekarang lagi transisi PLT = Pengendalian Lingkungan Terpadu).

Dalam AMDAL, dilakukan kajian dari aspek teknis, biologi, sosekbudkes.

Feeling, naluri, insting bisa menjadi modal untuk sebuah kajian, yang pada akhirnya harus melewati proses penetapan kerangka acuan, penetapan metode kajian, pengambilan data, analisa, diskusi dan sidang AMDAL.

Begitu lah....

Termasuk pertanyaan Pak Sulis hanya bisa diresponse lewat proses di atas.

 

soedardjo

KATA KORAN ON LINE:

http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/01/time/163851/idnews/812059/idkanal/4

Rabu, 01/08/2007 16:38 WIB

KLH Belum Terima Amdal

Proyek Nuklir Muria

Alih Istik Wahyuni - detikfinance

Jakarta - Kementrian

Lingkungan Hidup (KLH) belum menerima analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) untuk pembangunan PLTN pertama Indonesia di Semenanjung Muria. Menteri LH Rachmat Witoelar menyatakannya disela-sela diskusi meja bundar di gedung Indonesia Power, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (1/8/2007).

"Belum, kita belum terima amdalnya. Muria kan orang-orangnya tidak mau. Tidak bisa dibangun disana," katanya. Padahal, tanpa ada Amdal, tender PLTN belum bisa dilakukan. Karena dalam dokumen tender harus dicantumkan dimana lokasi proyek tersebut. Jika lokasi sudah dipastikan, maka Amdal baru bisa dilakukan. Dan hasil Amdal itu dimasukkan ke dokumen tender. "Tender itu mesti ada proyek proposalnya, yang jelas tempatnya di mana, terus dipersiapkan Amdalnya. Amdal masuk baru dimasukkan ke dalam dokumen tender. Mesti itu dulu. Enggak bisa setengah-setengah," katanya.Bahkan hingga saat ini ia mengaku belum bertemu dengan Departemen ESDM untuk membicarakan Amdal pembangunan proyek PLTN tersebut. (lih/ir)

 

 

Administrator Migas

Pak Sulis,

Memang sudah ada gugatan dari Danny Hilman Natawidjaya, ahli di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mempertanyakan kelayakan Gunung Muria sebagai tempat PLTN (lihat berita di bawah ini). Untuk detailnya, pasti Mas Rovicky dapat memberikan pencerahannya, atau lasung ke blog-nya beliau saja.

Salam,

Budhi S.

 

Menggugat Nuklir Gunung Muria

Senin, 26 Februari 2007

Batan tengah mengurus izin tapak pembangkit nuklir di Muria. Ahli LIPI meminta penelitian ulang tentang keamanan kawasan itu.

Waktu terasa berlari bagi Soedyartomo Soentono. Kepalanya diselimuti rambut putih. Tapi di lembaganya ia merasa waktu justru berdetak pelan.

"Sudah lebih dari 30 tahun saya di lembaga ini, Indonesia belum juga memiliki PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir)," kata Soedyartomo, Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Selasa pekan lalu. Bandingkan dengan Korea Selatan, misalnya.

Pada 1987, Korea Selatan meminta bantuan Batan untuk membuat reaktor. Badan itu diajak bergabung karena sudah sejak 1979 mengoperasikan reaktor nuklir Kartini di Yogyakarta. Dua windu kemudian, negeri itu sudah memiliki lima pembangkit listrik nuklir. Awal Desember lalu, bersamaan dengan kunjungan presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun ke Jakarta, Korean Hydro Nuclear Power Co. Ltd. menawarkan bantuan untuk membangun pembangkit di Muria.

Sejauh ini, menurut Soedyartomo, lembaganya baru pada tahap mengurus izin tapak lokasi di Semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah, kepada Badan Pengawas Tenaga Atom Nasional. Jika urusan perizinan ini kelar pada Desember mendatang, ujar Soedyartomo, "Tahun depan tender pembangunannya bisa dibuka."

Jika semua lancar, pada 2010 pembangunan fisik pembangkit bisa dimulai. Enam tahun kemudian, pembangkit ini sudah akan menghasilkan listrik 4.000 megawatt untuk memasok kebutuhan Jawa dan Bali. Meski baru berproduksi pada 2016, menurut Tomi-panggilan Soedyartomo-proyeksi PLTN-nya masih klop dengan kebutuhan listrik pemerintah. Seperti disebutkan dalam Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, baru pada 2025 energi nuklir ditargetkan menyumbang 2 persen kebutuhan energi primer yang mencapai sekitar 100 ribu megawatt.

Demikianlah rencananya, dan inilah batu sandungannya. Sejumlah ahli geologi belakangan menggugat klaim Batan soal keamanan Semenanjung Muria sebagai tempat pembangkit nuklir. "Saya curiga sekali. Apakah studi kelayakan Semenanjung Muria sudah dilakukan dengan benar," kata Danny Hilman Natawidjaya, ahli di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rabu pekan lalu.

Danny curiga karena beberapa ahli geologi dari Jepang dan negara lain yang menjadi konsultan Batan menolak menjawab pertanyaannya soal keamanan situs Muria. Padahal mereka menjadi koleganya dalam sejumlah penelitian tentang kebumian. "Mereka takut dan meminta saya menanyakan kepada pemerintah," ujar doktor geologi kelautan lulusan Universitas Tokyo ini.

Namun Tomi memastikan, keamanan Muria tak perlu diragukan. Survei untuk menentukan lokasi calon tapak PLTN dilakukan dalam beberapa tahap dan sudah dimulai pada 1970-an. Awalnya ada 14 daerah di pantai utara dan selatan Jawa yang diusulkan. Pilihan kemudian mengerucut menjadi lima lokasi, lalu tersisalah Semenanjung Muria. "Wilayah ini memenuhi kriteria geologi, tektonik, dan vulkanologi," kata lulusan Universitas Stanford, Inggris ini.

Sepanjang tahun 1991 sampai 1996, konsultan NewJack dari Jepang melakukan studi di Semenanjung Muria untuk menentukan tapak terbaik bagi PLTN. Ada tiga tapak lokasi yang diteliti, yakni Ujung Lemah Abang, Ujung Grenggengan dan Ujung Watu. Ketiganya terletak di tepi pantai. Pilihan akhirnya jatuh di Ujung Lemah Abang, di Desa Balong, Kecamatan Kembang.

Menurut Tomi, penelitian menunjukkan bahwa secara geologis Desa Balong didominasi batuan hasil kegiatan Gunung Muria. Litologi batuannya mempunyai daya dukung yang mampu menahan beban konstruksi PLTN. Secara seismik, Ujung Lemah Abang terletak di dalam wilayah gempa Indonesia dengan nilai percepatan tanah maksimum atau peak ground acceleration (PGA) 0,29 g.

PGA terkait dengan sejarah terjangan gempa di suatu tempat. Makin besar nilai PGA sebuah wilayah, kian besar risiko terjangan gempa bumi. Dengan skor 0,29 g, kata Tomi, Semenanjung Muria merupakan wilayah dengan risiko goyangan gempa sangat rendah. Nilai itu bahkan masih di bawah nilai PGA rata-rata yang digunakan untuk merancang dan membangun pembangkit nuklir, yakni 0,3 g.

Tomi mengatakan, nilai PGA delapan PLTN di Jepang di atas 0,3 g. Bahkan PLTN Tsuruga memiliki PGA 0,532 g dan Ikata 0,473 g. Sedangkan di Amerika Serikat, pembangkit tenaga nuklir dibangun rata-rata pada nilai PGA 0,3 g.

Ancaman letusan Gunung Muria juga relatif kecil. "Karena letusan terakhir terjadi 320 ribu tahun yang lalu dan kini gunung itu tidak aktif," kata Tomi.

Dosen Jurusan Geologi UPN Yogyakarta, Sutanto, menjelaskan bahwa sum-ber magma Muria berada pada kedalaman 300 kilometer. "Hasil penelitian saya menyimpulkan gunung ini memang sudah tidak aktif lagi," ujar doktor lulusan Universitas Brest, Prancis, dengan disertasi tentang daerah Muria ini.

Namun Danny sangsi jika gunung Muria sudah mati. Dia memperlihatkan foto satelit di sekitar puncak Muria yang lebih mulus ketimbang bagian kaki gunung. Dari gambar itu, ia curiga gunung tersebut hanya sedang tidur. Dia mengusulkan perlu penelitian detail tentang endapan gunung ini untuk mengetahui secara pasti kapan letusan terakhir. "Tidak cukup hanya mengandalkan sejarah," katanya.

Kekhawatiran lain adalah soal ancaman gempa besar yang berasal dari sesar atau patahan di sekitar Muria. Lagi-lagi, Tomi menepis ancaman ini.

Sesar terdekat, yakni Lasem, jaraknya 60 kilometer dari tapak Ujung Lemah Abang. Sesar lain yang lebih besar dan tua, yakni Meratus-Muria-Kebumen, yang memanjang dari Pegunungan Meratus di Kalimantan hingga Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, jaraknya lebih jauh. "Dari tapak Ujung Lemah Abang, lokasi sesar Meratus sangat jauh, yakni 300 kilometer," kata Tomi.

Namun, menurut Danny, itu bukan berarti Muria aman dari amukan sesar yang sedang "menggeliat". Badan geologi Amerika Serikat (USGS) dan South East Asia Seismology and Engineering Earthquake, ujarnya, mencatat dua gempa besar pernah terjadi di dekat situs itu. Pertama pada 1865, berupa gempa berkekuatan 7 magnitudo yang merusak Semarang. Rekaman gempa kedua pada 12 Desember 1890, dengan sumber gempa di sekitar Pati, yang radius guncangannya mencapai 500 kilometer.

Danny memperkirakan kekuatan gempa di Pati waktu itu mendekati 8 magnitudo. Walhasil, Danny menarik hipotesis, "Semenanjung Muria sepintas menyimpan banyak potensi bencana. Cukup multihazard kalau dilihat dari posisinya," ujar pakar yang pada 2002 pernah memprediksi bakal terjadi gempa dan tsunami besar di Aceh ini.

Danny mengusulkan dilakukan penggalian untuk memastikan adanya jalur patahan aktif. Ia juga meminta dilakukan kajian kestabilan lereng, potensi tsunami, hingga kekuatan struktur tanah. Dia mengaku menyangsikan hasil penelitian tentang keamanan situs ini, karena dibuat pada masa pemerintahan Orde Baru. "Saya berharap reevaluasi sehingga ada second opinion," ujarnya. Usul yang sama diajukan Sutanto.

Penulis : Untung Widyanto, Ahmad Fikri, Syaiful Amin

Sumber : Tempo 49/XXXV/29 (4 Februari 2007)

 

Rovicky Dwi Putrohari

Untuk lebih fair, saya lampirkan tanggapan Batan yang ada di website mereka tentang berita ygg di fw Pak Budhi.

rdp

==========================================

Tanggapan Badan Tenaga Nuklir Nasional

MEMBACA artikel berjudul "Menggugat Gunung Muria" di majalah Tempo edisi 5 Februari 2007, dalam rubrik Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, halaman 50 dan 51, ada beberapa hal yang perlu kami luruskan.

Pertama, tak benar pada 1987 Korea Selatan meminta bantuan Batan untuk membuat reaktor. Yang benar, pada akhir dekade 1980, kami, bila diperlukan, dapat membuat bendel elemen bakar untuk PLTN tipe PHWR di Korea Selatan.

Sekarang Korea Selatan memiliki 20 PLTN (bukan 5 PLTN). Mereka mulai menawarkannya ke Indonesia. Jika proses tender dan perizinan lancar, pembangunan fisik PLTN di Indonesia bisa dimulai pada 2010. Enam tahun kemudian listrik yang dihasilkan dari dua unit tersebut berdaya sekitar 2x1.000 MW.

Kedua, penelitian detail tentang Muria dilakukan terus-menerus. Batan bahkan telah menambah stasiun mikroseismik yang dipasang beberapa bulan lalu. Penelitian dan pengamatan gempa, tsunami, dan sebagainya terus dilakukan, tak hanya pada masa Orde Baru. Penentuan letusan terakhir juga bukan hanya dari sejarah tapi juga dilakukan dengan metode teknik nuklir K-Age dengan akurasi yang dapat dipercaya.

Batan juga memperhatikan semua agar sesar di Muria, termasuk sesar Lasem dan Meratus, serta yang ada di dalam laut. Ini terkait dengan desain sipil yang digunakan untuk membuat bangunan tahan gempa dengan perhitungan sangat konservatif (jauh lebih kuat daripada syarat minimal).

Kami terbuka untuk dikritik dan bersedia berdiskusi dengan para ahli manapun, termasuk dengan Saudara Danny Hilman Natawidjaya, untuk membahas pembangunan PLTN. Kami juga menginginkan semua persiapan pembangunan dilakukan hati-hati serta sesuai dengan pedoman dan peraturan yang berlaku.

Untuk itu kami telah menerbitkan buku Pedoman Penerapan dan Pengembangan Sistem Energi Nuklir Berkelanjutan di Indonesia pada Oktober 2006. Buku itu mengacu pada norma dan standar internasional, persyaratan IAEA dari praktek internasional terbaik.

FERHAT AZIZ

Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat

Badan Tenaga Nuklir Nasional

Terima kasih atas tanggapan Anda -Red.

Sumber: Majalah Tempo, Edisi 19-25 Februari 2007, hal 6 kol 1-2

http://www.batan.go.id/tmp_news.php?id_berita=240&db_tbl=Berita

 

x.sulistiyono@exxonmobil

Rekans,

Kebutuhan listrik kita meningkat setiap tahunnya dan laju penambahan kemampuan listrik PLN nampaknya juga tidak sepadan dengan kenaikan kebutuhan. Beberapa pembangkit listrik kita yang PLTA megap megap dimusim kemarau, sementara penambahan pembangkit dengan batubara dan BBM menambah polusi udara yang semakin meningkat , sejalan dengan pertumbuhan penggunaan kendaraan bermotor. BBM juga menambah beban biaya Pemerintah.

Oleh karena itu alternatif pembangkit listrik yang mampu menambah daya yang besar salah satunya adalah PLTN.Saya kira pihak pihak yang mempersoalkan pembangunan PLTN Muria adalah dengan tujuan mengingatkan tentang kemungkinan adanya risiko risiko yang timbul apabila PLTN tersebut jadi dibangun dan dioperasikan.

Lha kalau masalahnya "risiko", kenapa kita tidak mengadakan "analisa risiko" bersama dengan menghadirkan yang menyetujui dan menentang dibangunnya PLTN Muria? Setelah itu kan dapat diperoleh konsensus. Risiko memang selalu ada tetap[i disitu dan dibahas seberapa besar risiko tersebut dan bagaimana mitigasinya .

Bagaimaan dengan daerah lain ? Katakan Kalimantan yang diusulkan DPR. Disana ya dapat dibangun juga. Apalagi Kalimantan termasuk dalam lempeng benua Euro Asia yang relatif stabil. Kan Kalimantan ya byar pet . Bahkan masyarakat kaltim pun prihatin. Hasil energi nya : minyak, gas bumi dan batubaranya berlimpah tapi listriknya sering oglangan alias byar pet.

Ayo KMI silahkan maju untuk menjembatani para yang pro dan kontra PLTN Muria dengan melakukan analisa risiko.

Salam ......Sulis

Untuk lebih fair, saya lampirkan tanggapan Batan yang ada di website mereka tentang berita ygg di fw Pak Budhi.

 

Aman Mostavan

Dengan hormat,

Pembicaraan mengenai PLTN selalu hangat.

On Mon, 20 Aug 2007 x.sulistiyono@exxonmobil.com wrote:

> Rekans,

> 

> Kebutuhan listrik kita meningkat setiap tahunnya dan laju penambahan

> kemampuan listrik PLN nampaknya juga tidak sepadan dengan kenaikan

> kebutuhan. Beberapa pembangkit listrik kita yang PLTA megap megap dimusim

> kemarau, sementara penambahan pembangkit dengan batubara dan BBM menambah

> polusi udara yang semakin meningkat , sejalan dengan pertumbuhan penggunaan

> kendaraan bermotor. BBM juga menambah beban biaya Pemerintah.

 

Jer basuki mawa beyo. Bila saja yang dihasilkan lebih bermanfaat dan  konservasi dilaksanakan secara tepat ditambah dengan pertimbangan  pengurangan pencemaran, saya kira sah-sah saja.

> 

> Oleh karena itu alternatif pembangkit listrik yang mampu menambah daya yang

> besar salah satunya adalah PLTN.Saya kira pihak pihak yang mempersoalkan

> pembangunan PLTN Muria adalah dengan tujuan mengingatkan tentang

> kemungkinan adanya risiko risiko yang timbul apabila PLTN tersebut jadi

> dibangun dan dioperasikan.

> 

Perlu juga dipertimbangkan PLTN sendiri. Harus ada badan kendali, badan  pemeriksa yang kuat. Jangan terulang pemasangan barang bekas, penggunaan  kapal selam bekas, kereta api bekas, yang pada akhirnya kecelakaan,  bencana, saling susul menyusul. Bila memang dari Korea, reaktor diperoleh, dapatkah pemeriksa dari  Perancis umpamanya? Ini untuk memperoleh hasil sesempurna mungkin untuk  menghindarkan kecelakaan.

> 

> Lha kalau masalahnya "risiko", kenapa kita tidak mengadakan "analisa

> risiko" bersama dengan menghadirkan yang menyetujui dan menentang

> dibangunnya PLTN Muria? Setelah itu kan dapat diperoleh konsensus. Risiko

> memang selalu ada tetap[i disitu dan dibahas seberapa besar risiko tersebut

> dan bagaimana mitigasinya .

> 

Dapatkah pembahasan untuk konsensus serta cara mitigasi dihadiri juga oleh  lebih dari tiga fihak internsional, sehingga objektif?

> 

> Bagaimaan dengan daerah lain ? Katakan Kalimantan yang diusulkan DPR.

.

Ahli geologi, pakar kebumian perlu diajak serta.

> 

> Disana ya dapat dibangun juga. Apalagi Kalimantan termasuk dalam lempeng

> benua Euro Asia yang relatif stabil. Kan Kalimantan ya byar pet . Bahkan

> masyarakat kaltim pun prihatin. Hasil energi nya : minyak, gas bumi dan

> batubaranya berlimpah tapi listriknya sering oglangan alias byar pet.

> 

Apa itu oglangan?

> 

> Ayo KMI silahkan maju untuk menjembatani para yang pro dan kontra PLTN

> Muria dengan melakukan analisa risiko.

> 

Bukan saja menjembatani, tetapi bertukar fikiran untuk memperoleh yang  terbaik.

 

 

soedardjo batan

Salam hangat kembali dari staf BATAN.

Untuk masalah PLTN di Kalimantan, mungkin dapat dibaca di http://www.infonuklir.com/Homepage%20PPINK/tobahas.htm

http://www.batan.go.id/tmp_news.php?id_berita=47&db_tbl=Berita

http://www.batan.go.id/ptkmr/Alara/182.pdf

Tentang Resiko/risiko PLTN dapat dibaca di

http://www.batan.go.id/tmp_news.php?id_berita=359&db_tbl=Berita

http://www.avnuclear.be/avn/97-2635.pdf

Tentang Badan Pengendali jika yang dimaksud adalah Badan Pengawas Tenaga Nuklir adalah BAPETEN adalah Lembaga Pemerintah non Departemen (LPND) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. BAPETEN bertugas melaksanakan pengawasan terhadap segala kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia melalui peraturan perundangan, perizinan dan inspeksi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. BAPETEN didirikan pada tanggal 8 Mei 1998 dan mulai aktif berfungsi pada tanggal 4 Januari 1999.

http://www.bapeten.go.id/md2006/index.php?modul=page&pagename=profile_ind

 

 

Opini Publik Sebelum Propaganda dan Opini Publik Setelah Propaganda

Pada kasus pembangunan PLTN Muria ini, opini yang muncul setelah dan sebelum propaganda, tidak memiliki perbedaan. Masyarakat tetap menentang dan menganggap nuklir sebagai seuatu yang berbahaya.

Sebisa mungkin isu mengenai kelangkaan listrik dan habisnya SDA di Indonesia tidak menyurutkan penolakan terhadap pembangunan PLTN di Muria. Masyarakat tetap menganggap nuklir sebagai hal yang berbahaya.

Begitu pula dengan para ahli geologi, yang dengan jelas mendukung dibangunnya PLTN, namun tetap mengajukan penolakan jika lokasi yang dipilih adalah semenanjung Muria, karena menganggap lokasi ini termasuk lokasi rawan gempa dan gunung meletus. Meskipun BATAN meyakini bahwa Gunung Muria sudah tidak aktif lagi. Pada saat yang sama LIPI juga  mengatakan bahwa semenanjung muria tidak aman dan kurang memenuhi standar.


IV

Analisis Pembentukan Opini Publik Melalui Propaganda

 

Permasalahan 1

Sosialisai pembanguna fasilitas public seharusnya dikomunikasikan tidak hanya kepada public eksternal yang memiliki kemampuan mencerna informasi, sebutlah heavy media consumer, seperti akademisi. Low media consumer memandang teknologi tidak memiliki ‘cacat’ hal ini menyebabkan jika terjadi cacat padateknologi, masyarakat yang low media consumer akan memiliki mindset yang keliru akibat kesenjangan pola pikir mereka sendiri.

Berbeda dengan akdemisi yang umumnya heavy media consumer akan memiliki kemampuan untuk mencerna informasi dan memahami bahwa teknologi pada dasarnya juga memiliki kelemahan dan kelebihan sehingga tidak selalu harus benar.

Dalam rangka mensosialisasikan pembangunan PLTN ini, BATAN banyak menyelenggarakan seminar seputar energy ATOM dan Nuklir yang berguna bagi pembangunan serta seberapa besar manfaatnya bagi keadaan ekonomi Indonesia ke depan. Sayang, sosialisasi seperti ini justru tidak diberikan kepada masyarakt awam yang sama sekali tidak memahami tentang energy nuklir selain efek nagatifnya.

 

Permasalahan 2

Banyaknya tentangan dari masyarakat yang tidak mendukung dibangunnya PLTN di Muria kebanyakan berasal dari masyarakat yang lokasi tempat tinggalnya dengan dengan Muria. Tentangan lainnya muncul dari masyarakat yang meragukan kemampuan SDA untuk mengelola PLTN dengan sebagaimana mestinya seperti Negara seperti Amerika dan Jepang. Masyarakat Muria sebenarnya adalah stakeholder utama BATAN yang harus didahulukan sehingga mendukung kegiatan ini. Sayangnya, tentangan masyarakat di Muria ini justru menggiring opini public antara pro dan kontra dengan rencana pembangunan PLTN di Muria. Dari detik forum saya mengambil kesimpulan bahwa, mayarakat umumnya setuju di bangun PLTN di Muria terlepas dari berbahaya atau tidak. Masyarakat yang Pro ini merasa sudah saatnya bagi Indonesia untuk bergerak lebih maju dengan adanya PLTN di Indonesia.

Sedangkan masyarakat yang Kontra terhadap pembangunan PLTN ini kebanyakan masyarakat yang bertempat di sekitar Muria dan bersikap remeh terhadap kemampuan SDM yang mengelola PLTN tersebut.

Sedangnya beberapa pihak lain merasa pembangunan Muria merupakan langkah awal dalam pembangunan Indonesia yang lebih maju. Yang perlu diperhitungkan adalah penelitian serta pengelolaan yang baik agar PLTN dapat berjalan baik.

 

Berikut adalah Opini Secara garis besar yang mewakili opini Pro dan Kontra terhadap pembangunan PLTN. Dari Forum Diskusi detik.com, dapat dilihat perbandingan masing 60% setuju, 30% tidak setuju, dan 10% ragu-ragu. Hasil dilihat dari sekitar kurang lebih 200 suara.

ddesember

 Suarakan Pembangunan PLTN


Saat ini kita sedang kritis energy ...

minyak mahal ...
batu bara mengekor ...
sungai sudha mulai susut airnya ...
bendungan sudah penuh endapan ...

ujungnya LISTRIK MULAI MENJADI BARANG MAHAL.

orang bilang kita banyak angin ... adakah yang punya data mengenai hal ini ?
katanya kita punya banyak sumber panas bumi ... adakah yang punya data ?

beruntung daerah yang hanya masih mendapatkan jatah pemadaman bergilir ....
bagaimana jika hal in imenimpa industri ???


kita mulai mengendurkan produktivitas industri ... pekerja senang ... banyak libur ...

tapi sadarkah bahwa saat ini kita sebagai bangsa sedang menghadapi kemunduran relatif terhadap kemajuan jaman karena masalah listrik ini ?

pemerintah sebenarnya sudah membaca kebutuhan ini dengan memunculkan rencana pembangunan PLTN di Muria sepuluh tahun lalu tapi ... karena masyarakat ( atau LSM yang mengatasnamakan masyarakat) merespon negatif ... maka sampai sekarang belum terealisasi ...


di sisi lain ... banyak negara kecil yang sudah mulai bergerak untuk meninggalkan indonesia ... gimana ini ?? mereka menyediakan kebutuhan energy yang lebih baik untuk industri.

akankah indonesia menjadi negara yang tertinggal lagi ???? gara gara listrik ??
atau memang ada agenda negara2 besar yang menghalangi pembangunan PLTN dengan mendonasi LSM anti PLTN ???

bagaimana opini Anda mengenai kebijakna pemerintah ini ? Kita paksakan pembangunan PLTN atau kita akan mengalami kemunduran ...

 

 

bush1 bush1 is offline

Registered Member

 

Join Date: Jan 2008

Posts: 1

bush1 is a new comer

Default Nyang takut ada PLTN anteknye Gue..(Bush)


Begini lho, sodara-sodara...
Para ahli Nuc di indonesia itu mampu bikin,maintain & nyaingin PLTN-PLTN nyang udah ada di dunia ini..
Tapi GW sbg bangsa nyang oportunis kaga mao donk, disaingin ama Si Indon...
Barang gw gak laku ntar...
Jadi..supaya si Indon... ketergantungan ama Gw, SDA alamnye bais, ancur, and akhirnya miskin, rakyatnye pada sengsara, politisinye,gontok-gontokan,rebutan kekuasaan, N' pade ahirnye orang di daerah minta otonomi plus....plus...(pake bahasa otonomi khusus segale) nyang ujungnye minta merdeka...
Gw bayar(+bace : sogok ye..) aje LSM supaye bikin opini publik bahwe, Indon itu para ahlinye kaga becus bikin PLTN, plus....nuklir itu bahaye...biayanye gede....,limbah nuklir baru bise ngilang seribuan taon, Chernobyl jilid due bakal terulang,dsb..dsb...pokoke nyang serem-serem aje...trus..
GW bayar(+bace : sogok aje..) pare pengamat nuklir bahkan ahli nuklir sekalipun, para pejabat pemerintahnye juge GW empanin(+bace : sogok juge) tiap bulannye...GW suruh IMF,WB,ADB, and antek-anteknye terus KKN ama pejabat otoritas Indon,pengkritik N' LSM...supaye bikin opini nyang same (nyang serem-serem itu...)
 

(sementerE, SDA GW (bangsa Amrik) utuh...lingkungan awet...rakyat makmur sejahtere...nyaman dah...... idup... ngelicikin orang..../dasar BUSH otak.....
otak ape ye....? teserah elo dech...EGPCHCH)

Ahirnye kan... si Indon kaga jadi bikin PLTN....nanti kan ujung-ujungnye si Indon beli listrik ame GW...trus GW mahalin aje dech hargenye....mampus kan loe....!!!!!!
Tapi sialnye si IRAN udah mampu tuch bikin PLTN.....
GW, ngeri juge tuch...
Nanti si Indon..beli listrik sama si IRAN ...Murah lagi....(pasti solidaritasnye tinggi ama si Indon)..barang GW ga laku nich...BANGKE.......!!!!!
GW bom juge si IRAN nichhhhh....
Nyok.. ANTEK-ANTEK GW...kita bom si IRAN....
ayo donk....elo-elo pade kan..udah gw bayar.....!!!!!!!!!

 

Jumat, 05/02/2010 14:01 WIB
RI Baru Bangun PLTN Kalau Sudah Kepepet
Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance
 


Darwin Saleh (Foto: Angga/detikfinance) Jakarta - Penggunaan nuklir sebagai bahan bakar Pembangkit Tenaga Listrik belum akan direalisasikan dalam waktu dekat. PLTN baru dibangun jika sumber-sumber energi primer di dalam negeri sudah habis.

"Bagi Indonesia persiapan semacam itu akan dilakukan hanya setelah sumber-sumber energi primer kita yang lain sudah tidak ada yang bisa digunakan,"
 kata Menteri ESDM Darwin usai sholat Jumat di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (5/2/2010).

Menurut Darwin, kajian pembangunan PLTN harus dilakukan secara komprehensif dan hati-hati. Apalagi saat ini beberapa negara tetangga mulai serius menjajaki pembangunan PLTN. Kajian tersebut sudah mulai dilakukan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

"Tapi Indonesia juga secara serius mengeksplore berbagai macam kemungkinan termasuk PLTN," kata dia.

Sebelumnya, lima Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengurusi bidang energi nuklir menyatakan dukungannya terhadap pembangunan PLTN.

Lima LSM tersebut yaitu Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL), Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Institut Energi Nuklir (IEN), dan Woman in Nuclear Indonesia (WIN).

Saat ini, lebih dari 400 PLTN telah dioperasikan di dunia dan terbukti tingkat keamanan, keekonomisan, ramah lingkungan, serta kehandalannya terjaga. Masa pemanfaatan PLTN diperkirakan dapat diperpanjang hingga 60 tahun.

tidak heran Negara ini selalu ketinggalan http://forum.detik.com/images/smilies/geleng3.gif

orang tidak mengerti disuruh jadi mentri http://forum.detik.com/images/smilies/geleng3.gif


Pak Mentri mohon di Pelajari Energy Policy Iran, negara yg AMAT kaya dgn sumber minyak dan gas bumi tp bertopang pada PLTN utk kebutuhan Energi kelistrikannya

 

 

Permasalahan 3

Opini public yang menganggap nuklir berbahaya didukung oleh LIPI, namun bukan karena nuklir itu sendiri, melainkan karena pemilihan lokasi yang menurut badan geologi bukanlah lokasi tepat untuk dibangun PLTN, seperti artikel yang dikutip dari forum sebelumnya.

 

Teori dan Permasalahan

Berdasarkan teori yang dibahas sebelumnya, ada beberapa kekurangan BATAN

  1. Teori Agenda Setting, pemberitaan media mengenai nuklir tidak dijadikan wadah informasi untuk menyamoaikan citra positif mengenai nuklir agar tidak dipersepsi buruk oleh masyarakat.
  2. Teori Disonansi Kognitif, masyarakat Muria saat ini berada dalam kondisi yang tidak pasti, mengapa? Karena tidak adanya sosialisasi dari PLTN, maka dengan mudah masyarakat akan menolak keberadaan PLTN di Semananjung Muria. LIhat saja bagaimana, masyarakat menggelar aksi guna menentang pembangunan PLTN.
  3. Media sebagai medium komunikasi antara BATAN dan masyarakat sebenarnya merupakan ruang public yang dapat dijadikan alat membentuk opini public. Mesipun dalam suatu forum, masyarakat banyak mendukung pembangunan PLTN, namun demikian opini public yang Pro justru tenggelam padahal jumlah nya lebih besar dibanding yang Kontra. Media menjadi wadah membentuk pemikiran, dan BATAN tidak menggunakan media sebagai media pendukung. Akhirnya, dapat dikatakan isu mengenai kehabisan SDA akan tidak memberikan pengaruh apapun bagi meningkatnya dukungan kepada PLTN.

 


 

V

Penutup/Kesimpulan dan Saran

 

 

Kesimpulan

Dari analisis di atas, saya menyimpulkan bahwa tindakan komunikasi yang dilakukan oleh BATAN tidak berhasil karena toh sasaran utama mereka yakni akademisi sudah memiliki mindset yang cukup cerdas untuk menilai apakah PLTN berbahaya atau tidak. Namun, justru BATAN luput memperhatikan stakeholder utama mereka yang memiliki andil dalam kesuksesan pembangunan nuklir tersebut.

Isu listrik yang terancam kehabisan bahan bakar memang benar meresahkan masyarakat, namun begitu justru memunculkan ide baru untuk mengembangkan teknlogi pembangkit listrik, seperti tenaga surya dan angin. Nuklir yang lebih hemar, justru tidak diperhitungkan. Bahkan Presiden SBY, merasa bahwa pembangunan PLTN di Muria tidaklah tepat. Saya sendiri merasa tindakan SBY terlalu terburu-buru mengatakan tidak. Mengapa? Karena beliau sendiri belum memiliki akses informasi yang cukup memadai dan tentu saja tidak sulit ditebak bahwa PLTN juga berbahay menurutnya.

Batan tidak memiliki cukup ide cerdas untuk menjalin hubungan agar pembangunan PLTNnya berjalan lancar dan sukses.

 

 

Saran

BATAN harus mengembangkan komunikasi dan network serta membuka diri kepada masyarkat tentang PLTN. Bagaimana PLTN aman dikelola dan digunakan apabila dikelola dengan baik.

 

 

 

 


 

Sumber Data

 

http://nasional.vivanews.com/news/read/97895-iaea_review_kesiapan_pltn_muria

http://humasbatam.com/page/41/?album_p=5

http://regional.kompas.com/read/2010/02/11/20312465/Warga.Balong.Tetap.Tolak.PLTN.Muria

http://tempe.wordpress.com/2007/08/13/ironi-pembangunan-pltn-muria/

http://www.batan.go.id/bkhh/index.php/humas/antarlembaga1.html

http://www.antara.co.id/view/?i=1239103391&c=TEK&s=

http://ekonomi.tvone.co.id/berita/view/29019/2009/12/03/pembangunan_pltn_muria_tetap_dilanjutkan/

http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1113567297